Menerangi Galela: MTs Alkhairaat dan Perjuangan Abadi Pendidikan Islam di Halmahera Utara

Oleh: Ibnu Furqan

Sekretaris Umum PD-IKAAL Halmahera Utara

Sesuatu yang mengharukan adalah ketika sebuah wilayah kembali berupaya mendirikan lembaga pendidikan Islam. Ini bukan sekadar membangun gedung atau merehabilitasi ruang kelas, melainkan sebuah keyakinan yang tertanam kuat secara kolektif bahwa setiap generasi berhak memperoleh pendidikan agama yang layak, terstruktur, dan bermartabat. Inilah yang tengah terjadi di Galela, salah satu kecamatan di ujung utara Pulau Halmahera. Dengan adanya rencana pembukaan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Alkhairaat Galela, ruang pendidikan agama di wilayah ini akan kembali terbuka lebih luas.

Galela bukanlah wilayah yang asing dengan Islam. Sejak dahulu, masyarakat Galela telah akrab dengan tradisi keislaman dan menjadi bagian penting dari mozaik peradaban Islam di Maluku Utara, terutama melalui jaringan dakwah Kesultanan Ternate dan Tidore sejak abad ke-15. Namun, kita juga harus menyadari bahwa kehadiran lembaga pendidikan Islam yang terorganisasi, khususnya di bawah naungan Alkhairaat, masih menjadi perjuangan yang belum sepenuhnya tuntas di wilayah ini.

Upaya mendirikan sekolah Alkhairaat di kawasan Galela, mulai dari Mamuya hingga Galela Utara, sejatinya bukanlah hal baru. Rintisan-rintisan itu pernah ada, tetapi tidak bertahan lama. Bukan karena ketiadaan murid atau minimnya dukungan masyarakat, melainkan karena persoalan klasik yang sering dihadapi lembaga pendidikan Islam: ketergantungan pada figur tertentu.

Untuk membangkitkan kembali semangat pengabdian di bidang pendidikan Islam, kita perlu kembali pada sumber mata air gerakan ini, yakni As-Sayyid Al-Habib Idrus bin Salim Aljufri. Mari sejenak menengok masa lalu, ketika Guru Tua mulai merintis perjuangan besarnya.

Habib Idrus, yang akrab disapa “Guru Tua”, lahir di Taris, Hadramaut, Yaman, pada 14 Sya’ban 1319 H atau 1899 M. Ia merupakan putra keempat dari enam bersaudara dan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sarat tradisi keilmuan Islam. Berdasarkan nasabnya, Guru Tua merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW melalui jalur Ali bin Abi Thalib, sehingga termasuk bagian dari Ahlul Bait yang dihormati.

Gelar “Guru Tua” bukan sekadar sapaan biasa. Dalam tradisi masyarakat Kaili, sapaan itu bermakna “gurunya para guru”, sebuah penghormatan atas keluasan ilmu dan kebijaksanaan beliau, baik dalam ilmu duniawi maupun ukhrawi.

Perjalanan Guru Tua ke Indonesia dimulai sejak usia muda. Jakarta, Pekalongan, dan Solo menjadi beberapa daerah yang pernah ia singgahi. Perjalanan itu bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi juga ruang dakwah dan pengabdian. Ia mengajar, berdakwah, dan berdagang bersama masyarakat. Setelah sempat singgah di Donggala, pada tahun 1930 beliau memutuskan menetap di Palu, Sulawesi Tengah.

Di Palu, Guru Tua menikah dengan seorang bangsawan Kaili, Ince Ami Dg. Sute. Pernikahan ini bukan sekadar urusan pribadi, melainkan langkah strategis dalam memperluas pintu dakwah di tengah masyarakat. Di kota inilah beliau mendirikan lembaga pendidikan Islam yang diberi nama Alkhairaat, terinspirasi dari nilai-nilai kebaikan yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an.

Salah satu hal yang membedakan Guru Tua dari banyak pendakwah lain adalah pendekatan dakwahnya yang holistik dan inklusif. Ia mampu beradaptasi dengan budaya setempat sehingga dakwahnya diterima secara luas. Dalam sistem pendidikan yang diterapkannya, para murid tidak dipungut biaya. Bahkan, Guru Tua menggaji para pengajar dari hasil usahanya sendiri. Prinsip ini menegaskan bahwa ilmu bukanlah komoditas, melainkan hak setiap manusia.

Istiqamah dan komitmen itulah yang membuat Guru Tua terus bergerak, bahkan di usia senja. Pada tahun 1963, beliau melakukan perjalanan dakwah ke Ternate, Bacan, Jailolo, Tobelo, Morotai, Weda, Patani, Gane, hingga Makean. Setahun setelah kunjungan bersejarah itu, tepat pada 21 September 1964, Alkhairaat resmi berdiri di Ternate dan kemudian menyebar ke berbagai wilayah Maluku Utara, termasuk Tobelo. Ini menjadi bukti bahwa semangat pengabdian tidak mengenal batas geografis.

Berkat pengorbanan dan keikhlasan Guru Tua, dalam kurun waktu 26 tahun sejak berdirinya Alkhairaat (1930–1956), lembaga ini telah menjangkau seluruh kawasan Indonesia Timur dengan 25 cabang. Ketika Guru Tua wafat di Palu pada 22 Desember 1969, jumlah madrasah dan sekolah Alkhairaat telah mencapai 420 cabang. Hingga Muktamar IX tahun 2008, jumlah itu meningkat menjadi lebih dari 1.561 madrasah di seluruh Indonesia Timur. Dari satu niat tulus dan keyakinan pada kekuatan ilmu, lahirlah ribuan ruang belajar bagi umat dan bangsa.

Sejarah Alkhairaat di Maluku Utara sendiri memiliki perjalanan panjang yang tidak selalu linear. Dalam berbagai diskusi kealkhairatan di Ternate, sering dikisahkan bahwa jauh sebelum mendirikan Alkhairaat di Palu, Guru Tua pernah menginjakkan kaki di Ternate dengan niat mendirikan lembaga pendidikan Islam. Namun, beliau melihat bahwa tradisi dakwah Islam di Ternate telah berkembang kuat melalui budaya “pangaji”. Karena itu, beliau memilih melanjutkan perjalanan, sebelum akhirnya kembali beberapa dekade kemudian dengan membawa lembaga yang jauh lebih terstruktur.

Kini, pendidikan Alkhairaat di Maluku Utara telah berkembang dengan berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, hingga Aliyah, bahkan perguruan tinggi Alkhairaat di Halmahera Selatan. Pusat aktivitasnya berada di kompleks Pondok Pesantren Kalumpang, Ternate, dengan cabang yang tersebar di Tidore, Galela, Tobelo, Kao, Bacan, dan Sanana.

Namun demikian, kehadiran Alkhairaat di Galela tidaklah berjalan mulus. Upaya-upaya sebelumnya untuk mendirikan sekolah Alkhairaat pernah muncul, tetapi gagal bertahan. Lagi-lagi, bukan karena minimnya kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan berbasis agama, melainkan karena lembaga-lembaga tersebut masih bertumpu pada figur tertentu. Ketika figur itu pergi, keberlangsungan lembaga ikut melemah.

Inilah persoalan mendasar yang harus dijawab. Rintisan Alkhairaat di Galela belum berhasil bertransformasi dari lembaga berbasis figur menjadi lembaga yang ditopang sistem yang kuat. Kritik ini bukan untuk meremehkan perjuangan para perintis terdahulu, melainkan sebagai bentuk penghormatan agar kita dapat belajar dari kegagalan struktural yang pernah terjadi.

Pembukaan MTs Alkhairaat Galela hari ini bukan sekadar sebuah momen, tetapi momentum penting. Kehadirannya bukan untuk bersaing dengan lembaga pendidikan lain, melainkan untuk melengkapi serta membawa identitas khas Alkhairaat: tradisi keilmuan, nilai pengabdian, dan semangat inklusif warisan Guru Tua.

Dalam memperkuat fondasi berdirinya MTs Alkhairaat Galela, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan.

Pertama, membangun sistem kelembagaan yang kuat. MTs Alkhairaat Galela harus memperoleh dukungan luas dari yayasan maupun seluruh Abnaulkhairaat di daerah ini. Belajar dari pengalaman sebelumnya, lembaga ini tidak boleh bertumpu pada satu tokoh sentral, tetapi harus dibangun sebagai sistem yang mampu bertahan melampaui generasi.

Kedua, membangun rasa memiliki dari masyarakat. MTs ini harus dirasakan sebagai milik bersama, bukan milik kelompok tertentu. Karena itu, keterlibatan orang tua, tokoh adat, tokoh agama, hingga pemerintah desa menjadi sangat penting. Ketika rasa memiliki tumbuh secara kolektif, maka keberlangsungan lembaga akan lebih terjamin.

Ketiga, menjadikan kualitas sebagai fondasi legitimasi. Di tengah masyarakat yang semakin selektif dalam memilih lembaga pendidikan, MTs Alkhairaat Galela harus hadir dengan mutu yang nyata: tenaga pengajar yang kompeten, kurikulum yang relevan, serta lingkungan belajar yang kondusif.

Keempat, menjaga akar sambil menyambut masa depan. Pendidikan berbasis keagamaan tidak berarti menutup diri dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Guru Tua sendiri adalah sosok visioner yang memadukan ilmu agama dan ilmu umum. Karena itu, MTs Alkhairaat Galela harus mampu melahirkan generasi yang berakhlak mulia sekaligus siap bersaing di era modern.

Guru Tua pernah menunjukkan bahwa kecintaannya pada ilmu bukan untuk dirinya atau keturunannya semata, melainkan untuk umat manusia. Itulah sebabnya madrasah-madrasah Alkhairaat tidak dibangun sebagai monumen pribadi, tetapi sebagai pelita bagi masyarakat.

Kehadiran MTs Alkhairaat Galela hari ini adalah pelita baru. Ia menyala di sebuah wilayah yang pernah mencoba menerangi dirinya sendiri, namun nyalanya sempat padam sebelum berkembang. Kini, dengan modal pengalaman dan pelajaran dari masa lalu, ada harapan bahwa pelita ini akan bertahan lebih lama, bahkan menjadi mercusuar pendidikan bagi kawasan Galela di masa depan.

Galela membutuhkan MTs Alkhairaat. Dan Alkhairaat membutuhkan Galela yang siap merawatnya bersama-sama, secara kolektif, melampaui ketergantungan pada siapa pun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *