Oleh: Nurul Istiqamah Ramadhani La Uturu
Mahasiswa Program Studi Manajemen, Universitas Khairun
Perkembangan zaman telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan mahasiswa. Jika dahulu mahasiswa identik dengan tumpukan buku, catatan tebal, dan waktu panjang di perpustakaan, kini suasana itu perlahan berubah. Di era modern, penampilan menjadi salah satu hal yang tidak lagi dianggap sepele, terutama di tengah pengaruh media sosial yang terus membentuk cara pandang generasi muda terhadap diri mereka sendiri.
Tidak heran jika muncul candaan yang begitu akrab di telinga mahasiswa: “buku bisa tertinggal, tapi make up jangan sampai lupa.” Kalimat tersebut memang terdengar ringan dan mengundang tawa, tetapi di baliknya tersimpan gambaran nyata tentang kehidupan kampus masa kini. Ia menunjukkan bagaimana prioritas mahasiswa modern perlahan terbentuk bukan hanya karena kebutuhan, tetapi juga karena pengaruh lingkungan dan budaya digital yang bekerja secara diam-diam.
Banyak mahasiswa merasa kurang percaya diri jika tampil tanpa make up atau tanpa penampilan yang rapi. Sebaliknya, lupa membawa buku atau catatan kuliah justru terasa lebih mudah dimaklumi karena materi pembelajaran kini dapat diakses melalui handphone maupun laptop. Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan gaya hidup sekaligus perubahan cara pandang mahasiswa terhadap hal-hal yang dianggap penting dalam kehidupan sehari-hari.
Mahasiswa saat ini hidup di tengah arus teknologi dan media sosial yang bergerak sangat cepat. Hampir setiap momen dapat dibagikan melalui Instagram, TikTok, dan berbagai platform lainnya. Tanpa disadari, media sosial mendorong banyak orang untuk selalu tampil menarik di hadapan publik. Kampus pun tidak lagi sekadar menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang bersosialisasi, membangun relasi, bahkan latar untuk menciptakan konten digital.
Bagi sebagian mahasiswa, make up bukan sekadar soal kecantikan. Ia menjadi bagian dari rasa percaya diri dan bentuk persiapan diri sebelum menjalani aktivitas sehari-hari. Penampilan yang rapi dan wajah yang segar sering kali membuat seseorang merasa lebih siap saat berbicara di depan kelas, melakukan presentasi, ataupun mengikuti kegiatan organisasi. Tidak mengherankan jika make up kemudian menjadi barang yang hampir tidak pernah tertinggal di dalam tas mahasiswa.
Di sisi lain, perubahan pola belajar turut menggeser peran buku dalam keseharian mahasiswa. Materi kuliah kini tersedia dalam bentuk digital, mulai dari file PDF, slide presentasi, hingga catatan daring yang dapat diakses kapan saja. Mahasiswa lebih sering mengandalkan handphone dan laptop dibanding membawa buku tebal ke kampus. Cara ini memang lebih praktis dan efisien, tetapi tanpa disadari juga dapat membuat mahasiswa terlalu bergantung pada teknologi serta mulai kehilangan kebiasaan membaca secara mendalam.
Fenomena ini tentu tidak bisa dipandang hanya dari satu sisi. Kepedulian terhadap penampilan dapat mengajarkan mahasiswa untuk menghargai diri sendiri, menjaga kebersihan, dan membangun kepercayaan diri dalam interaksi sosial. Namun, apabila perhatian terhadap penampilan tumbuh secara berlebihan, hal itu dapat menggeser fokus dari tujuan utama seorang mahasiswa, yaitu belajar dan menuntut ilmu.
Tidak sedikit orang yang menilai mahasiswa zaman sekarang lebih mementingkan penampilan daripada prestasi. Akan tetapi, penilaian tersebut tidak sepenuhnya adil. Penampilan dan pendidikan bukanlah dua hal yang harus saling mengorbankan. Keduanya dapat berjalan beriringan selama mahasiswa mampu menempatkan mana yang menjadi prioritas utama dan mana yang hanya pelengkap. Seorang mahasiswa tetap dapat tampil menarik tanpa melupakan tanggung jawab akademiknya.
Fenomena “buku tertinggal, make up selalu ada” merupakan salah satu wajah kehidupan mahasiswa di era modern. Perubahan gaya hidup memang tidak dapat dihindari karena ia adalah bagian dari perkembangan zaman. Namun, sebagai mahasiswa, penting untuk tidak hanyut sepenuhnya dalam arus tersebut tanpa arah yang jelas.
Penampilan memang penting, dan tidak ada yang salah dengan merawat diri. Namun, ilmu pengetahuan dan prestasi akademik adalah bekal yang jauh lebih bernilai dan bertahan lama. Ilmu tidak akan pudar seperti bedak di wajah, melainkan akan terus melekat dan membentuk masa depan seseorang. Karena itu, mahasiswa sebaiknya mampu membawa keduanya secara seimbang: make up untuk kepercayaan diri, dan buku untuk masa depan yang lebih bermakna.










