Oleh: Neni Julianti M. Modim
Mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan, Universitas Khairun
Ketika berbicara tentang Ternate, kita tidak hanya membicarakan sebuah kota di timur Indonesia, tetapi juga sebuah wilayah yang pernah menjadi pusat perhatian dunia. Berabad-abad lalu, bangsa-bangsa Eropa menempuh perjalanan panjang melintasi samudra demi mendapatkan rempah-rempah yang tumbuh subur di tanah ini, terutama cengkih dan pala. Namun, di tengah arus modernisasi, industrialisasi produk kecantikan, dan gaya hidup serba instan, muncul pertanyaan penting: di mana jejak kejayaan rempah-rempah itu masih dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat Ternate saat ini?
Salah satu jawabannya hadir dalam tradisi Badaka, sebuah praktik budaya yang hingga kini tetap hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi. Bagi sebagian orang, Badaka mungkin hanya dipahami sebagai ritual perawatan tubuh tradisional. Namun, jika ditelaah lebih dalam, tradisi ini sesungguhnya menyimpan makna sosial, budaya, dan ekonomi yang sangat kaya. Badaka merupakan bentuk nyata dari modal sosial yang terus bekerja di tengah masyarakat, memperkuat solidaritas, menjaga identitas budaya, sekaligus merawat warisan rempah yang menjadi kebanggaan Ternate.
Tradisi Badaka memiliki posisi penting dalam siklus kehidupan perempuan Ternate. Ritual ini umumnya dilaksanakan pada dua fase penting, yaitu ketika seorang anak perempuan mengalami menstruasi pertama (Hidoa Badaka) dan ketika seorang perempuan akan memasuki jenjang pernikahan (Saro Badaka). Kedua momentum tersebut dipandang sebagai masa transisi yang memerlukan perhatian khusus, baik secara fisik, psikologis, maupun spiritual.
Dalam pelaksanaannya, Badaka tidak hanya bertujuan untuk merawat tubuh. Ramuan yang digunakan, yang terbuat dari berbagai rempah-rempah seperti pala, cengkih, kunyit, kayu manis, akar wangi, dan daun pandan, dipahami sebagai simbol penyucian diri sekaligus perlindungan budaya. Pada masa menstruasi pertama, seorang anak perempuan menjalani proses pendampingan keluarga yang diakhiri dengan ritual mandi suci atau Mandiku sebagai simbol memasuki fase kedewasaan.
Sementara itu, menjelang pernikahan, Badaka berkembang menjadi ruang pembelajaran sosial yang lebih luas. Selama masa pingitan yang berlangsung beberapa hari, calon pengantin perempuan tidak hanya menjalani perawatan tradisional, tetapi juga menerima berbagai nasihat kehidupan dari para perempuan yang lebih tua. Di dalam ruang sederhana itu berlangsung proses transfer pengetahuan antargenerasi, mulai dari etika sosial, nilai-nilai keluarga, hingga kesiapan mental dalam membangun rumah tangga. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Ternate membangun mekanisme pendidikan informal yang berakar kuat pada budaya lokal.
Keistimewaan lain dari Badaka terletak pada penggunaan rempah-rempah yang dahulu menjadi komoditas paling berharga di dunia. Bahan-bahan yang pernah memicu persaingan global dan kolonialisme kini digunakan dalam konteks yang berbeda, yakni sebagai sarana memperkuat nilai-nilai budaya dan spiritual masyarakat. Dalam perspektif ekonomi budaya, kondisi ini menunjukkan adanya proses transformasi makna, di mana rempah-rempah tidak semata dipandang sebagai komoditas ekonomi, melainkan juga sebagai simbol identitas dan warisan leluhur.
Lebih menarik lagi, seluruh proses pelaksanaan Badaka berlangsung melalui mekanisme gotong royong yang kuat. Para kerabat, tetangga, dan anggota komunitas terlibat secara sukarela dalam menyiapkan bahan, meracik ramuan, hingga mendampingi prosesi ritual. Tidak ada hubungan kerja berbasis upah dalam aktivitas tersebut. Yang bekerja adalah rasa saling percaya, solidaritas, dan tanggung jawab sosial yang telah lama terbangun di tengah masyarakat.
Di sinilah modal sosial menemukan bentuknya yang paling nyata. Partisipasi masyarakat tidak didorong oleh imbalan materi, melainkan oleh kesadaran kolektif bahwa setiap bantuan yang diberikan akan kembali dalam bentuk dukungan sosial ketika mereka membutuhkan. Sistem ini menciptakan jaringan resiprositas yang memperkuat hubungan antarwarga sekaligus menjaga keberlanjutan tradisi.
Sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang terlibat, keluarga penyelenggara biasanya menyediakan jamuan makan bersama yang dikenal sebagai Makanan Saro. Jamuan ini bukan sekadar acara makan, tetapi juga menjadi ruang sosial yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat tanpa memandang status ekonomi. Semua orang duduk bersama dalam suasana kekeluargaan, memperkuat rasa kebersamaan yang menjadi fondasi kehidupan sosial masyarakat Ternate.
Dari sudut pandang ekonomi pembangunan, tradisi Badaka menunjukkan bahwa kesejahteraan masyarakat tidak selalu diukur melalui besarnya pendapatan atau pertumbuhan ekonomi formal. Keberadaan jaringan sosial yang kuat mampu mengurangi beban biaya rumah tangga melalui sistem gotong royong dan kerja sukarela. Dengan kata lain, modal sosial berfungsi sebagai jaring pengaman sosial yang membantu masyarakat menghadapi berbagai kebutuhan tanpa ketergantungan penuh pada mekanisme pasar.
Meski demikian, tradisi Badaka tidak luput dari tantangan. Perubahan gaya hidup, meningkatnya penggunaan produk kecantikan modern, serta mobilitas pendidikan dan pekerjaan generasi muda berpotensi mengurangi keterikatan masyarakat terhadap praktik budaya lokal. Jika tidak dijaga, tradisi ini dapat kehilangan relevansinya di tengah kehidupan modern.
Namun demikian, harapan tetap terbuka. Berbagai upaya kreatif untuk memperkenalkan kembali Badaka kepada generasi muda mulai bermunculan. Salah satunya melalui kegiatan budaya bertema “Glowing with Badaka” yang diinisiasi oleh masyarakat Lingkungan Ake Gaale, Kelurahan Sangaji. Inisiatif seperti ini membuktikan bahwa tradisi tidak harus bertentangan dengan modernitas. Sebaliknya, tradisi dapat beradaptasi dan dikemas secara inovatif tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya.
Pada akhirnya, Badaka bukan sekadar ritual kecantikan tradisional. Ia adalah cerminan bagaimana perempuan Ternate menjadi penjaga warisan rempah, pelestari nilai-nilai budaya, sekaligus penghubung solidaritas sosial dalam masyarakat. Melalui tradisi ini, kejayaan rempah-rempah Ternate tidak hanya dikenang dalam buku sejarah, tetapi terus hidup dalam praktik keseharian masyarakat. Merawat Badaka berarti merawat identitas, memperkuat modal sosial, dan memastikan bahwa semangat “Kota Rempah” tetap tumbuh di tengah perubahan zaman.










