Oleh: Amang Rani
Mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan, Universitas Khairun
Desa Wayatim merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Bacan Timur Tengah, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Desa ini termasuk wilayah pesisir yang masih memiliki kondisi alam yang asri, didominasi oleh perkebunan, lahan hijau, dan kawasan pantai. Berdasarkan data BPS Kabupaten Halmahera Selatan Tahun 2024, Desa Wayatim memiliki luas wilayah sekitar 35,7 km² dengan panjang garis pantai sekitar 1 km. Desa ini berjarak sekitar 21 km dari ibu kota Kecamatan Bacan Timur Tengah dan sekitar 63 km dari ibu kota Kabupaten Halmahera Selatan.
Di balik bentang alamnya yang tenang, Desa Wayatim menyimpan kehidupan sosial masyarakat yang masih kuat mempertahankan nilai kebersamaan di tengah kondisi ekonomi yang sederhana. Nilai cinta terhadap sesama, gotong royong, solidaritas, dan budaya lokal masih menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat desa.
Dari sisi ekonomi, masyarakat Desa Wayatim masih bergantung pada sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan tradisional. Hasil utama seperti kelapa, pala, cengkeh, serta hasil laut menjadi sumber penghasilan utama masyarakat. Kondisi ini menunjukkan bahwa struktur ekonomi masyarakat masih bersifat tradisional dan sangat dipengaruhi oleh kondisi alam, musim panen, serta fluktuasi harga pasar. Ketika hasil panen menurun atau harga komoditas jatuh, kondisi ekonomi masyarakat pun ikut terdampak. Situasi tersebut menjadi tantangan yang terus dihadapi masyarakat pedesaan hingga saat ini.
Keterbatasan ekonomi masyarakat juga terlihat dari belum memadainya fasilitas pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur desa. Untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, sebagian pelajar harus pergi ke desa lain atau bahkan ke luar daerah. Kondisi ini tentu membutuhkan biaya tambahan yang tidak sedikit bagi keluarga. Selain itu, fasilitas kesehatan yang masih terbatas membuat masyarakat harus menempuh perjalanan jauh untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang lebih lengkap. Keadaan ini menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi dan pelayanan publik di desa belum sepenuhnya merata.
Namun demikian, di tengah keterbatasan tersebut, hubungan sosial masyarakat Desa Wayatim tetap terjaga dengan baik. Budaya gotong royong masih hidup dalam berbagai aktivitas masyarakat, seperti membantu pembangunan rumah warga, membersihkan lingkungan desa, hingga membantu keluarga yang mengalami musibah. Nilai solidaritas seperti ini menjadi kekuatan sosial yang mampu menjaga ketahanan masyarakat dalam menghadapi tekanan ekonomi. Dalam kehidupan pedesaan, hubungan sosial sering kali menjadi penyangga utama ketika kondisi ekonomi tidak stabil.
Harapan masyarakat terhadap pendidikan anak-anak mereka juga menunjukkan adanya keinginan kuat untuk meningkatkan taraf hidup keluarga. Banyak orang tua berharap anak-anak mereka dapat memperoleh pendidikan yang lebih baik agar memiliki pekerjaan dan masa depan yang lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya. Pendidikan dipandang sebagai jalan untuk keluar dari keterbatasan ekonomi dan mencapai kehidupan yang lebih layak. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai memiliki kesadaran yang tinggi terhadap pentingnya pembangunan sumber daya manusia.
Selain pendidikan, masyarakat juga berharap adanya perhatian pemerintah terhadap pembangunan desa, khususnya dalam peningkatan ekonomi masyarakat. Harapan tersebut meliputi perbaikan infrastruktur jalan, bantuan di sektor pertanian dan perikanan, peningkatan fasilitas kesehatan, hingga penyediaan peluang usaha bagi masyarakat desa. Harapan-harapan itu menunjukkan bahwa masyarakat Desa Wayatim memiliki semangat untuk berkembang, meskipun masih menghadapi berbagai keterbatasan akses dan fasilitas ekonomi.
Di sisi lain, perkembangan modernisasi mulai membawa perubahan terhadap kehidupan masyarakat Desa Wayatim. Penggunaan teknologi dan media sosial semakin meningkat, terutama di kalangan generasi muda. Modernisasi memberikan dampak positif karena masyarakat menjadi lebih mudah memperoleh informasi dan menjalin komunikasi dengan dunia luar. Akan tetapi, perubahan tersebut juga mulai memengaruhi pola hidup masyarakat, termasuk cara berinteraksi sosial dan menurunnya perhatian sebagian generasi muda terhadap budaya lokal.
Karena itu, pembangunan ekonomi desa seharusnya tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan pendapatan semata, tetapi juga harus mampu menjaga nilai budaya, solidaritas sosial, dan identitas masyarakat lokal. Desa Wayatim menunjukkan bahwa cinta terhadap sesama, harapan akan masa depan, dan budaya gotong royong masih menjadi kekuatan utama masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi. Nilai-nilai inilah yang perlu dijaga agar pembangunan tidak hanya menghasilkan kemajuan material, tetapi juga tetap mempertahankan kemanusiaan dan jati diri masyarakat desa.
















