Sitinur Ubaid, Dari Bidan Desa hingga Menggerakkan Perjuangan Melawan Stunting di Halmahera Timur

Catatan: M. Andi Haliun, SS
(Pengurus TP-PKK Kabupaten Halmahera Timur Periode 2020–2025)
Kado Hari Kesatuan Gerak PKK ke-54: Menelusuri perjalanan Ny. Hj. Siti Nur Ubaid, perempuan yang tumbuh dari pengabdian, merawat kepedulian, dan menempatkan kepentingan masyarakat sebagai bagian penting dari tugasnya.
Tidak semua pengabdian dimulai dari ruang berpendingin udara, meja kerja yang nyaman, atau fasilitas pemerintahan yang lengkap. Sebagian justru tumbuh dari tempat-tempat yang jauh dari keramaian, ketika listrik belum tersedia, teknologi belum menjangkau kehidupan masyarakat, dan perjalanan menuju desa lain hanya bisa ditempuh dengan perahu dayung. Dari ruang pengabdian seperti itulah, kisah Ny. Hj. Sitinur Ubaid menemukan maknanya.
Perempuan kelahiran Soagimalaha ini dikenal sebagai istri Bupati Halmahera Timur sekaligus Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kabupaten Halmahera Timur. Di balik peran tersebut, ada perjalanan panjang yang tidak bisa dilepaskan dari pengalaman awalnya sebagai bidan desa di wilayah terpencil, ketika keahlian, keberanian, dan kepedulian menjadi bekal utama untuk melayani masyarakat.
Sebelum dikenal dalam berbagai kegiatan pemberdayaan keluarga, Hj. Iti, sapaan kami sehari-hari, telah lebih dahulu berhadapan dengan kenyataan kehidupan masyarakat pelosok. Sebagai bidan desa, ia menjalankan tugas di tengah keterbatasan fasilitas. Tidak ada listrik di sejumlah tempat tugasnya, sementara teknologi yang kini memudahkan komunikasi belum dapat diandalkan. Dalam keadaan seperti itu, pengetahuan dan keterampilan sebagai tenaga kesehatan menjadi tumpuan untuk menjalankan tanggung jawabnya.
Pengalaman tersebut bukan sekadar bagian dari riwayat pekerjaan. Ia menjadi bagian penting yang membentuk cara pandangnya terhadap masyarakat. Di wilayah terpencil, pelayanan tidak selalu dapat menunggu keadaan menjadi mudah. Ada kebutuhan yang harus segera dijawab, ada warga yang memerlukan pertolongan, dan ada jarak geografis yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan instruksi dari kejauhan.
Bagi kami yang pernah berada dalam lingkungan kerja TP-PKK Kabupaten Halmahera Timur pada periode 2020–2025, pengalaman semacam itu membantu menjelaskan mengapa kedekatan dengan masyarakat menjadi hal penting dalam melihat sosok Hj. Iti. Ia tidak hanya mengenal masyarakat melalui agenda organisasi, tetapi juga memiliki pengalaman bekerja di tengah keterbatasan yang benar-benar dirasakan warga.
Menembus Jarak, Mendekati Masyarakat
Halmahera Timur menyimpan tantangan geografis yang tidak sederhana. Di sejumlah wilayah, jarak antardesa dan keterbatasan akses transportasi menjadi hambatan tersendiri. Bahkan, dalam kondisi tertentu, perjalanan untuk menjangkau masyarakat harus dilakukan menggunakan perahu dayung karena belum tersedia jalan yang menghubungkan desa-desa tersebut.
Dalam situasi mendesak, perjalanan seperti itu bukan sekadar urusan mobilitas. Ada waktu yang harus diperhitungkan, tenaga yang harus dikerahkan, dan keselamatan yang harus dijaga. Namun, bagi mereka yang bekerja untuk kepentingan masyarakat, keterbatasan akses tidak boleh membuat kebutuhan warga kehilangan perhatian.
Di tengah kenyataan itulah kesederhanaan menjadi bagian penting dari kepemimpinan. Bukan tentang seberapa jauh seseorang dapat berbicara mengenai masyarakat, melainkan sejauh mana ia bersedia memahami kesulitan yang mereka hadapi.
Orang-orang yang mengenalnya menggambarkan Hj. Iti sebagai sosok yang sederhana dan komunikatif. Ia dinilai mampu membangun komunikasi dengan orang-orang di sekitarnya serta menempatkan kepentingan masyarakat sebagai bagian penting dalam menjalankan tanggung jawabnya.
Dalam kerja sosial, kemampuan berkomunikasi bukan perkara kecil. Kader di tingkat desa membutuhkan ruang untuk menyampaikan persoalan, masyarakat perlu didengar, dan program membutuhkan kerja sama agar dapat berjalan. Pendekatan yang terbuka memungkinkan persoalan di lapangan dibicarakan dengan lebih dekat, tanpa membuat jarak antara pemimpin dan masyarakat semakin lebar.
Kesederhanaan, dalam konteks ini, bukan sekadar penampilan atau gaya hidup. Ia menemukan maknanya ketika seorang pemimpin bersedia mendengar keluhan, memahami keterbatasan, dan memberikan perhatian terhadap kebutuhan masyarakat yang kerap tidak terdengar dari pusat pemerintahan.
Stunting, Perjuangan yang Dimulai dari Keluarga
Salah satu agenda penting yang menjadi perhatian TP-PKK Halmahera Timur adalah penanganan stunting. Persoalan ini tidak cukup dipahami sebagai masalah pertumbuhan anak semata. Stunting berkaitan erat dengan kesehatan ibu, pemenuhan gizi, pola pengasuhan, sanitasi, akses pelayanan kesehatan, serta kondisi sosial ekonomi keluarga.
Di wilayah dengan akses antardesa yang menantang, upaya pencegahan stunting membutuhkan pendekatan yang konsisten dan berkelanjutan. Edukasi gizi harus menjangkau keluarga, pemantauan pertumbuhan anak perlu diperkuat, dan ibu hamil maupun balita harus memperoleh perhatian sesuai kebutuhan mereka.
Melalui gerakan PKK di 10 kecamatan dan 102 desa, terdapat ruang besar untuk memperluas edukasi keluarga, menguatkan peran kader, serta membangun kerja bersama dengan posyandu, tenaga kesehatan, pemerintah desa, dan perangkat daerah terkait.
Tantangannya bukan hanya menyampaikan pentingnya makanan bergizi kepada masyarakat. Keluarga juga perlu didukung agar mampu memenuhi kebutuhan gizi sesuai kemampuan dan potensi lokal. Karena itu, edukasi perlu berjalan seiring dengan pendampingan, pemanfaatan pangan setempat, pemantauan tumbuh kembang anak, dan penguatan akses terhadap layanan kesehatan.
Di sinilah pengalaman Hj. Iti sebagai mantan bidan desa menjadi bagian penting dari narasi pengabdiannya. Ia pernah berada di lingkungan pelayanan kesehatan yang berhadapan langsung dengan keterbatasan. Pengalaman tersebut menjadi bekal yang relevan untuk memahami bahwa keberhasilan program kesehatan keluarga membutuhkan lebih dari sekadar instruksi.
Diperlukan kader yang aktif, komunikasi yang terbuka, koordinasi lintas sektor, dan kesediaan untuk mendatangi masyarakat. Sebab, keluarga yang tinggal jauh dari pusat kecamatan memiliki kebutuhan yang sama untuk memperoleh perhatian, meskipun akses menuju tempat mereka tidak selalu mudah.
Penanganan stunting juga tidak dapat dibebankan kepada PKK semata. Pemerintah daerah, tenaga kesehatan, pemerintah desa, keluarga, dan masyarakat harus bergerak bersama. Peran TP-PKK menjadi strategis dalam membangun kesadaran keluarga sekaligus menjembatani program agar lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ukuran keberhasilan pada akhirnya bukan sekadar jumlah sosialisasi atau kegiatan yang tercatat, melainkan perubahan yang dapat dirasakan: meningkatnya kesadaran keluarga terhadap gizi, terpantau dengan baiknya pertumbuhan anak, serta semakin mudahnya masyarakat mengakses pendampingan dan pelayanan yang diperlukan.
Melalui Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting), bisa membantu bagi anak dan keluarga, agar bagi yang membutuhkan dapat terjangkau lebih banyak penerima. Dukungan itu dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing keluarga, terutama dalam pemenuhan gizi dan pendampingan.
Sitinur juga memiliki peran strategis untuk menggerakkan kader PKK di kecamatan dan desa. Edukasi mengenai makanan bergizi seimbang, pola pengasuhan, serta pemantauan pertumbuhan anak menjadi bagian penting dari upaya pencegahan stunting.
Genting merupakan gerakan kolaboratif yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya. Program ini mendorong keterlibatan orang tua asuh untuk membantu keluarga yang berisiko mengalami stunting.
Dengan harapan gerakan tersebut tumbuh menjadi aksi bersama di Halmahera Timur. Dengan keterlibatan lebih banyak pihak, pemenuhan kebutuhan anak dapat menjadi tanggung jawab bersama, bukan semata-mata beban keluarga.
Dari Pengalaman Pribadi Menuju Pengabdian Sosial
Perjalanan dari bidan desa di daerah terpencil hingga menjadi Ketua TP-PKK memperlihatkan satu benang merah: pengabdian yang berangkat dari kedekatan dengan masyarakat.
Profesi bidan menempatkannya pada kebutuhan kesehatan ibu dan anak secara langsung. Sementara itu, amanah di TP-PKK memperluas ruang pengabdian ke berbagai aspek kehidupan keluarga, mulai dari kesehatan, pendidikan, pengasuhan, hingga pemberdayaan ekonomi.
Dua ruang pengabdian tersebut memiliki titik temu yang kuat. Keduanya menuntut kesabaran, kemampuan berkomunikasi, dan kepekaan terhadap persoalan yang dialami masyarakat. Keduanya juga mengajarkan bahwa perubahan tidak selalu berlangsung cepat, tetapi membutuhkan pendampingan dan kerja yang terus-menerus.
Dalam pandangan orang-orang yang dekat dengannya, nilai kesederhanaan dan komunikasi menjadi karakter yang patut diperhatikan. Namun, karakter tersebut akan memperoleh makna yang lebih luas ketika diterjemahkan menjadi kerja organisasi yang terukur, program yang berkelanjutan, dan manfaat yang dapat dirasakan keluarga hingga ke pelosok desa.
Sebab, kepemimpinan dalam gerakan pemberdayaan bukan hanya tentang menjadi wajah sebuah organisasi. Lebih dari itu, ia merupakan tanggung jawab untuk menggerakkan banyak orang agar memiliki tujuan yang sama dan memastikan masyarakat tidak tertinggal karena keadaan geografis maupun keterbatasan akses.
Kado Pengabdian untuk HKG PKK ke-54
Peringatan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-54 menjadi momentum untuk merefleksikan kembali arti gerakan pemberdayaan keluarga. Bagi Halmahera Timur, momentum ini memiliki makna tersendiri ketika kabupaten tersebut dipercaya menjadi tuan rumah kegiatan HKG tingkat Provinsi Maluku Utara.
Kesempatan menjadi tuan rumah bukan hanya berkaitan dengan penyelenggaraan acara. Momentum ini juga dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan kerja kader, memperkuat koordinasi, dan menunjukkan bagaimana gerakan PKK berupaya menjawab tantangan keluarga di wilayah dengan kondisi geografis yang beragam.
Di balik kegiatan dan pertemuan resmi, ada kerja panjang para kader di desa-desa. Mereka berhadapan dengan keluarga, mendampingi kegiatan masyarakat, menyampaikan edukasi, dan menjadi penghubung antara kebutuhan warga dengan program pemberdayaan.
Peran Ketua TP-PKK menjadi penting untuk menjaga semangat tersebut, memperkuat kapasitas kader, serta mendorong agar program tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Terlebih dalam penanganan stunting, kesinambungan kerja menjadi kebutuhan utama karena kesehatan dan pertumbuhan anak tidak dapat menunggu sampai sebuah agenda peringatan selesai dilaksanakan.
Bagi Hj. Iti, perjalanan pengabdian dari pelayanan kesehatan di daerah terpencil menuju gerakan pemberdayaan keluarga merupakan bagian dari kisah yang layak dikenang. Bukan karena jabatan yang melekat, melainkan karena pengalaman yang mengajarkan arti keterbatasan dan pentingnya kehadiran bagi masyarakat.
Sebagai seseorang yang pernah menjadi bagian dari kepengurusan TP-PKK, saya, M. Andi Haliun, memandang perjalanan Hj. Iti sebagai pengingat bahwa pengabdian memiliki banyak bentuk. Ada pengabdian yang terlihat di panggung kegiatan resmi, tetapi ada pula yang tumbuh dalam perjalanan panjang menuju desa, di tengah keterbatasan fasilitas, dan melalui upaya memahami kebutuhan keluarga dari dekat. Pengalaman sebagai bidan desa memberikan konteks penting untuk membaca perjalanan tersebut, tanpa mengabaikan bahwa setiap program tetap harus diukur melalui manfaat nyata yang dirasakan masyarakat.
Tulisan ini saya persembahkan sebagai kado dalam peringatan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-54 Tahun 2026, dengan Kabupaten Halmahera Timur sebagai tuan rumah peringatan tingkat Provinsi Maluku Utara. Lebih dari sekadar ucapan selamat, tulisan ini merupakan penghargaan terhadap perjalanan pengabdian perempuan yang pernah bekerja di tengah keterbatasan dan kemudian memikul tanggung jawab pemberdayaan keluarga dalam lingkup yang lebih luas.
Pada akhirnya, ukuran pengabdian bukan semata-mata jabatan yang pernah disandang atau banyaknya kegiatan yang diselenggarakan. Ukurannya juga terletak pada seberapa jauh masyarakat merasa didengar, seberapa nyata keluarga memperoleh manfaat, dan seberapa kuat semangat pelayanan terus dijaga. Dari Maba hingga pelosok Halmahera Timur, perjalanan Hj. Iti mengingatkan kita bahwa pembangunan keluarga membutuhkan lebih dari sekadar program: ia membutuhkan kepedulian, keberanian untuk hadir, dan kesediaan untuk terus bekerja bersama masyarakat.
Penghargaan paling bermakna bagi seorang penggerak PKK bukan hanya tepuk tangan dalam sebuah perayaan. Penghargaan itu hadir ketika keluarga semakin memahami pentingnya kesehatan, anak-anak memperoleh perhatian yang lebih baik, perempuan memiliki ruang untuk berkembang, dan masyarakat di desa terpencil merasa bahwa mereka tidak berjalan sendirian.
Di Hari Kesatuan Gerak PKK ke-54 Tahun 2026, kisah Hj. Iti menjadi pengingat bahwa pengabdian perempuan dapat tumbuh dari tempat yang sederhana, ditempa oleh keterbatasan, dan menemukan maknanya ketika kepentingan masyarakat tetap menjadi tujuan utama.
Sebab, pembangunan keluarga tidak hanya dimulai dari program besar. Ia juga dimulai dari keberanian menembus jarak, kesediaan mendengar, dan ketulusan untuk hadir ketika masyarakat membutuhkan.
Akhir kata, dari desa terpencil, pengabdian itu berlanjut. Dari keluarga, perubahan itu diharapkan tumbuh. Dan dari Halmahera Timur, semangat pemberdayaan keluarga menemukan ruang untuk terus bergerak.
Salam Limabot Fayfiye.

