POSTTIMUR.COM, TIDORE – Peresmian Jembatan Merah Putih Presisi “Thubulew” di Kelurahan Gurabati, Kecamatan Tidore Selatan, Kota Tidore Kepulauan, Kamis (13/8/2026), mendapat sorotan dari pemuda dan masyarakat setempat.
Jembatan yang diresmikan oleh Polda Maluku Utara tersebut disebut warga bukan merupakan jembatan yang dibangun dari awal oleh pihak kepolisian. Menurut masyarakat Thubulew, jembatan itu telah lebih dahulu dibangun secara swadaya melalui inisiatif dan gotong royong masyarakat, jauh sebelum adanya program Jembatan Merah Putih yang menjadi program Presiden.
Warga menyebut, menjelang peresmian, pihak kepolisian hanya melakukan sejumlah pekerjaan tambahan, seperti memasang pagar di sisi jembatan dan melakukan pengecatan. Setelah itu, jembatan tersebut kemudian diresmikan sebagai Jembatan Merah Putih Presisi “Thubulew”.
Pemuda Thubulew, Zulfitra Toduho, saat ditemui wartawan mempertanyakan mengapa jembatan yang sejak awal dibangun oleh masyarakat kemudian masuk dalam program Jembatan Merah Putih Presisi.
Menurut Zulfitra, pembangunan jembatan tersebut merupakan hasil inisiatif masyarakat sebelum adanya program Jembatan Merah Putih dari Presiden Prabowo.
“Kenapa jembatan yang dibangun masyarakat dan merupakan hasil dari inisiatif masyarakat ini kemudian diresmikan menjadi Jembatan Merah Putih? Sebelum ada program Jembatan Merah Putih dari Presiden Prabowo, masyarakat sudah membangun jembatan ini,” ujar Zulfitra.
Ia mengatakan, masyarakat tidak pernah mengetahui adanya program pembangunan jembatan dari pihak kepolisian sebelumnya. Namun, menjelang peresmian, tiba-tiba dilakukan pemasangan pagar dan pengecatan.
“Kami juga tidak ada program jembatan. Tiba-tiba pihak kepolisian memasang pagar dan mengecat, kemudian diresmikan oleh Polda Maluku Utara menjadi Jembatan Merah Putih. Seakan-akan jembatan ini dibangun oleh pihak kepolisian, dalam hal ini Polda Maluku Utara,” katanya.
Zulfitra juga mempertanyakan apakah terdapat bantuan atau anggaran yang diberikan kepada masyarakat Thubulew yang sebelumnya membangun jembatan tersebut.
Pertanyaan itu muncul karena jembatan tersebut kemudian diresmikan sebagai bagian dari program Jembatan Merah Putih yang disebut sebagai program Presiden.
“Apakah pihak kepolisian memberikan uang atau bantuan kepada masyarakat yang membangun jembatan ini ketika mau diresmikan sebagai Jembatan Merah Putih yang menjadi program Presiden?” tanya Zulfitra.
Menurutnya, masyarakat tidak mempersoalkan jika pihak kepolisian memberikan perhatian terhadap jembatan tersebut. Namun, kontribusi masyarakat yang sejak awal membangun jembatan harus tetap diakui dan dijelaskan secara terbuka.
Sementara itu, salah seorang warga mengaku sempat mendengar dari pihak kepolisian bahwa peresmian Jembatan Merah Putih Presisi “Thubulew” tersebut hanya bersifat simbolik.
Menurut warga tersebut, hal itu berkaitan dengan pembangunan Jembatan Merah Putih di wilayah Oba yang hingga kini belum selesai.
“Saya sempat mendengar dari pihak kepolisian bahwa peresmian jembatan merah putih ini hanya simbolik, mengingat pembangunan jembatan merah putih di Oba belum selesai,” ungkapnya.








