POSTTIMUR.COM, TERNATE- Maluku Utara tengah bersiap menulis babak baru pembangunan. Tak lagi bertumpu semata pada kekayaan daratan, arah kebijakan kini berbelok tajam ke sektor kelautan yang selama ini menyelimuti sekitar 70 persen wilayah provinsi tersebut.
Komitmen itu ditegaskan Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, dalam Forum Diskusi Terpumpun (FGD) bertajuk “Menata Masa Depan Perikanan Malut” yang digelar di Ballroom Bella Hotel Ternate, Sabtu (11/4). Di hadapan akademisi, pelaku usaha, dan pimpinan OPD, Sherly menyampaikan tekadnya memutus paradoks klasik: laut melimpah, nelayan tetap miskin.
“Tanpa hilirisasi dan keterlibatan swasta, potensi laut kita hanya akan tersimpan di bawah air tanpa nilai ekonomi bagi rakyat,” tegasnya.
Empat Pilar Transformasi Perikanan
Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemprov Maluku Utara merancang empat pilar utama transformasi sektor perikanan:
1. Modernisasi Armada
Fokus pada pengadaan kapal berkapasitas 5–20 GT agar nelayan dapat mengakses BBM subsidi sekaligus menjaga kedaulatan di zona tangkap lokal.
2. Revitalisasi Rantai Dingin
Penguatan fasilitas cold storage dan pabrik es di titik strategis seperti Dufa-Dufa (Ternate), Halmahera Utara, dan Halmahera Selatan guna menjaga kualitas hasil tangkapan.
3. Hilirisasi dan Kehadiran Offtaker
Mendorong industri pengolahan ikan agar harga tetap stabil, terutama saat produksi melimpah.
4. Investasi Sehat
Membangun iklim usaha yang menarik dengan skema profit sharing yang adil bagi investor dan masyarakat lokal.
Potensi “Tambang Protein” Bernilai Fantastis
Pandangan optimistis juga datang dari Rokhmin Dahuri, yang hadir sebagai narasumber. Ia menyebut Maluku Utara menyimpan potensi besar sebagai “tambang protein” nasional.
Dengan pendekatan teknologi satelit berbasis GIS dan prinsip Maximum Sustainable Yield, menurutnya, sektor ini bisa menghasilkan dampak ekonomi luar biasa.
“Pengembangan 10.000 hektar tambang udang vaname saja berpotensi menghasilkan pendapatan bersih hingga Rp45 triliun—tiga kali lipat APBD Maluku Utara saat ini,” ungkapnya.
Catatan Akademisi: Dari Budidaya hingga Sosial Nelayan
Diskusi turut diperkaya oleh sejumlah akademisi. M. Irfan Koda mendorong pengembangan komoditas cepat tumbuh seperti rumput laut dan ikan nila sebagai solusi jangka pendek peningkatan pendapatan.
Sementara itu, Djanib Ahmad mengingatkan pentingnya memahami karakter sosial masyarakat pesisir—yang ia sebut sebagai “genetika nelayan”—agar program bantuan tepat sasaran.
Isu stunting di wilayah pesisir juga menjadi perhatian serius. Pemanfaatan hasil laut sebagai sumber protein lokal dinilai dapat menjadi solusi strategis untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat.
Menuju Ekonomi Biru Berkelanjutan
Menutup forum, Sekretaris Daerah Samsuddin A. Kadir memastikan kesiapan seluruh OPD dalam mengeksekusi visi besar tersebut. Pemerintah berkomitmen mengarahkan transisi ekonomi dari ketergantungan sektor tambang menuju konsep ekonomi biru yang berkelanjutan.
Bagi Gubernur Sherly, keberhasilan kebijakan ini tidak semata diukur dari angka pertumbuhan ekonomi, tetapi dari perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat pesisir.
“Indikator kesuksesan kita adalah saat anak-anak nelayan bisa tersenyum dan bersekolah tinggi dari hasil keringat orang tua mereka di laut,” pungkasnya. (*)











