Oleh: Nurhany Idham
Mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Khairun
Di tengah laju modernisasi yang semakin cepat, berbagai tradisi gotong royong di Indonesia mulai mengalami perubahan, bahkan sebagian di antaranya perlahan memudar. Namun, kondisi yang berbeda masih dapat ditemukan di Kota Tidore Kepulauan. Salah satu tradisi yang tetap bertahan hingga saat ini adalah Babari Fola, yakni budaya gotong royong dalam proses pembangunan rumah yang dilakukan secara sukarela oleh warga tanpa mengutamakan imbalan finansial.
Babari Fola merupakan manifestasi nyata dari modal sosial yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Tidore. Tradisi ini tidak hanya menjadi simbol kolaborasi dalam pembangunan rumah, tetapi juga mencerminkan kuatnya nilai kepercayaan, solidaritas, tanggung jawab sosial, serta ikatan kekeluargaan di antara anggota komunitas. Dalam praktiknya, pemilik rumah menyiapkan kebutuhan dan bahan bangunan, sementara masyarakat secara bersama-sama bergotong royong menyelesaikan proses pembangunan rumah tersebut.
Keberlanjutan Babari Fola di Tidore menjadi fenomena yang menarik untuk dikaji karena tidak semua daerah di Maluku Utara mampu mempertahankan tradisi gotong royong dengan kekuatan yang sama. Salah satu faktor yang memengaruhinya adalah masih terjaganya ikatan sosial dan kekerabatan yang kuat dalam masyarakat Tidore. Hubungan kekeluargaan yang erat melahirkan tingkat kepercayaan yang tinggi antarsesama warga, sehingga budaya saling membantu tetap terpelihara dari generasi ke generasi. Dalam konteks ini, gotong royong tidak hanya dipandang sebagai aktivitas sosial, melainkan juga sebagai kewajiban moral yang harus dijaga bersama.
Selain itu, masyarakat Tidore masih memegang teguh norma-norma sosial yang mendorong partisipasi dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Nilai kebersamaan, saling membantu, dan rasa memiliki terhadap komunitas menjadi sumber daya sosial yang memperkuat eksistensi Babari Fola. Modal sosial tersebut memungkinkan masyarakat bekerja sama tanpa memerlukan kontrak formal maupun sistem pembayaran yang kompleks.
Dari perspektif ekonomi kelembagaan, Babari Fola dapat dipahami sebagai institusi informal yang mengatur perilaku sosial-ekonomi masyarakat melalui norma, tradisi, dan kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi tidak selalu bergantung pada mekanisme pasar atau hubungan kerja yang berbasis upah. Melalui Babari Fola, masyarakat memperoleh manfaat ekonomi yang nyata, terutama dalam mengurangi biaya pembangunan rumah yang umumnya didominasi oleh biaya tenaga kerja.
Lebih dari itu, tingginya tingkat kepercayaan dan kerja sama antarmasyarakat turut menekan biaya transaksi, seperti biaya pengawasan, negosiasi, maupun koordinasi pekerjaan. Dalam kajian ekonomi institusi, kondisi ini menunjukkan bahwa hubungan sosial yang kuat dapat menciptakan efisiensi ekonomi yang lebih besar. Oleh karena itu, Babari Fola tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga berfungsi sebagai mekanisme ekonomi lokal yang membantu masyarakat memenuhi kebutuhan perumahan secara lebih efisien sekaligus memperkuat solidaritas sosial dalam komunitas.
Pada akhirnya, keberlangsungan Babari Fola di Kota Tidore Kepulauan tidak semata-mata karena tradisi ini diwariskan dari generasi ke generasi. Lebih dari itu, tradisi tersebut tetap hidup karena ditopang oleh modal sosial yang kuat berupa kepercayaan, solidaritas, norma sosial, dan hubungan kekerabatan yang terus dipelihara dalam kehidupan sehari-hari. Selama nilai-nilai tersebut tetap terjaga, Babari Fola akan terus menjadi identitas budaya sekaligus kekuatan sosial-ekonomi yang memperkokoh kehidupan masyarakat Tidore di tengah arus perubahan zaman.










