Kronologi Dugaan Kekerasan, Keluarga Minta Kasus Diusut

POSTTIMUR.Com, TERNATE — Pihak keluarga seorang perempuan yang menjadi korban dalam dugaan kekerasan saat meminta agar rangkaian kejadian yang dialami korban diungkap secara terang. Korban diketahui mengalami kondisi serius setelah pulang dari sebuah hotel dan kemudian harus mendapatkan perawatan medis hingga menjalani perawatan di ruang ICU.

Berdasarkan keterangan pihak keluarga dan penasihat hukum (PH), kejadian bermula pada malam takbiran. Saat itu, korban disebut memiliki janji bertemu dengan seorang perempuan berinisial L bersama sejumlah temannya.

Korban kemudian disebut ikut bersama rombongan hingga menuju kawasan Indomaret Dufa-Dufa. Setelah itu, L menghubungi seorang pria berinisial F, yang disebut merupakan kerabatnya dan bekerja di Obi. F kemudian datang bersama seorang temannya berinisial A.

Ilustrasi Gambar ini menangkap awal perjalanan korban. Terlihat suasana malam di depan sebuah minimarket yang ramai di Ternate saat malam takbiran. Korban, seorang remaja SMA berusia 18 tahun yang mengenakan hijab dan pakaian kasual, berdiri di samping teman biasanya, L. Mereka diperkenalkan ke F dan A, dua pria yang baru tiba. Di latar belakang, terlihat lampu kendaraan dan dekorasi sederhana menyambut Lebaran, menciptakan kontradiksi antara suasana perayaan kota dan awal malam yang kelam bagi korban. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rombongan selanjutnya disebut menuju kos seorang perempuan berinisial I di kawasan BTN. Mereka sempat duduk dan berbincang sebelum salah seorang dalam rombongan berinisial C menyarankan agar mereka melanjutkan kegiatan ke hotel.

Menurut keterangan keluarga, C disebut menyampaikan bahwa mereka dapat menggunakan hotel dan biaya akan dibayar oleh pihak mereka.

Rombongan kemudian tiba di hotel sekitar pukul 00.00 WIT. Saat itu terdapat tujuh orang, yakni C, F, A, L, I, seorang perempuan berinisial P, serta korban.

Ilustrasi ini menggambarkan perubahan suasana dari nongkrong menjadi tegang. Di dalam kamar hotel yang sempit dan remang-remang, jam digital di dinding menunjukkan pukul 03:00 WIT. Korban, terduduk lemas di tepi tempat tidur, terlihat tertekan dan menangis dalam diam. Di tangan sebelahnya, ia memegang erat tas kresek berisi pakaian dan jilbab baru untuk hari Raya. Sementara itu, L dan beberapa orang lainnya tampak berbincang dengan tegang di area lain dalam kamar, mengabaikan kondisi korban yang jelas tidak nyaman.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sekitar pukul 03.00 WIT, I disebut mendapat telepon dari pacarnya yang menanyakan kepulangannya. Pada saat yang sama, P disebut meminta korban agar segera pulang.

Namun, korban disebut ingin pulang bersama L. Situasi kemudian memanas. Berdasarkan keterangan keluarga, P diduga melakukan tindakan fisik terhadap korban setelah korban menolak untuk pulang.

Korban disebut menangis dan meminta pulang. Dalam kondisi tersebut, korban juga disebut mengambil pakaian serta jilbab yang telah disiapkan untuk digunakan pada hari Lebaran.

Dalam penuturan keluarga, terjadi pula dugaan tindakan kekerasan terhadap P yang dilakukan oleh F. F disebut meremas bagian leher P dan mengeluarkan ancaman agar persoalan tersebut tidak dibicarakan sebelum mereka bersama L meninggalkan tempat tersebut.

Sekitar pukul 04.00 WIT, sebagian rombongan kemudian meninggalkan hotel.

Menurut keterangan keluarga, setelah itu tersisa L, F, dua laki-laki lainnya, dan korban.

Rombongan kemudian disebut memberikan alasan hendak membeli makanan. Namun, pihak keluarga mempertanyakan keterangan tersebut karena menurut informasi yang diterima, mereka tidak benar-benar pergi membeli makanan dan kembali ke hotel.

Sekitar pukul 05.00 WIT, seorang tetangga disebut melihat L diantar oleh seorang pria.

Kondisi tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan dari pihak keluarga mengenai keberadaan korban yang masih berada bersama sejumlah laki-laki yang disebut baru dikenalnya dalam waktu relatif singkat.

Korban Pulang dalam Kondisi Berubah

Sekitar pukul 08.20 WIT, korban disebut keluar dari lobi hotel dan berusaha mendapatkan ojek. Setelah beberapa kali mencari kendaraan, korban kemudian menuju kawasan mal dan akhirnya mendapatkan ojek.

Ilustrasi Pagi hari telah tiba, sekitar pukul 08:20 WIT. Gambar ini menunjukkan korban keluar dari lobi hotel. Cahaya matahari pagi yang cerah menimpa wajahnya yang pucat dan tampak kelelahan. Sebagai seorang anak SMA yang seharusnya merayakan Hari Raya, ia justru terlihat bingung dan syok. Ia berjalan dengan langkah tidak stabil menuju trotoar untuk mencari transportasi, terlihat rentan setelah ditinggalkan sendirian oleh teman-temannya di hotel tersebut bersama orang-orang yang baru dikenalnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Korban meminta pengemudi mengantarnya ke kawasan SD Tabam. Setelah sampai, korban kemudian meminta diantar ke rumah keluarganya.

Sesampainya di rumah, korban disebut langsung tidur. Namun, beberapa waktu kemudian kondisi korban berubah dan mengalami kejang-kejang.

Salah seorang anggota keluarga berinisial AJ awalnya mengira korban mengalami kondisi tubuh yang panas. Namun, setelah melihat korban mengalami kejang, keluarga mulai panik.

Ilustrasi ini adalah puncak tragedi. Bertempat di ruang tamu sebuah rumah keluarga sederhana di kawasan Tabam, suasana menjadi panik dan kacau. Korban tergeletak di sofa dengan tubuh kejang dan mata terbelalak, mengalami krisis medis serius. Anggota keluarga besar—yang terlihat di latar belakang memiliki foto keluarga besar yang harmonis—berkumpul di sekitarnya dengan ekspresi histeris dan panik. Seorang bibi mencoba menahan tubuhnya yang kejang, sementara yang lain berteriak memanggil bantuan medis. Cahaya dari jendela menimpa wajah korban yang menderita, menciptakan momen keputusasaan yang mendalam bagi keluarganya di pagi Hari Raya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Anggota keluarga lainnya kemudian datang dan melihat kondisi korban semakin mengkhawatirkan. Korban akhirnya dibawa menggunakan kendaraan ke rumah sakit.

Setibanya di IGD, korban disebut masih mengalami kejang. Sekitar pukul 03.00 WIT, korban mendapatkan bantuan oksigen.

Menurut pihak keluarga, dokter kemudian menanyakan apakah korban sebelumnya mengonsumsi atau diberikan obat tertentu.

Pertanyaan tersebut membuat keluarga semakin mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi terhadap korban sebelum kembali ke rumah.

Keluarga Pertanyakan Keterangan L

Pihak keluarga kemudian meminta penjelasan kepada L mengenai kejadian pada malam tersebut.

Namun, menurut keterangan keluarga, L awalnya memberikan cerita berbeda. L disebut mengatakan bahwa mereka hanya berada di kawasan Benteng Orens dan bermain kartu.

L juga disebut mengatakan bahwa dirinya sempat bersama P.

Belakangan, keluarga mendapatkan informasi bahwa keterangan tersebut diduga tidak sesuai dengan kejadian sebenarnya.

Dalam keterangan yang diterima keluarga, L juga disebut meminta I dan P agar apabila ditanya oleh keluarga, mereka mengatakan hanya bermain kartu dan tidak menyebut bahwa rombongan sempat berada di hotel.

Korban kemudian menjalani perawatan selama dua malam di IGD sebelum kondisinya semakin serius dan harus mendapatkan perawatan di ruang ICU.

Keterangan Baru Muncul Setelah Korban Masuk ICU

Pihak keluarga menyebut, setelah korban masuk ICU, I akhirnya menceritakan rangkaian kejadian yang sebenarnya kepada keluarga.

Dari keterangan tersebut, keluarga baru mengetahui bahwa korban sebelumnya berada di hotel bersama sejumlah orang.

Pihak keluarga dan PH menilai keterangan para saksi perlu diperiksa secara menyeluruh untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi terhadap korban selama berada di hotel.

PH keluarga meminta agar aparat penegak hukum tidak hanya memeriksa keterangan para saksi, tetapi juga menelusuri rekaman CCTV hotel, keterangan pihak hotel, komunikasi para pihak, serta hasil pemeriksaan medis korban.

“Kami meminta agar kasus ini diungkap secara terang. Yang paling penting adalah mengetahui apa yang terjadi kepada korban sejak berada di hotel sampai korban kembali ke rumah dalam kondisi tidak normal,” demikian sikap pihak keluarga melalui PH.

Keluarga juga meminta agar seluruh pihak yang mengetahui kejadian tersebut memberikan keterangan secara jujur kepada aparat.

Sementara itu, penyebab pasti korban mengalami kejang-kejang hingga harus menjalani perawatan di ICU masih memerlukan pembuktian medis.

Karena itu, dugaan mengenai adanya pemberian obat atau zat tertentu kepada korban belum dapat disimpulkan tanpa hasil pemeriksaan medis dan penyelidikan resmi aparat penegak hukum.

Pihak keluarga berharap kasus tersebut dapat diproses secara objektif dan seluruh pihak yang diduga mengetahui kejadian diperiksa sesuai ketentuan hukum. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top