POSTTIMUR.com, JAILOLO – Universitas Khairun (Unkhair) memperkuat kapasitas pelaku usaha mikro dan kecil yang tergabung dalam Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Posi-Posi, Desa Guaemaadu, Kecamatan Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat, melalui pendampingan penyusunan laporan keuangan sederhana berbasis teknologi.Jumat, (9/10)
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang dilaksanakan pada 7 September 2026 ini mengusung tema “Peningkatan Kesiapan Usaha Kecil melalui Pendampingan Penyusunan Laporan Keuangan Sederhana”. Program tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan pelaku usaha dalam mengelola keuangan secara tertib, sistematis, dan berkelanjutan sebagai salah satu fondasi pengembangan usaha.
Tim PkM Universitas Khairun dipimpin Hartaty Hadady, akademisi yang memiliki bidang keilmuan manajemen investasi. Ia didampingi dua anggota tim, yakni Nurdin dari bidang akuntansi dan Suratno Amiro yang memiliki latar belakang magister manajemen keuangan untuk UMKM.
Kolaborasi akademisi dari bidang akuntansi dan manajemen keuangan ini dirancang untuk memberikan pemahaman yang komprehensif kepada pelaku usaha kecil. Materi disampaikan dengan pendekatan sederhana dan praktis agar peserta dapat memahami pentingnya pencatatan keuangan serta menerapkannya sesuai kebutuhan usaha masing-masing.
Kedatangan tim disambut Sekretaris BUMDes Posi-Posi, Amirudin M. Yamin, S.E. Pengurus BUMDes turut mendukung pelaksanaan kegiatan dengan membantu mengoordinasikan para pelaku usaha yang menjadi peserta pendampingan.
Dalam kegiatan tersebut, sekitar 10 pelaku usaha kecil mendapatkan pembekalan mengenai pencatatan transaksi keuangan, pemisahan keuangan usaha dan rumah tangga, pengenalan struktur biaya, serta penyusunan laporan keuangan sederhana.
Tim menekankan bahwa pengelolaan keuangan yang baik merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan usaha. Tanpa pencatatan yang memadai, pelaku usaha akan kesulitan mengetahui pendapatan, menghitung keuntungan, mengidentifikasi biaya operasional, hingga mengevaluasi perkembangan bisnisnya.
Karena itu, pendampingan tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai tahapan pencatatan keuangan, mulai dari pembelian bahan baku dan pengeluaran operasional, pencatatan transaksi harian, hingga penyusunan laporan keuangan.
Transfer Teknologi Keuangan Berbasis Excel
Salah satu aspek penting dalam kegiatan ini adalah transfer teknologi pencatatan keuangan kepada mitra. Tim PkM memperkenalkan perangkat bantu pengolahan data keuangan berbasis Microsoft Excel dengan dukungan Visual Basic, disertai modul penyusunan laporan keuangan sederhana.
Perangkat tersebut dirancang untuk membantu pelaku usaha mencatat transaksi dan mengolah data keuangan secara lebih praktis dan terstruktur. Melalui pemanfaatan teknologi sederhana, peserta diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada pencatatan manual yang berisiko menimbulkan kesalahan atau kehilangan informasi transaksi.
Modul yang diberikan juga membantu peserta memahami alur pencatatan, mulai dari transaksi pembelian bahan baku, pengelompokan pendapatan dan biaya, hingga penyusunan laporan keuangan sederhana.
Pemanfaatan teknologi ini diharapkan menjadi langkah awal bagi pelaku usaha kecil untuk membangun kebiasaan pengelolaan keuangan yang lebih modern, tanpa harus bergantung pada sistem administrasi yang rumit.
Kemampuan Pengelolaan Keuangan Menunjukkan Peningkatan
Berdasarkan laporan perkembangan kegiatan PkM, program pendampingan tersebut menunjukkan peningkatan kemampuan mitra dalam beberapa aspek utama pengelolaan keuangan.
Pemahaman mengenai pemisahan kas usaha dan kas pribadi meningkat dari 15 persen menjadi 90 persen. Keterampilan pencatatan transaksi harian meningkat dari 10 persen menjadi 85 persen. Sementara itu, kemampuan menyusun laporan laba rugi sederhana meningkat dari 0 persen menjadi 80 persen berdasarkan hasil evaluasi yang dilaporkan tim.
Capaian tersebut memperlihatkan perkembangan positif dalam pemahaman peserta terhadap pentingnya administrasi keuangan bagi keberlangsungan usaha.
Meski demikian, keberhasilan pendampingan tidak hanya ditentukan oleh peningkatan pemahaman selama kegiatan berlangsung. Konsistensi pelaku usaha dalam menerapkan pencatatan keuangan pada aktivitas bisnis sehari-hari juga menjadi faktor penting.
Oleh karena itu, tim pelaksana melanjutkan pendampingan secara berkala untuk membantu peserta mengatasi kendala dalam pencatatan transaksi dan penyusunan laporan keuangan.
Pendampingan berkelanjutan tersebut diharapkan dapat membentuk kebiasaan pengelolaan keuangan yang lebih disiplin sekaligus membantu pelaku usaha memahami kondisi keuangannya secara objektif.
Laporan Keuangan sebagai Modal Pengembangan Usaha
Bagi pelaku usaha kecil yang tergabung dalam BUMDes Posi-Posi, kemampuan menyusun laporan keuangan sederhana bukan sekadar kebutuhan administrasi, melainkan juga modal penting untuk meningkatkan kualitas pengelolaan bisnis.
Informasi keuangan yang tertata dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi keuntungan, mengendalikan pengeluaran, merencanakan kebutuhan modal, serta menentukan langkah pengembangan usaha berdasarkan kondisi keuangan yang lebih terukur.
Selain itu, laporan keuangan yang tersusun dengan baik dapat menjadi salah satu dokumen pendukung ketika pelaku usaha ingin mengakses pembiayaan dari lembaga keuangan atau menjajaki peluang investasi untuk memperluas skala bisnis.
Dengan demikian, penguatan literasi keuangan dan pemanfaatan teknologi menjadi bagian penting dalam mempersiapkan UMKM agar lebih siap berkembang dan memiliki tata kelola usaha yang semakin baik.
Melalui kegiatan ini, Universitas Khairun menegaskan peran perguruan tinggi tidak hanya dalam pendidikan dan penelitian, tetapi juga dalam penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Pendampingan di Desa Guaemaadu diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi penguatan usaha mikro dan kecil di Kabupaten Halmahera Barat. Sinergi antara perguruan tinggi, pengurus BUMDes, dan pelaku usaha menjadi salah satu langkah untuk mendorong UMKM yang lebih mandiri, tertib secara keuangan, dan siap menghadapi peluang pengembangan usaha pada masa mendatang.
