Jaga Warisan Leluhur, Rinto Djalali dan Petrus Tjola Kenalkan Adat Wayoli–Tabaru kepada Pelajar

HALBAR, POSTTIMUR.COM — Menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal sejak bangku sekolah menjadi salah satu langkah penting dalam menjaga identitas dan warisan leluhur. Semangat tersebut terlihat dalam kegiatan pembelajaran kokurikuler di SMA Kristen Dian Halmahera, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, yang menghadirkan Ketua Adat Wayoli, Rinto Djalali, dan Petrus Tjola dari Dewan Adat Tabaru sebagai narasumber.
Kegiatan yang berlangsung pada 9 September 2026, pukul 09.00 WIT, ini bertujuan memperkenalkan eksistensi budaya Wayoli dan Tabaru kepada para pelajar sekaligus menumbuhkan kesadaran generasi muda akan pentingnya menjaga adat istiadat di tengah perkembangan zaman.
Dalam pemaparannya, Rinto Djalali menegaskan bahwa budaya Wayoli bukan sekadar tradisi peninggalan masa lalu, melainkan bagian penting dari identitas dan jati diri masyarakat yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Budaya Wayoli merupakan bagian dari identitas dan jati diri masyarakat yang harus terus dijaga. Kita tidak boleh membiarkan perkembangan zaman dan teknologi membuat generasi muda melupakan adat istiadat serta nilai-nilai yang diwariskan oleh leluhur,” ujar Rinto.
Ia juga menekankan bahwa kemajuan teknologi tidak seharusnya menjadi ancaman bagi kelestarian budaya. Sebaliknya, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperkenalkan dan mendokumentasikan kebudayaan lokal agar tetap dikenal oleh generasi sekarang maupun yang akan datang.
“Justru teknologi harus dimanfaatkan untuk memperkenalkan dan melestarikan budaya Wayoli agar tetap dikenal oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan datang,” tambahnya.
Sementara itu, Petrus Tjola menyoroti pentingnya menjaga eksistensi budaya Tabaru melalui pengenalan adat istiadat secara berkelanjutan kepada generasi muda.
Menurutnya, budaya tidak cukup hanya dikenang sebagai warisan leluhur, tetapi harus dipahami, dihormati, dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Eksistensi budaya Tabaru harus terus dijaga melalui pengenalan adat istiadat kepada generasi muda. Budaya tidak cukup hanya dikenang sebagai warisan leluhur, tetapi harus dipahami, dihormati, dan diwariskan melalui kehidupan sehari-hari,” ungkap Petrus.
Ia menambahkan, pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari keluarga, lembaga pendidikan, tokoh adat, hingga pemerintah, agar nilai-nilai tradisional tetap hidup dan tidak kehilangan identitasnya di tengah perubahan zaman.
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh guru-guru mata pelajaran Sejarah, Ekonomi, dan Sosiologi sebagai bagian dari pembelajaran yang memperkenalkan keragaman budaya serta membangun pemahaman pelajar terhadap identitas masyarakat di Halmahera Barat.
Kehadiran tokoh adat di lingkungan sekolah memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengenal budaya secara langsung dari pihak yang memahami sejarah, tradisi, dan nilai-nilai adat masyarakat. Dengan demikian, pembelajaran kebudayaan tidak hanya berhenti pada materi di ruang kelas, tetapi juga membuka ruang dialog antara generasi muda dan para penjaga tradisi.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan arus informasi, upaya pelestarian budaya menghadapi tantangan tersendiri. Generasi muda perlu memiliki pemahaman yang kuat terhadap akar budaya agar tidak kehilangan identitas di tengah perubahan sosial.
Namun, pelestarian budaya bukan hanya menjadi tanggung jawab tokoh adat. Keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah daerah memiliki peran penting dalam memastikan pengetahuan mengenai adat istiadat tetap diwariskan secara berkelanjutan.
Selain melalui pembelajaran, upaya tersebut dapat dilakukan dengan mendokumentasikan tradisi, menggelar diskusi kebudayaan, memperkenalkan sejarah lokal, serta melibatkan pelajar dalam kegiatan adat dan kebudayaan masyarakat.
Penguatan kelembagaan adat dan perhatian terhadap benda-benda peninggalan yang memiliki nilai sejarah juga menjadi bagian penting dari upaya menjaga warisan leluhur. Pendataan, inventarisasi, kajian, dan proses penetapan sebagai cagar budaya perlu dilakukan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Melalui pengenalan budaya Wayoli dan Tabaru di SMA Kristen Dian Halmahera, diharapkan tumbuh kesadaran bahwa adat istiadat bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan kekayaan identitas yang perlu dipahami, dihormati, dan dijaga bersama.
Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi dapat menjadi awal dari pembelajaran kebudayaan yang berkelanjutan, sehingga generasi muda Halmahera Barat mampu mengenal akar budayanya sekaligus mewariskannya kepada generasi mendatang.
Reporter: Witho
