Oleh: Zulaikha Harini Hairuddin
Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Khairun
Pernah merasa tidak benar-benar “kehilangan” uang saat berbelanja? Satu klik, satu pembayaran, lalu semuanya selesai. Tidak ada rasa berat, tidak ada keraguan, bahkan terkadang tidak ada waktu untuk berpikir ulang. Namun anehnya, di akhir bulan kita justru terkejut melihat saldo yang tiba-tiba menipis. Fenomena ini bukan semata soal lemahnya kontrol diri, melainkan berkaitan dengan cara manusia secara psikologis merasakan proses membayar.
Di era cashless, ketika uang tidak lagi berpindah secara fisik, rasa “sakit” saat mengeluarkan uang atau pain of paying perlahan menghilang. Konsep ini diperkenalkan oleh Drazen Prelec dan Duncan Simester yang menjelaskan bahwa ketidaknyamanan saat membayar sebenarnya berfungsi sebagai mekanisme kontrol dalam pengambilan keputusan konsumsi. Ketika rasa itu melemah, individu cenderung lebih mudah mengeluarkan uang.
Pada dasarnya, pain of paying adalah “rem alami” dalam perilaku keuangan. Saat transaksi dilakukan secara tunai, proses menyerahkan uang secara langsung memberi jeda untuk berpikir: apakah barang ini benar-benar dibutuhkan? Ada kesadaran yang muncul karena kita melihat uang berkurang dari tangan kita sendiri. Nominal yang terasa besar ketika dipegang tentu berbeda dengan angka digital yang sekadar bergeser di layar ponsel.
Namun perkembangan sistem pembayaran telah mengubah pengalaman tersebut. Dalam transaksi digital, proses membayar menjadi sangat cepat, praktis, dan nyaris tanpa ketegangan emosional. Kita tidak lagi melihat uang keluar secara nyata, melainkan hanya perubahan angka di layar. Akibatnya, otak tidak merespons pengeluaran dengan cara yang sama seperti ketika menggunakan uang tunai.
Tanpa rasa kehilangan yang jelas, masyarakat menjadi lebih impulsif dalam berbelanja. Pembelian kecil yang tampak sepele seperti diskon, gratis ongkir, flash sale, atau promo terbatas perlahan menumpuk menjadi pengeluaran besar. Yang lebih berbahaya, pola ini sering kali tidak disadari. Kita merasa tidak boros karena memang tidak ada sinyal emosional yang memberi peringatan bahwa uang sedang habis. Uang terasa seperti tidak pernah benar-benar pergi, padahal diam-diam telah lama berlalu.
Fenomena ini semakin diperparah oleh desain platform belanja digital yang memang dirancang untuk meminimalkan hambatan pembelian. Fitur seperti one-click purchase, dompet digital yang tersimpan otomatis, hingga cicilan tanpa bunga bekerja dengan cara mengurangi jarak antara keinginan dan tindakan membeli. Semakin mudah proses pembayaran, semakin tipis pula pertahanan kita terhadap perilaku konsumtif.
Riset terbaru dari Faraz dan Anjum (2025) memperkenalkan konsep Spendception, yaitu kondisi ketika sistem pembayaran digital meruntuhkan hambatan psikologis yang biasanya menahan seseorang dari pengeluaran berlebihan. Sejalan dengan itu, penelitian Ma dkk. (2024) menunjukkan bahwa pembayaran digital menekan pain of paying melalui perhatian yang lebih selektif, sehingga konsumen cenderung membelanjakan lebih banyak dibanding saat menggunakan uang tunai.
Fenomena ini juga tercermin dalam data Bank Indonesia pada tahun 2023. Transaksi ekonomi dan keuangan digital mengalami pertumbuhan pesat, didorong oleh meningkatnya belanja daring dan semakin luasnya penggunaan sistem pembayaran digital. Perubahan ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang perubahan pola konsumsi masyarakat secara signifikan.
Karena itu, persoalan ini tidak sepenuhnya dapat dibebankan kepada individu. Sistem pembayaran digital memang dirancang untuk memberikan kenyamanan dan efisiensi, dan itu tentu membawa manfaat besar. Namun di sisi lain, sistem tersebut juga secara tidak langsung menjauhkan manusia dari kesadaran atas uang yang dikeluarkan. Kita dipermudah untuk membeli, tetapi sekaligus dibuat kurang merasakan konsekuensi dari pengeluaran itu sendiri.
Maka, persoalannya bukan terletak pada sistem cashless-nya, melainkan pada hilangnya kesadaran dalam setiap transaksi. Tanpa kesadaran tersebut, kemudahan digital justru berpotensi mendorong perilaku konsumtif yang tidak terkendali.
Perubahan ini sebenarnya tidak menuntut langkah yang rumit. Kesadaran dapat dimulai dari kebiasaan sederhana: rutin mengecek saldo, menunda keputusan belanja, membatasi penggunaan dompet digital, atau sesekali kembali menggunakan uang tunai agar kita kembali merasakan pain of paying. Sebab tanpa kesadaran itu, setiap kemudahan hanya akan menjauhkan kita dari satu pertanyaan mendasar: apakah kita benar-benar mengendalikan pengeluaran, atau justru dikendalikan olehnya?
Pada akhirnya, pain of paying bukan sekadar soal bagaimana manusia membayar, melainkan bagaimana manusia memaknai uang itu sendiri. Di tengah kemudahan era cashless, tantangan terbesar bukan lagi soal akses atau kemampuan membeli, tetapi kemampuan untuk membatasi diri. Sebab ketika rasa “sakit” saat membayar benar-benar hilang, yang ikut memudar bukan hanya kehati-hatian, melainkan juga kendali atas diri sendiri.
Kemudahan bukanlah musuh. Namun tanpa kesadaran, kemudahan dapat berubah menjadi jebakan.










