Oleh: Nabila Hi. Muhammad
Mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Khairun
Pernikahan bukan sekadar penyatuan dua insan dalam ikatan yang sah, tetapi juga merupakan peristiwa sosial yang sarat makna budaya dan kekeluargaan. Dalam banyak masyarakat di Indonesia, termasuk pada masyarakat Suku Makian di Maluku Utara, pernikahan menjadi momentum penting yang melibatkan keluarga besar, kerabat, dan masyarakat sekitar. Namun, di balik nilai sakral tersebut, penyelenggaraan pernikahan sering kali membutuhkan biaya yang tidak sedikit, mulai dari kebutuhan konsumsi, perlengkapan adat, hingga berbagai kebutuhan pendukung lainnya.
Bagi sebagian keluarga, tingginya biaya pernikahan dapat menjadi tantangan tersendiri. Dalam kondisi demikian, masyarakat tradisional memiliki mekanisme sosial yang mampu meringankan beban ekonomi keluarga, yakni melalui tradisi gotong royong dan saling membantu. Pada masyarakat Suku Makian, nilai tersebut diwujudkan dalam tradisi yang dikenal sebagai Hapolas.
Tradisi Hapolas merupakan bentuk solidaritas sosial yang telah diwariskan secara turun-temurun. Dalam praktiknya, masyarakat memberikan bantuan kepada keluarga yang sedang menyelenggarakan hajatan, termasuk pernikahan. Bantuan tersebut dapat berupa uang, bahan makanan, tenaga kerja, maupun berbagai kebutuhan lainnya yang menunjang kelancaran acara. Tradisi ini menunjukkan bahwa hubungan sosial dalam masyarakat Makian tidak hanya dibangun atas dasar kedekatan emosional, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata yang memberikan manfaat ekonomi bagi sesama.
Dalam perspektif ilmu sosial, Hapolas dapat dipahami sebagai bentuk modal sosial. Modal sosial berbeda dengan modal ekonomi yang berupa uang atau aset, maupun modal manusia yang berupa pengetahuan dan keterampilan. Modal sosial lahir dari hubungan sosial yang dibangun melalui jaringan, kepercayaan, norma, dan nilai-nilai kebersamaan yang hidup dalam masyarakat. Keberadaan modal sosial memungkinkan individu dan kelompok bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama serta mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi.
Pemikiran para ahli seperti Pierre Bourdieu, James Coleman, dan Robert D. Putnam menegaskan bahwa hubungan sosial yang kuat dapat menjadi sumber daya yang sangat berharga. Putnam bahkan menyebut bahwa jaringan sosial, norma, dan kepercayaan merupakan fondasi penting yang memungkinkan masyarakat melakukan tindakan kolektif secara efektif. Dalam konteks masyarakat Makian, Hapolas menjadi bukti nyata bahwa modal sosial bukan sekadar konsep teoritis, melainkan praktik sosial yang hidup dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Melalui tradisi Hapolas, keluarga yang melaksanakan pernikahan tidak harus menanggung seluruh biaya secara mandiri. Kehadiran bantuan dari kerabat dan masyarakat membuat berbagai kebutuhan acara dapat dipenuhi secara bersama-sama. Dengan demikian, beban ekonomi yang seharusnya dipikul oleh satu keluarga dapat didistribusikan secara kolektif. Inilah yang menjadikan Hapolas berkontribusi terhadap efisiensi biaya pernikahan.
Lebih dari itu, Hapolas juga memperkuat rasa kebersamaan dan solidaritas di tengah masyarakat. Setiap bantuan yang diberikan tidak semata-mata dilandasi pertimbangan ekonomi, tetapi juga didorong oleh rasa tanggung jawab sosial dan keyakinan bahwa suatu saat bantuan tersebut akan kembali ketika mereka membutuhkan. Hubungan timbal balik semacam ini menciptakan kepercayaan yang menjadi fondasi utama keberlangsungan modal sosial dalam masyarakat.
Namun demikian, tradisi Hapolas menghadapi tantangan yang tidak ringan. Arus modernisasi, perkembangan ekonomi pasar, dan perubahan gaya hidup masyarakat perlahan menggeser pola kehidupan kolektif menuju pola yang lebih individualistik. Ketika orientasi masyarakat semakin menekankan kepentingan pribadi, partisipasi dalam kegiatan sosial seperti Hapolas berpotensi mengalami penurunan. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka masyarakat tidak hanya kehilangan sebuah tradisi budaya, tetapi juga kehilangan salah satu mekanisme sosial yang selama ini membantu mereka menghadapi beban ekonomi.
Karena itu, menjaga keberlangsungan tradisi Hapolas menjadi penting, bukan hanya sebagai upaya melestarikan warisan budaya, tetapi juga sebagai strategi memperkuat ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat. Di tengah meningkatnya biaya hidup dan berbagai tantangan ekonomi, nilai gotong royong yang terkandung dalam Hapolas justru semakin relevan untuk dipertahankan.
Pada akhirnya, tradisi Hapolas menunjukkan bahwa kekuatan sebuah masyarakat tidak selalu diukur dari besarnya sumber daya ekonomi yang dimiliki, melainkan juga dari kuatnya hubungan sosial yang mengikat anggotanya. Bagi masyarakat Suku Makian, Hapolas adalah bukti bahwa solidaritas, kepercayaan, dan kebersamaan dapat menjadi modal berharga dalam mewujudkan pernikahan yang tidak hanya sakral secara budaya, tetapi juga lebih efisien secara ekonomi. Tradisi ini layak dipertahankan sebagai identitas budaya sekaligus sebagai fondasi pembangunan sosial yang berkelanjutan.










