Oleh: Ahmad Sujudi
Mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Khairun
Di tengah derasnya arus modernisasi pedesaan, masyarakat Jawa transmigrasi di Desa Sidomulyo, Kecamatan Wasile Timur, Kabupaten Halmahera Timur, masih mempertahankan satu tradisi lama yang sarat makna sosial: rewang panen padi. Tradisi ini bukan sekadar aktivitas membantu memanen sawah secara bergantian, melainkan simbol kuat solidaritas sosial, gotong royong, dan ketahanan budaya masyarakat desa.
Di banyak wilayah, nilai-nilai kolektif perlahan tergerus oleh individualisme dan orientasi ekonomi modern. Hubungan sosial semakin dibangun atas dasar transaksi dan keuntungan material. Namun, di Desa Sidomulyo, tradisi rewang tetap hidup sebagai bagian dari identitas sosial masyarakat transmigrasi Jawa yang telah lama menetap di wilayah tersebut.
Tradisi ini berlangsung sederhana, tetapi memiliki makna yang mendalam. Ketika musim panen tiba, masyarakat membentuk kelompok kecil untuk membantu proses panen secara bergantian dari sawah satu warga ke sawah warga lainnya. Tidak ada sistem upah dalam bentuk uang. Pemilik sawah hanya menyediakan makanan dan minuman sebagai bentuk penghormatan, kebersamaan, dan rasa terima kasih kepada para anggota kelompok.
Fenomena ini menjadi menarik di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis. Saat banyak hubungan sosial dibangun atas dasar nilai ekonomi, masyarakat Desa Sidomulyo justru masih mempertahankan budaya kerja sama tradisional. Rewang menunjukkan bahwa gotong royong bukan sekadar mekanisme sosial, tetapi juga kekuatan budaya yang menjaga harmoni kehidupan masyarakat desa.
Dalam kehidupan masyarakat agraris, panen padi bukan hanya kegiatan ekonomi, melainkan ruang interaksi sosial. Saat proses panen berlangsung, masyarakat berkumpul, bekerja bersama, makan bersama, dan saling membantu menyelesaikan pekerjaan anggota kelompok lainnya. Interaksi semacam ini menciptakan hubungan sosial yang erat antarwarga. Tidak heran jika masyarakat pedesaan yang masih mempertahankan budaya gotong royong umumnya memiliki hubungan sosial yang lebih harmonis dibandingkan masyarakat perkotaan yang cenderung individualistik.
Selain memiliki nilai sosial, tradisi rewang juga menyimpan nilai ekonomi yang penting. Dengan sistem kerja sama bergantian, petani dapat mengurangi biaya tenaga kerja saat musim panen tiba. Mereka tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk membayar pekerja karena pekerjaan dilakukan secara sukarela oleh anggota kelompok. Dalam kondisi ekonomi pedesaan yang sering menghadapi keterbatasan modal, budaya seperti ini menjadi bentuk ketahanan sosial sekaligus strategi ekonomi masyarakat.
Namun demikian, keberadaan tradisi rewang kini mulai menghadapi tantangan serius akibat modernisasi. Penggunaan mesin panen modern dan meningkatnya tenaga kerja berbayar perlahan mengurangi intensitas gotong royong tradisional. Masyarakat modern cenderung mengutamakan efisiensi waktu dan keuntungan ekonomi dibandingkan proses sosial yang panjang seperti rewang. Akibatnya, hubungan sosial masyarakat perlahan mengalami perubahan.
Modernisasi memang tidak dapat dihindari. Teknologi pertanian tetap diperlukan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi kerja petani. Akan tetapi, modernisasi seharusnya tidak menghilangkan nilai-nilai sosial yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat desa. Persoalan utamanya bukan pada penggunaan teknologi, melainkan ketika modernisasi menyebabkan lunturnya solidaritas sosial dan rasa kebersamaan masyarakat.
Dalam konteks ini, tradisi rewang justru memiliki relevansi yang kuat dengan kondisi masyarakat saat ini. Ketika kehidupan modern menghadapi krisis sosial berupa menurunnya kepedulian dan meningkatnya individualisme, budaya gotong royong dapat menjadi solusi untuk memperkuat hubungan sosial masyarakat. Tradisi rewang mengajarkan bahwa kehidupan yang sehat tidak hanya dibangun melalui kemajuan ekonomi, tetapi juga melalui rasa saling membantu dan kebersamaan.
Karena itu, pelestarian tradisi rewang perlu mendapat perhatian serius, baik dari masyarakat maupun pemerintah desa. Generasi muda perlu dilibatkan secara aktif dalam berbagai kegiatan gotong royong agar nilai kebersamaan tetap diwariskan. Pemerintah desa juga dapat mendukung pelestarian budaya lokal melalui kegiatan sosial, festival budaya, maupun pembinaan masyarakat berbasis kearifan lokal.
Pada akhirnya, rewang panen padi di Desa Sidomulyo mengajarkan bahwa pembangunan tidak selalu tentang teknologi dan pertumbuhan ekonomi. Di balik hamparan sawah dan aktivitas panen sederhana, tersimpan nilai kemanusiaan yang justru semakin mahal di era modern: saling membantu tanpa pamrih, menjaga kebersamaan, dan merawat solidaritas sosial.
Di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar efisiensi dan keuntungan ekonomi, masyarakat Desa Sidomulyo memberikan pelajaran penting bahwa kebersamaan dan solidaritas sosial tetap memiliki tempat dalam kehidupan modern. Tradisi rewang membuktikan bahwa kemajuan zaman seharusnya tidak mematikan nilai kemanusiaan, melainkan memperkuatnya.










