Oleh: Mentari Ilham
Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Khairun
Fenomena bunuh diri akibat tekanan hidup, seperti kegagalan menghadapi UTBK maupun putus cinta, bukan sekadar persoalan emosional sesaat. Peristiwa semacam ini merupakan gambaran nyata tentang gagalnya seseorang mengelola risiko dalam kehidupan pribadi. Selama ini, risiko sering dipahami hanya ada dalam dunia bisnis, organisasi, atau pemerintahan. Padahal, setiap individu juga menghadapi risiko setiap hari, termasuk risiko mental dan emosional.
Dalam konteks tersebut, pesimisme menjadi salah satu faktor risiko paling berbahaya. Ketika seseorang telah meyakini dirinya gagal bahkan sebelum hasil diumumkan, ia sebenarnya sedang memperbesar ancaman yang belum tentu terjadi. Tekanan itu semakin berat ketika dibarengi persoalan asmara, seperti patah hati atau kehilangan hubungan yang dianggap sangat berarti. Akumulasi tekanan semacam ini dapat membuat seseorang terjebak dalam pikiran sempit, merasa tidak memiliki jalan keluar, hingga mengambil keputusan tragis.
Dari sudut pandang manajemen risiko, kondisi seperti ini seharusnya dapat dicegah melalui beberapa tahapan. Pertama, identifikasi risiko, yakni menyadari bahwa UTBK maupun hubungan percintaan sama-sama memiliki kemungkinan berhasil dan gagal. Kedua, analisis risiko, yaitu memahami bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses kehidupan. Ketiga, mitigasi risiko, dengan menyiapkan alternatif seperti rencana pendidikan cadangan, mencari dukungan keluarga, sahabat, atau bantuan profesional. Sayangnya, banyak orang tidak sampai pada tahap ini karena minimnya literasi emosional dan kurangnya dukungan lingkungan.
Lingkungan sosial juga memiliki pengaruh besar. Tekanan dari ekspektasi keluarga, stigma terhadap kegagalan, serta tidak adanya ruang aman untuk bercerita justru membuat seseorang semakin terisolasi. Dalam konsep manajemen risiko, situasi ini dikenal sebagai risk amplification, yaitu ketika lingkungan sekitar justru memperbesar risiko yang ada, bukan meredakannya.
Karena itu, tragedi semacam ini harus menjadi alarm bagi semua pihak. Pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada nilai, prestasi, dan persaingan akademik. Sekolah dan kampus juga harus membekali generasi muda dengan kemampuan mengelola tekanan hidup, memahami kesehatan mental, serta membangun daya tahan psikologis. Keluarga dan masyarakat pun harus menjadi sistem pendukung yang peka terhadap tanda-tanda keputusasaan.
Pada akhirnya, hidup memang penuh ketidakpastian. Namun pesimisme bukanlah jawaban. Dengan manajemen risiko yang baik—mengenali tekanan, memahami kemungkinan buruk, dan menyiapkan solusi—seseorang dapat bertahan bahkan bangkit lebih kuat. Sebab kegagalan dalam ujian maupun hubungan bukan akhir kehidupan, melainkan bagian dari perjalanan panjang menuju kedewasaan.










