Pengaruh Inflasi terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Periode 2015–2024

Ekonomi, Opini207 Dilihat

Oleh: Salwa Fellisa Mukhtar

Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Khairun

Inflasi dan pertumbuhan ekonomi merupakan dua indikator penting yang selalu menjadi perhatian dalam menilai kesehatan ekonomi suatu negara. Dalam konteks Indonesia, hubungan antara keduanya tidak sesederhana sebab-akibat yang linear, melainkan lebih kompleks dan dinamis. Periode 2015–2024 memberikan gambaran nyata bagaimana inflasi dapat menjadi pendorong sekaligus penghambat pertumbuhan ekonomi, tergantung pada kondisi yang melingkupinya.

Secara umum, pertumbuhan ekonomi Indonesia selama satu dekade terakhir menunjukkan tren yang cukup stabil, meskipun sempat mengalami guncangan besar akibat pandemi COVID-19. Di sisi lain, inflasi relatif terkendali dalam kisaran 2%–4%, yang mencerminkan keberhasilan otoritas moneter dalam menjaga stabilitas harga. Namun, stabilitas ini bukan berarti tanpa tantangan, karena beberapa kali terjadi lonjakan inflasi akibat faktor global seperti kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok.

Dalam perspektif ekonomi, inflasi sering dipandang sebagai pedang bermata dua. Di satu sisi, inflasi yang rendah dan stabil mampu mendorong aktivitas ekonomi. Kondisi ini menciptakan kepastian bagi pelaku usaha, meningkatkan konsumsi masyarakat, serta mendorong investasi. Hal ini terlihat jelas pada periode 2015–2019, di mana stabilitas inflasi beriringan dengan pertumbuhan ekonomi yang konsisten di kisaran 5 persen.

Namun, pengalaman pada masa pandemi 2020–2021 menunjukkan bahwa inflasi rendah tidak selalu menjadi indikator positif. Pada periode tersebut, inflasi yang rendah justru mencerminkan lemahnya permintaan masyarakat akibat pembatasan aktivitas ekonomi. Dampaknya, pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi yang cukup dalam. Ini menegaskan bahwa inflasi tidak dapat dipahami secara terpisah dari konteks ekonomi yang lebih luas.

Kondisi berbeda terjadi pada tahun 2022, ketika inflasi meningkat akibat tekanan global. Kenaikan harga energi dan terganggunya distribusi barang menyebabkan daya beli masyarakat tertekan. Meski demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap mampu bertahan. Hal ini menunjukkan adanya faktor lain yang turut menopang ekonomi, seperti konsumsi domestik dan intervensi kebijakan pemerintah.

Memasuki periode pemulihan 2023–2024, inflasi kembali terkendali dan pertumbuhan ekonomi menunjukkan tren positif. Situasi ini memperlihatkan bahwa stabilitas inflasi memainkan peran penting dalam menciptakan iklim ekonomi yang kondusif. Ketika harga-harga relatif stabil, masyarakat lebih percaya diri untuk berbelanja dan pelaku usaha lebih berani untuk berinvestasi.

Dari berbagai dinamika tersebut, dapat disimpulkan bahwa hubungan antara inflasi dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia bersifat non-linear. Inflasi yang terlalu tinggi jelas berdampak negatif karena menekan daya beli dan meningkatkan ketidakpastian. Sebaliknya, inflasi yang terlalu rendah juga tidak selalu ideal, terutama jika disebabkan oleh lemahnya permintaan. Dengan kata lain, yang dibutuhkan bukan sekadar inflasi rendah, melainkan inflasi yang stabil dan berada pada tingkat yang sehat.

Lebih jauh, penting untuk disadari bahwa inflasi bukan satu-satunya faktor yang menentukan pertumbuhan ekonomi. Konsumsi rumah tangga, investasi, kebijakan fiskal dan moneter, serta kondisi global juga memiliki pengaruh besar. Namun demikian, inflasi tetap menjadi indikator kunci karena berkaitan langsung dengan stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

Oleh karena itu, menjaga inflasi tetap stabil harus menjadi prioritas utama pemerintah dan otoritas moneter. Kebijakan yang tepat, baik melalui pengendalian harga maupun penguatan sektor riil, sangat diperlukan untuk memastikan bahwa inflasi tidak menjadi penghambat pertumbuhan. Selain itu, ke depan diperlukan kajian yang lebih mendalam dengan pendekatan ekonometrika agar hubungan antara inflasi dan pertumbuhan ekonomi dapat dipahami secara lebih akurat.

Pada akhirnya, pengalaman Indonesia selama 2015–2024 memberikan pelajaran penting bahwa stabilitas adalah kunci. Bukan inflasi yang terlalu rendah atau terlalu tinggi yang diharapkan, melainkan inflasi yang terkendali dan mampu berjalan selaras dengan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *