Oleh: Intan Bahri
Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Khairun
Bayangkan seorang mahasiswa duduk di kelas sambil mendengarkan penjelasan dosen mengenai strategi pemasaran. Ketika tugas diberikan, ia tidak lagi membuka buku, berdiskusi dengan teman, atau mencoba menganalisis persoalan secara mandiri. Jarinya justru langsung mengetik pertanyaan ke ChatGPT. Dalam hitungan detik, jawaban tersaji rapi, sistematis, dan tampak sempurna. Tugas selesai, tetapi ada satu hal penting yang perlahan hilang: proses berpikir itu sendiri.
Fenomena ini kini bukan lagi sesuatu yang asing. Ketergantungan mahasiswa terhadap kecerdasan buatan (AI) telah menjadi kebiasaan baru yang mengkhawatirkan di dunia pendidikan. Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, berbagai platform seperti ChatGPT, Gemini, hingga Meta AI menjelma menjadi “teman setia” mahasiswa untuk mengerjakan tugas, membuat laporan, bahkan menyusun skripsi.
Sesungguhnya, tidak ada yang salah dengan memanfaatkan teknologi. AI hadir untuk membantu manusia bekerja lebih efektif dan efisien. Namun, persoalan muncul ketika teknologi tidak lagi digunakan sebagai alat bantu, melainkan telah menggantikan proses berpikir manusia itu sendiri.
Laporan AI in Higher Education yang dirilis Coursera pada Februari 2026 menunjukkan bahwa lebih dari 95 persen mahasiswa dan dosen di lima negara mengaku menggunakan AI dalam konteks pendidikan. Angka ini bukan sekadar tren, melainkan sinyal bahwa AI telah menyatu secara masif dalam kehidupan akademik. Yang lebih mengkhawatirkan, mayoritas mahasiswa menggunakan AI untuk membantu penulisan tugas dan menjawab soal—dua aktivitas yang seharusnya menjadi ruang utama untuk melatih kemampuan berpikir kritis.
Di sisi lain, World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 telah memperingatkan bahwa jutaan pekerjaan di bidang keuangan, pemasaran, hingga manajemen sumber daya manusia akan terdampak oleh perkembangan AI dalam beberapa tahun ke depan. Ironisnya, perusahaan justru semakin membutuhkan sumber daya manusia yang mampu berpikir kritis, mengambil keputusan, menyelesaikan masalah, dan cepat beradaptasi. Kemampuan-kemampuan inilah yang perlahan mulai “dilatihkan” mahasiswa kepada mesin, bukan kepada diri mereka sendiri.
Dalam ilmu manajemen, khususnya bidang sumber daya manusia (SDM), kualitas seseorang tidak hanya diukur dari seberapa banyak informasi yang ia miliki, tetapi dari bagaimana ia mengolah informasi tersebut menjadi keputusan yang tepat dan bertanggung jawab. Kemampuan itu tidak lahir secara instan. Ia tumbuh melalui proses belajar, pengalaman, kesalahan, dan latihan berpikir yang terus-menerus.
Sayangnya, proses inilah yang kini mulai ditinggalkan. Ketika menghadapi tugas sulit, AI sering kali menjadi jalan pintas pertama. Bukan karena mahasiswa tidak mampu berpikir, tetapi karena mereka mulai terbiasa untuk tidak mencoba terlebih dahulu. Kebiasaan inilah yang perlahan melemahkan daya analisis, kreativitas, dan kemampuan menyelesaikan masalah secara mandiri.
Padahal, dunia kerja tidak menyediakan jawaban instan seperti yang diberikan AI. Dalam realitas profesional, seseorang akan berhadapan dengan klien yang mengeluh, tim kerja yang tidak solid, target perusahaan yang meleset, hingga tekanan dalam mengambil keputusan penting. Semua itu membutuhkan kemampuan berpikir, pengalaman, intuisi, dan keberanian mengambil tanggung jawab—hal-hal yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi.
Yang menarik, perusahaan saat ini tidak hanya mencari lulusan yang mampu menggunakan AI. Mereka mencari individu yang mampu berpikir kritis sekaligus memanfaatkan AI secara bijak sebagai alat pendukung kerja. Di sinilah letak perbedaan mendasar: ada mahasiswa yang menggunakan AI untuk membantu proses berpikirnya, dan ada pula mahasiswa yang menjadikan AI sebagai pengganti berpikirnya.
Karena itu, yang perlu dibangun terlebih dahulu adalah kemampuan berpikir kritis. Setelah itu, AI dapat digunakan untuk memverifikasi, memperluas, atau mempercepat pekerjaan. Dosen dan institusi pendidikan juga memiliki peran penting dalam merancang metode pembelajaran serta sistem penilaian yang tidak mudah diselesaikan hanya dengan bantuan AI, sehingga mahasiswa tetap dituntut menggunakan kemampuan analisis dan pemahamannya sendiri.
Bagi mahasiswa, penting untuk menyadari bahwa ijazah hanyalah pintu masuk. Yang menentukan masa depan karier bukan sekadar nilai akademik, melainkan kemampuan diri yang dibangun selama proses perkuliahan. Dan kemampuan itu tidak bisa dibentuk secara instan oleh AI.
Generasi saat ini sebenarnya memiliki modal besar untuk menjadi SDM unggul yang mampu bersaing di tingkat global. Kecerdasan ada, akses teknologi tersedia, dan peluang terbuka lebar. Namun, jika kebiasaan menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin terus dipelihara, maka ironi besar bisa saja terjadi: generasi yang paling dekat dengan AI justru menjadi generasi yang paling mudah digantikan oleh AI.
Pada akhirnya, pilihan tetap berada di tangan mahasiswa sendiri: menggunakan AI untuk tumbuh dan berkembang, atau membiarkan AI perlahan menggantikan kemampuan dirinya.








