Oleh: Ibrahim Yakub,S.E.,M.E
Penulis buku dan Akademisi FEB Universitas Khairun
Ada yang janggal dan berbeda dari cara kita merayakan pertumbuhan ekonomi. Di Provinsi Maluku Utara, angka-angka melesat tinggi bahkan sempat menjadi yang tertinggi secara nasional, garis besar ditopang oleh ledakan industri nikel dan hilirisasi. Pemerintah bangga, investor berdatangan, dan narasi “kemajuan” digaungkan tanpa henti. Namun, di balik euforia itu, satu pertanyaan mendasar justru jarang diajukan, siapa yang benar-benar diuntungkan?
Di sinilah Freakonomics karya Steven D. Levitt dan Stephen J. Dubner menjadi relevan, bahkan terasa seperti alat bedah. Buku ini mengajarkan satu hal sederhana yang sering diabaikan dalam kebijakan publik yakni manusia merespons insentif. Dan jika insentifnya keliru, maka hasilnya pun akan menyimpang, meski angka pertumbuhan terlihat mengesankan.
Pertumbuhan Tinggi, Kesejahteraan Rendah, apa yang Salah
Narasi resmi selalu sama, pertumbuhan tinggi adalah tanda keberhasilan. Dalam beberapa tahun terakhir, Maluku Utara mencatat lonjakan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang didorong oleh sektor industri pengolahan berbasis nikel. Kawasan industri tumbuh pesat, ekspor meningkat, dan investasi mengalir deras.
Namun lanskap itu, jika kita sedikit saja keluar dari statistik makro, realitasnya tidak sesederhana itu. Kemiskinan belum turun signifikan di sejumlah wilayah, Ketimpangan antar kabupaten semakin terlihat, Kualitas layanan dasar pendidikan dan kesehatan masih timpang. Ketergantungan pada satu sektor semakin dalam. Jika pertumbuhan benar-benar inklusif, kondisi ini seharusnya tidak terjadi. Lalu, di mana letak masalahnya?
Freakonomics memberi jawaban yang tidak nyaman, kita mungkin sedang membaca angka yang salah, atau lebih-Lebihnya membaca angka dengan cara yang salah. Insentif yang Salah, Hasil yang Menyimpang. Levitt dan Dubner berulang kali menunjukkan bahwa kebijakan yang tampak baik bisa menghasilkan dampak buruk jika insentifnya tidak dirancang dengan benar.
Dalam konteks Maluku Utara, struktur insentif ekonomi saat ini patut dipertanyakan. Mari kita lihat lebih jernih dan jauh ke depan, Perusahaan tambang memiliki insentif untuk memaksimalkan produksi dan menekan biaya. Pemerintah daerah memiliki insentif untuk mengejar pertumbuhan cepat dan meningkatkan pendapatan daerah, sedangkan elite politik memiliki insentif untuk menunjukkan “keberhasilan” dalam bentuk angka.
Tidak ada yang salah dengan itu secara individu, semua rasional. Namun masalah muncul ketika tidak ada insentif yang cukup kuat untuk memastikan distribusi manfaat yang adil. Akibatnya, pertumbuhan terjadi, tetapi kesejahteraan tidak mengikuti secara merata. Ini bukan kegagalan pasar semata, melainkan kegagalan desain kebijakan.
Hilirisasi Solusi atau Ilusi dalam kajian Freakonomics
Hilirisasi nikel kerap diposisikan sebagai jawaban atas ketergantungan Indonesia pada ekspor bahan mentah. Di Maluku Utara, kebijakan ini menghasilkan kawasan industri raksasa yang menjadi motor pertumbuhan ekonomi.
Namun, Freakonomics mengajarkan kita untuk tidak berhenti pada narasi permukaan. Kita perlu bertanya lebih jauh, apa konsekuensi tersembunyinya, Apakah nilai tambah benar-benar dinikmati oleh daerah, Mengapa tenaga kerja lokal masih banyak berada di posisi rendah, Siapa yang menguasai rantai produksi dan teknologi,apakah dampak lingkungan diperhitungkan secara serius. Jika jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini tidak memuaskan, maka hilirisasi berisiko menjadi ilusi kemajuan pertumbuhan yang terlihat megah, tetapi rapuh secara struktural.
Data Tidak Pernah Netral
Salah satu pesan penting Freakonomics adalah bahwa data bisa menipu atau lebih tepatnya, bisa digunakan untuk memanipulasi. Statistik ekonomi sering diperlakukan sebagai kebenaran objektif, padahal ia sangat bergantung pada cara kita membacanya.
Ketika pemerintah menyebut pertumbuhan ekonomi Maluku Utara sebagai yang tertinggi, itu benar. Tetapi pertanyaan berikutnya ialah jarang muncul pertumbuhan itu terjadi di sektor apa, dan untuk siapa. Jika sebagian besar pertumbuhan berasal dari sektor industri besar yang padat modal dan terkonsentrasi, maka dampaknya terhadap masyarakat luas bisa terbatas. Ini menjelaskan mengapa angka makro tampak gemilang, sementara realitas mikro terasa stagnan. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi bisa tinggi tanpa benar-benar menyentuh kehidupan sebagian besar masyarakat. Rasionalitas yang Berujung Masalah Levitt dan Dubner menunjukkan bahwa banyak masalah sosial lahir dari perilaku rasional individu dalam sistem yang keliru. Apa yang terjadi di Maluku Utara mencerminkan hal ini. Masyarakat memilih bekerja di sektor tambang karena upah lebih tinggi,Pemerintah mendorong investasi besar-besaran, Perusahaan menekan biaya, termasuk lingkungan yang rasional.
Namun ketika semua keputusan “rasional” ini bertemu dalam satu sistem tanpa regulasi yang kuat, hasilnya bisa menjadi tidak rasional secara kolektif. ketimpangan, kerusakan lingkungan, dan ketergantungan ekonomi. Inilah paradoks yang diungkap Freakonomics bahwa rasionalitas individu tidak menjamin kesejahteraan bersama.
Siapa yang Mengendalikan Informasi
Masalah lain yang disorot dalam buku ini adalah ketimpangan informasi. Pihak yang memiliki informasi lebih banyak hampir selalu berada dalam posisi yang lebih kuat. Dalam konteks Maluku Utara, Informasi kontrak dan keuntungan industri tidak sepenuhnya transparan, masyarakat lokal tidak memiliki akses terhadap data yang memadai, proses pengambilan kebijakan sering tidak partisipatif.
Akibatnya, publik sulit melakukan kontrol, sementara elite ekonomi dan politik memiliki ruang lebih besar untuk menentukan arah kebijakan. Dalam bahasa Freakonomics, ini adalah situasi klasik di mana insentif untuk transparansi lebih lemah dibanding insentif untuk mempertahankan kekuasaan. Masalah yang Lebih Dalam dari Sekadar Ekonomi Yang sering luput dari diskusi adalah bahwa persoalan Maluku Utara bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal kekuasaan. Siapa yang menentukan kebijakan, Siapa yang menikmati hasilnya, Dan siapa yang menanggung risikonya.
Freakonomics memang tidak secara eksplisit membahas politik kekuasaan, tetapi pendekatannya membuka jalan untuk memahami bahwa ekonomi tidak pernah netral. Ia selalu terkait dengan kepentingan. Jika kebijakan terus dirancang dengan orientasi jangka pendek mengejar investasi dan pertumbuhan tanpa memperbaiki distribusi manfaat, maka Maluku Utara berisiko terjebak dalam pola yang sama,kaya secara statistik, miskin secara struktural.
Otokritik terhadap buku Freakonomics ialah, Ketika Insentif bukan Segalanya
Meski tajam, pendekatan Freakonomics juga memiliki keterbatasan. Tidak semua persoalan bisa direduksi menjadi soal insentif. Faktor sejarah, budaya, dan struktur politik juga memainkan peran besar. Dalam konteks Maluku Utara, misalnya, relasi antara pemerintah daerah, pusat, dan korporasi global tidak bisa dijelaskan hanya dengan logika insentif sederhana. Ada dinamika kekuasaan yang lebih kompleks.
Namun demikian, keunggulan buku ini justru pada kemampuannya mengguncang cara berpikir yang mapan juga memaksa kita untuk mempertanyakan asumsi yang selama ini dianggap benar. Sejak dini kita semua harus berani bertanya, berani mengoreksi, membaca Freakonomics dalam konteks Maluku Utara seharusnya membuat kita tidak lagi nyaman dengan narasi pertumbuhan semata. Buku ini mengajarkan bahwa angka tidak pernah cukup yang lebih penting adalah memahami apa yang ada di balik angka tersebut.










