Oleh: Putri Anwar
Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Khairun
Di balik kepulan uap vape dan aroma kopi mahal di kafe-kafe hits sepanjang pesisir Swering hingga kawasan Landmark, Ternate tengah menyimpan bom waktu finansial yang detaknya semakin kencang. Banyak anak muda hari ini tampak “menyala” di media sosial, memamerkan layar penuh grafik hijau dan tangkapan layar keuntungan kripto yang mengundang iri. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, di balik semua itu tersimpan cerita yang jauh lebih memprihatinkan.
Polanya hampir selalu sama: meminjam dana dari aplikasi pinjaman online, lalu memutarnya ke koin kripto murah yang sedang ramai diperbincangkan. Ketika harga naik, euforia pun datang. Namun saat harga jatuh, kepanikan mengambil alih. Dalam kondisi terdesak, sebagian memilih jalan pintas lain: judi online, dengan harapan bisa mengembalikan kerugian secepat mungkin. Padahal itu bukan investasi, melainkan pertaruhan hidup yang dilakukan dengan mata tertutup.
Dari Sekadar FOMO Menjadi Masalah Nyata
Koin-koin kripto baru dengan harga recehan memang memiliki daya tarik tersendiri. Murah, viral, dan seolah semua orang sudah untung lebih dulu. Tidak heran jika banyak yang tergoda. Namun persoalan utamanya bukan pada aset digital itu sendiri, melainkan pada sumber modal yang digunakan: uang pinjaman.
Jika kerugian berasal dari uang pribadi, rasa sakitnya mungkin hanya sebatas kehilangan tabungan. Tetapi ketika kerugian berasal dari uang pinjaman, yang tersisa bukan sekadar dompet kosong, melainkan cicilan berbunga yang terus berjalan setiap hari. Lebih buruk lagi, jika proyek tersebut ternyata hanya tipu daya atau mengalami rug pull, maka dalam semalam harapan bisa berubah menjadi mimpi buruk.
Judi Online: Bensin untuk Api yang Sudah Menyala
Di titik inilah bahaya sebenarnya dimulai. Secara psikologis, manusia sulit menerima kekalahan. Ketika sudah merugi besar, pikiran pertama yang muncul sering kali bukan berhenti, melainkan mencari cara tercepat untuk balik modal.
Judi online kemudian tampak seperti jalan keluar yang mudah. Tinggal klik, berharap keberuntungan datang. Namun ujung ceritanya sering sama: motor digadai, laptop masuk pegadaian, telepon genggam ikut dijual. Ini bukan semata soal kebodohan, melainkan karena seseorang sudah terlalu dalam terjebak dan kehilangan arah untuk keluar.
Ternate Itu Kecil, dan Masalah Cepat Menyebar
Satu hal yang sering dilupakan adalah fakta bahwa Ternate merupakan kota yang masyarakatnya saling mengenal. Ketika tagihan pinjol mulai dikirim ke nomor keluarga, dosen, atau tempat kerja, bukan hanya utang yang menjadi persoalan, tetapi nama baik ikut tercoreng.
Di Maluku Utara, reputasi adalah modal sosial yang sangat berharga. Dalam dunia kerja yang persaingannya semakin ketat, kepercayaan sering kali berbicara lebih dulu bahkan sebelum ijazah diperlihatkan. Sekali nama baik rusak, membangunnya kembali bukan perkara mudah.
Penutup
Maluku Utara membutuhkan generasi muda yang berpikir jauh ke depan, bukan generasi yang mempertaruhkan masa depannya hanya demi keuntungan satu klik. Koin murah memang menggoda, tetapi jika taruhannya adalah masa depan sendiri, risikonya terlalu mahal.
Kekayaan yang dibangun perlahan melalui kerja keras, literasi keuangan, dan keputusan matang akan selalu lebih kokoh daripada keberuntungan semalam yang bisa lenyap sebelum subuh.










