Oleh: Alfian Ramli
Mahasiswa Program Studi Manajemen, Universitas Khairun Ternate
Provinsi Maluku Utara memasuki babak baru dalam sejarah pembangunannya ketika Sherly Tjoanda resmi menjabat sebagai Gubernur pada Februari 2025. Sosok perempuan muda pertama yang memimpin provinsi ini hadir di tengah tantangan besar sekaligus peluang luar biasa: bagaimana mengelola kekayaan sumber daya alam secara berkelanjutan, sambil menjawab tuntutan pembangunan inklusif dan berkeadilan sosial.
Perekonomian Maluku Utara selama ini bertumpu pada sektor primer seperti pertanian, perikanan, kehutanan, dan pertambangan. Komoditas seperti tuna, udang, dan lobster menjadi andalan ekspor, sementara perut bumi Halmahera menyimpan cadangan nikel dan emas yang menarik perhatian investor global. Namun, kekayaan ini belum sepenuhnya berdampak pada kesejahteraan masyarakat di seluruh wilayah—terutama di pulau-pulau kecil yang masih terkendala akses, infrastruktur, dan pasar.
Kepemimpinan Sherly Tjoanda melanjutkan tren pertumbuhan ekonomi tinggi yang sudah dicapai Maluku Utara dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun terjadi perlambatan dari angka luar biasa 27% di tahun 2024 menjadi proyeksi 13% pada 2026, Maluku Utara tetap menjadi “bintang” pertumbuhan ekonomi nasional—bahkan dunia.
Namun, Sherly tidak sekadar mengejar angka pertumbuhan. Ia membawa semangat transformasi struktural dengan menyeimbangkan antara industrialisasi, kesejahteraan sosial, dan pelestarian lingkungan. Pendekatannya kolaboratif, progresif, dan memberi ruang bagi masyarakat adat serta kelompok marjinal untuk terlibat dalam proses pembangunan.
Ada beberapa program strategis yang menjadi andalan pemerintahan Sherly:
- Hilirisasi dan Industri Baterai EV
Dengan menjadikan Halmahera Timur sebagai pusat industri baterai kendaraan listrik (EV), Maluku Utara tidak hanya mengekspor bahan mentah tetapi juga mengembangkan ekosistem industri yang bernilai tambah. Kehadiran investor dari Tiongkok dan Korea Selatan menunjukkan tingginya kepercayaan global terhadap potensi daerah ini. - Swasembada Pangan 2030
Program ambisius ini menunjukkan bahwa Sherly memahami pentingnya kemandirian pangan sebagai dasar ketahanan ekonomi. Revitalisasi irigasi, distribusi pupuk bersubsidi, dan pelatihan petani menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam mendorong produksi lokal. - 1000 UMKM Go Digital
Melalui digitalisasi dan pendampingan usaha, pelaku UMKM—terutama perempuan dan pemuda—didorong untuk naik kelas. Ini bukan hanya soal bisnis, tetapi juga strategi pemerataan ekonomi agar tidak semua masyarakat bergantung pada sektor tambang. - Pendidikan Gratis Berkualitas
Investasi terbesar Sherly sesungguhnya ada pada pembangunan manusia. Dengan menggratiskan pendidikan dari SD hingga SMA dan memperkenalkan kurikulum berbasis kewirausahaan, digitalisasi, dan lingkungan hidup, ia sedang menyiapkan generasi unggul untuk masa depan Maluku Utara.
Tentu saja, ekspansi industri tambang yang masif tidak luput dari kritik. Berbagai organisasi lingkungan telah menyoroti dampaknya terhadap ekosistem laut, abrasi pulau kecil, dan hak masyarakat adat. Respon Sherly berupa pembentukan Tim Audit Lingkungan, reklamasi bekas tambang, dan keterlibatan masyarakat dalam pengawasan menunjukkan kesadarannya akan pentingnya keseimbangan antara ekonomi dan ekologi.
Sherly juga aktif membuka jaringan antarprovinsi dan internasional, dari kerja sama dengan Jawa Tengah hingga penguatan ekspor ke Jepang dan Timur Tengah. Langkah ini penting agar Maluku Utara tidak hanya tumbuh ke dalam, tetapi juga ke luar—menjadi bagian dari rantai nilai global.
Sherly Tjoanda membawa angin segar bagi pembangunan Maluku Utara. Kepemimpinannya mengusung lima arah utama: transformasi industri, ketahanan pangan, pendidikan berkualitas, pemberdayaan UMKM, dan pelestarian lingkungan. Tantangannya memang tidak kecil, tetapi langkah-langkah yang diambil menunjukkan arah yang jelas dan harapan yang nyata.
Kini, tugas kita adalah mengawal jalannya pemerintahan ini, mengkritisi kebijakannya dengan konstruktif, dan memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi benar-benar berdampak pada kesejahteraan masyarakat dari pesisir hingga pelosok pulau.
Maluku Utara telah kaya. Tugas kita sekarang: menjadikannya sejahtera.









