Anak Laki-laki, Pupus

Opini291 Dilihat

Siang itu, seorang anak laki-laki dengan wajah murung. Mata ku menatap berkali-kali kearahnya dengan penuh penasaran. aku hendak menyapanya “hay, siapa nama mu? kenapa berdiam diri di sini?”. Tak ada pandangan balik, tanpa suara, diam. Entah mendengar atau tidak, ia memilih mengacuhkan sapaan atas keberadaan ku. Berdiri, membersihkan debu jalan yang melekat pada celanya, membelakangi dan berjalan tanpa suara meninggalkan tempat duduknya, serta juga diri ku yang menunggu sapaan balik darinya.

“Ada apa dengan anak itu, kenapa tak menjawab sapaan ku. Kan aku menegurnya dengan baik-baik?” hati ku gusar penuh tanya. Seakan kepergiannya adalah magnet yang menarik, aku pun tak diam di tempat. Kuputuskan untuk mengejar. “Aku yakin dia tidak sedang baik-baik saja”.

“Hay.. tunggu. Kenapa kau tak menjawab sapaan ku?” bertanya, seakan diri ku memiliki hak penuh atas dirinya. Berjalan, mempercepat langkah, ia seakan ingin tak seorangpun mengganggunya. Egois ku berperan, membludak emosi ku atas tingkah lelaki yang baru ku sapa tadi. Hayyy,, berhenti!” ucapku dengan nada teriak.

“Kenapa? aku tak memiliki urusan apa-apa dan tak mau berurusan dengan mu, tolong jangan mengejarku”, sejenak ia berhenti sambil berkata. Lalu kembali melangkah pelan. “Hey kawan, kenapa pergi mu begitu saja tanpa kau gubris sapaan ku”, seakan dirinya adalah kontrol penuh ku, aku tegas berkata. “meninggalkan ku serta tidak menjawab pertanyaan ku?” kembali bertanya dengan kesal, egois ku kembali memerintah.

“kenapa mengejar? Ada apa dengan mu? Seingat ku, kau tak pernah berurusan dengan ku begitu juga sebaliknya, aku tak ada urusan dengan mu”, katanya dengan menghentikan langkah, membalikkan badan ke arah ku, melangkah menuju ke arah ku yang berposisi tak jauh dari tempat berdirinya dengan wajah lesuh, seakan terpotret penyesalan.

Iia sedang dalam masalah besar”, ucap ku dalam hati. psikologinya terserang penyakit, aku berkata pelan seakan ahli dalam meramal. Aku sigap, kehati-hatian berkata telah ku siapkan kalau saja dialog antara aku dan dirinya berlangsung bahkan untuk durasi yang cukup lama. “Ia tampaknya terluka”, kembali ucapku pelan dengan terus saja memandang wajahnya yang murung berjalan, mendekati diri ku. “Mungkin karena beratnya kecewa mendarat di hatinya”, ahhhh, kembali risau ku yang menebak-nebak kondisi dirinya.

“kenapa kau harus menegurku, menyapa dengan santun dan terus mengejar sedangkan aku tak memperdulikan mu?” bertubi pertanyaan, ia memberanikan diri. Tak menjawab langsung, saat itulah aku merancang-rancang, mengelak dari pertanyaannya karena pertanyaan ku belum mendapat jawaban darinya. “Ada apa dengan mu? Ego ku seakan tak mau kalah, aku justru kembali melontarkan pertanyaan. “Siapa nama mu?” seakan profesi ku adalah seorang penyelidik lepas, berlagak seperti detektif.

“Muskapi, seorang yang mengalami kekerasan sosial dan gangguan jiwa semenjak melihat dan mendengarkan ocehan pertanyaan dari mu”, jawabnya seakan risi dengan diri ku.
Dialog berjalan, seakan bertemu dua jiwa yang berlainan sisi, menyatu mencari keselarasan dan kesepahaman. Waktu tak mau jeda, leluasa aku dengan egois melontari dirinya dengan berbagai macam pertanyaan. “Di mana kamu tinggal? Dari mana asal mu? berapa usia mu?”, aku berbasah basi, seakan hendak mengakrabkan diri.

Di mana aku berada, di situlah aku tinggal. aku sendiri bingung dari mana asal ku, sebab setiap tempat adalah aku, alam itu aku ia menjawab. “Usia ku 21 tahun”, lanjutnya sembari memperhatikan alam sekitar dengan sesekali mendang penuh diri ku. Sungguh membingungkan sebagian jawaban atas lontaran pertanyaan ku.
Saat itu kondisi seakan mengakrabi kami yang mencoba saling mengakrabi. Ia kembali melanjutkan bercerita tentang kepanjangan nama nya itu, setelah panjang lebar ia bernarasi untuk namanya, aku mulai paham bahwa ternyata muskapi itu adalah nama lain dari musuh kapitalisme,

Sangat unik nama yang ia gunakan dalam sapaan keseharian hidupnya itu, sesekali aku menggurui nya dengan pertanyaan. “Kenapa harus demikian, bukankah itu adalah samara? Siapa nama asli mu? Aku ingin mengetahuinya”. Menarik panjang bibirnya, ia tersenyum seakan hendak menertawai pertanyaan ku itu. “itu adalah nama dalam setiap gerakan aksi mahasiswa yang melawan kaum pemodal dan, kaum borjuis sehingga di singkat Muskapi (musuh kapitalis)”, ia menjawab dengan melepas tawa kecil.

Seakan sebagai dunia ekonomi, kebutuhan dan keinginan, hasrat ku menganga lebar lagi dalam atas ke takpuasan dari semua yang ter’cakapi diantara kami. Seakan mengontrol penuh, aku kembali melontarkan pertanyaan yang kian di sukai untuk di jawab muskapi atas apa yang ia rasakan, “kenapa sesekali gelisah meski senyum selalu kau tampakkan? Akankah ada sesuatu yang membuat mu terluka?”, aku meng’seriusi suasana. Raut sedih menguasai, gelisah memimpin dirinya, menundukkan kepala, diam atas pertanyaan. Lama mendiamkan diri dan pertanyaan ku, “sepanjang saat kesedihan adalah diriku dan mungkin terluka di saat mengenal yang namanya cinta dan rasa. Rindu akan sang kekasih yang sering ku sapa dengan sapaan yangce sebagai namanya,

Yangce adalah perempuan yang sangat ku cintai, dia adalah tempat keluh kesah ku, dia adalah tempat ku mengadu dalam setiap langkah atas perjuangan, atas perjalanan cinta ku selama ini. perempuan ku, Yangce adalah yang mengajarkan ku tentang bagaimana mencintai dengan belas kasih, serta mencintai dengan rasa yang tulus”, ia menjawab dengan wajah yang tertampar kerasnya luka serta duka.

Akan tetapi kini aku terluka mungkin karena harapan yang terlalu tinggi hingga aku pun terjatuh dan tersungkur di bawah harapan ku sendiri, aku menyadari akan hal ini mungkin perempuan ku, yangce tidak bermaksud melukai hanya saja ego ku yang terlalu keras hingga ku pun menikam dada sendiri. Mungkin yangce tak bermaksud menyakiti, hanya saja harapan ini terlalu besar akhirnya diri selalu kusar dan meluka, aku yang terlalu percaya pada yangce bahwa bahagia ku akan tercipta, menghamba terhadap segala yang bernada Kira-kira aku kecewa bukan kepada yangce melainkan kepada diri ku yang menginginkan diri yangce akan selalu ada. Ia memberanikan diri untuk bercerita.

Maaf, aku tak bermaksud demikian. Tak usahlah untuk diteruskan jika itu menambah beban diri karena kembali mengingat”, aku mengelak, berusaha agar tak lagi menyesal dirinya karena bercerita, meskipun aku sendiri di hujanni banyak tanda tanya gara-gara penasaran. “Bakar Lah rokok mu dulu, mungkin tarikan lagi gumpalan asap yang terehembuskan mampu membawah keluar resah, gelisah lagi kesedihan yang menimpamu”.

Kembali ku menenangkan layaknya seorang bijak, seorang yang tak ada beban, tak bermasalah dalam hidup. “Sayangnya aku lupa bahwa hidup yangce bukan hanya tentang diri ku” ia memotong alur bicara ku, seakan tahu bahwa itu adalah upaya sugesti ku karena kesedihannya. Kepala ku bermuara segala duga-dugaan dengan kehadiran yangce, dia sebagai pawang yang kian menenangkannya, seberarti itu kah si perempuan yang tak tahu bersyukur itu?” empati dengan sedikit kesal ku kepada si Yance itu.

Sebisa upaya ku menahan diri untuk tak menampakkan kesedihan (ceritanya hampir membuatku meleleh air mata). Seperti menyusun skrip sinetron percintaan, aku terus bertanya mengejar kisah percintaannya. Sesekali tak peduli diri ku dengan kesedihannya, “bagaimana awal kau mengenalnya muskapi? Aku bertanya dengan nada pelan usai menarik rokok dari jepitan rapat bibir ku, gumpalan asap sedikit mengaburkan pandangan ke wajahnya.

Panjang, tak akan cukup kata untuk ku kisah kan kembali. Namun telah ku kisah kan hubungan itu dengan trotoar cinta. Di persimpangan kiri jalan tepat pada hari minggu, di situlah aku dan dia saling menyapa. Singkat sapaan waktu itu, benarlah bahwa waktu telah menjamin setiap manusia, kami kembali berjumpa di bumi para raja-raja, 5 Januari tahun lalu adalah hadiah dari waktu atas perasaan ku. Ku ungkapkan kebodohan ku kepada yangce, ia mulai berkisah.

kebodohan?, spontan aku menyambar. Ia kebodohan ku yang telah menaruh harap, membenihkan cinta, dan dia pun menerima dengan senang hati. Ia menjawab. Namun, lagi-lagi waktu adalah teka teki bagi manusia. Bersama, kami telah memulai dan menjalani cita dan cinta sebagaimana harap atas bahagia kami berdua mengukirnya, akan tetapi 17 Agustus ketika merah putih terkibar, aku mengsimbolkan itu dengan bendera putih, kami berdua kalah. Tidak tepatnya aku kalah”, dengan memandang lepas ke langit ia terus berkata seakan melihat harap yang digantungkan lewat doa-doa.

Aku tak menyesali itu, kembali tapi bukan kebodohan melainkan kegilaan ku akan perasaan, kami kembali melukis pelangi tepat 28 Oktober ketika orang-orang ber’eforia dengan perjuangan kaum muda, aku dan dirinya kembali menyatu. Dan momen itu ku kisah kan dengan cinta di bawah bendera persatuan, mungkin karena kuatnya cinta, pertengahan tahun ini aku menjadikannya sebagai tahun komedi.

Tak ada kebersamaan tanpa tawa, namun siapa sangka kegilaan berperasaan menjadi waras saat kesadaran ku menemukan diri bahwa tak pantas adalah yang sebenarnya. Tragedi kembali terjadi, kini aku dan dia kembali digubris luka, aku pun lemah dan tak berdaya sebab aku terlalu cinta, mencintai dia aku gunakan rasa serta keyakinan, tidak dengan logika yang nyatanya hanya sekedar permainan belaka, tanpa jeda ia terus saja berkata-kata.

Aku selalu memandanginya, sesekali melihat diri, akankah aku sanggup jika seperti itu? Liar aku bertanya. Aku akan terus mendambakannya, tak peduli bagaimana kebenaran akan bersidang tentang diri dan perasaan ku. Ohh,, Perempuan ku, sekalipun kita adalah diri yang luka namun kita adalah sepasang jiwa yang merindu dalam kenangan. Kita adalah tentang rasa yang berlumuran duka, aku harus kuat menghadapi kenyataan sebab bahagia adalah karunia dari luka dan duka. Jalan panjang dalam setiap langkah, kisah yang pernah terlukis pelangi adalah antara dua anak manusia yang kini jeda karena sadar yang menempati waktu.

Keabadian adalah cinta, akan ku rawat kisah ini, biarkan ia menjadi kenangan, sekalipun sebagai sebilah pisau yang akan membunuh ku”, berpesan ia pada rasa sambil berdiri. Tak lagi menatap, tak lagi pamit. Ia melangkah, berjalan pelan meninggalkan diri. Jauh,, jauh hingga tak lagi terlihat ditengah kerumunan.

Aku menghayati, mengilhami semua kisah orang asing yang baru ku kenal itu. “Akan kah aku akan seperti dia atau mungkin lebih? Semoga sejarah akan selalu adil bagi para pecinta”. Ucapku dalam hati. aku mencoba menempatkan diri sebagai orang yang sedang laporan akhir, “hidup tanpa cinta bukan lah hidup sebagaimana hidup tanpa perjuangan ialah kematian, cinta adalah tuhan. Dan cinta adalah cinta, serta perasaan tidaklah bertepi. Tapi, Kesimpulan ku atas romantika si Muskapi. Tak cukup itu, akankah setiap diri pernah terbakar habis oleh cinta? Kembali aku melamar perasaan menjadi Tanya.

 

Penulis : Ajim Umar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *