Kisah Bang Moge, Anak Muda 26 Tahun yang Menjadi Pengusaha Sukses

Opini1281 Dilihat

Foto : Bang Moge saat Pertama Masuk PT. IMIP

“Cerita perjalanan karir seorang anak petani yang masih sangat muda menjadi pengusaha sukses dengan laba bersih 35juta/bulan”.

Dulunya ia harus bekerja sebagai seorang pelayan dan buruh pada toko bangunan untuk mencari modal dengan cita-cita bisa melanjutkan kuliah program pasca sarjana di pulau jawa.

Pria itu bernama Riswanto S. M (26), atau biasa disapa Moge, Pria yang lahir di atas gunung di pelosok desa tepatnya di Desa Porehu Kecamatan Porehu Kabupaten Kolaka Utara Provinsi Sulawesi tenggara pada 3 April 1995 siapa sangka kelak menjadi pengusaha yang sukses pada usianya yang masih muda.

Awal ceritanya, Riswanto kuliah di universitas Andi Djemma Palopo Fakultas Ekonomi Prodi Manajemen SDM, Riswanto semasa kuliah terlibat aktif dengan berbagai kegiatan organisasi intra maupun ekstra kampus.

Saat ditanya apakah punya keinginan untuk lanjutkan studi ?

Foto : Bang Moge saat Masuk Kampung Inggris pare

“pasti pengen dong lanjut S2, apa lagi itu adalah harapan Orang tua saya.  Jadi pas kuliah saya aktif di kampus dan organisasi dengan harapan bisa mendapatkan ilmu lebih persiapan S2 di jawa, makanya saya selesaikan kuliah cepat hanya dalam waktu 3,6 bulan saja dengan IPK 3,72″

Selesai kuliah berangkatlah saya ke kediri (kampung inggris) kursus bahasa inggris dengan tujuan bisa dapat skor tinggi toefl sebagai syarat masuk perguruan tinggi di jawa untuk lanjutkan study S2.

Setelah 3 bulan kursus akhirnya hijrah ke Jogja dengan rencana untuk mendaftar study S2 di UGM, karena pendaftarannya belum dibuka saya mondok pesantren 3 bulan sambil belajar.

Awalnya mendaftar di UGM lewat jalur beasiswa tapi karena syarat ilmiahnya tidak terpenuhi makanya alternatif lewat jalur mandiri. Namanya S2 kan pasti mahal apalagi di kampus ternama.

Karena bapak sakit-sakitan ekonomi menjadi penghalang saya untuk lanjut study S2. Dengan berat hati saya terpaksa harus memutuskan untuk pulang kampung.

Foto : Foto Bang Moge saat Masuk di UGM

Saat perjalanan menuju kampung, saya memutuskan untuk tidak terus ke kampung tanah kelahiran karena ada rasa malu dan kecewa. Akhirnya saya memutuskan untuk merantau ke Morowali, Sulawesi Tengah yang katanya disana ada tambang nikel yang besar.

Anak muda yang juga menjalankan usaha menjual buku untuk biaya hidup semasa di pulau jawa dan sempat jual beli hp bekas semasa Kuliah di kota Palopo memutuskan berangkat ke Morowali dengan menumpang mobil milik keluarganya yang kebetulan bekerja sebagai driver lintas Makassar Morowali, setibanya di Morowali dia menumpang di rumah keluarga dan bekerja sebagai pelayan di toko alat dan bahan bangunan yang kebetulan juga adalah usaha milik dari salah satu keluarganya di Morowali.

Setelah seminggu di Morowali, saya buat lamaran kerja ke PT. IMIP. Kurang lebih 3 bulan baru ada panggilan test. Selama 3 bulan itu saya di toko bantu jualan dan antra-antar pesanan barang pelanggan.

Sampai saya bekerja saya masih ditempat keluarga, tidak ngeKost. Lumayan kan pulang kerja bisa langsung bantu-bantu di toko jadi ada pemasukan tambahan untuk beli obat bapak.

Bagaimana awal mula bang Moge merintis usahanya, apa metode yang abang pakai ?

Foto : Bang Moge saat Jalin Kerjasama Pengusaha Kayu di Morowali

Nah disni awal Mulanya, Jadi selama saya di toko keluarga saya mempelajari banyak hal tentang usaha, transaksi Jual beli, belajar laba rugi, intinya bnyak belajar tentang usaha.

Selama bekerja di toko milik keluarga itu pula saya banyak menemukan orang mencari kayu untuk membuat rumah. Karena ini toko bangunan hanya menyediakam bahan seperti semen, besi dan lain-lain. Sedangkan orang masih banyak yang belum memiliki modal buat rumah permanen. Banyak orang yang hanya butuh kayu buat bangun rumah-rumah kecil.

Dari situ peluang saya temukan. Seperti mata kuliah Teori Analisis Swot  sewaktu masih Kuliah.

“Paling penting dalam usaha adalah keberanian mencoba. Kalau takut gagal maka pasti takut mencoba dan itu tidak akan bisa”.

Peluang dan kesempatan itu sudah ada, namun saya bukan ahli pada wilayah kayu. Karena kebetulan bapak saya dimasa mudanya perna kerja kayu juga, maka saya mencoba belajar dari bapak lewat telepon. Meskipun bapak sedang sakit, saya tetap mncoba belajar karena saya melihat peluang ini besar maka saya inisiatif untuk mendatangkan orang tua untuk melihat potensi usaha yang bisa di kembangkan dengan menjual kayu.

“Peluang usaha itu ada setiap saat, jika diolah dengan baik maka pasti akan dapat pula yang baik”.

“Kebetulan yang punya toko ini kan kluarga, punya tanah kosong di pinggir jalan dia meminjamkan lahannya itu untuk saya membuka usaha. Mungkin karena selama saya ditoko bantu-bantu itu tidak perna ada masalah dalam mengelolah pembeli ataupun hasil transaksi jual beli barang. Saya Perna di ajak untuk bekerja di toko sebagai penanggunjawab dengan membarikan gaji sebulan 7-15 juta tetapi syaratnya harus resign dari perusahan, biar lebih fokus kan”.

Berbeda dengan orang pada umumnya ketika sudah mendapatkan peluang dengan gaji seperti itu mungkin akan memilih resign dari perusahan. Tetapi Moge memilih untuk tidak resign dan menjalankan aktivitas kerja di PT. IMIP sekaligus menjalankan bisnis kecilnya.

“Saya menolak untuk resign bukan karna Gaji, tapi pada saat itu saya bekerja belum cukup setahun di PT.IMIP. Saya masih ingin menikmati pekerjaan saya itu meskipun cuman Kuli dan buruh pabrik tapi betul-betul hasil keringat sendiri”.

“Selagi kerjaan saya tidak menghalangi usaha saya dan usaha saya tidak menghalangi kerjaan saya. Untuk apa resign. Memang di buruh pabrik cukup menguras tenaga tapi terasa berkahnya”.

Akhirny Moge dipinjamkan lahan dari keluarganya pemilik toko tempat bang Moge pernah kerja saat pertama datang ke Morowali.

“Jadi saya gunakan uang tabungan selama bekerja untuk membangun gubuk kecil dan mulai merintis usaha mandiri menjadi penyuplai kayu

Setelah membangun gubuk, saya kehabisan dana. karena keluarga ini baik dan percaya sama saya, ia berikan pinjaman modal sebesar 15 juta untuk memulai membeli kayu.

Awanya, saya tidak tahu alurnya jual kayu jadi saya serahkan sama orang tua kebetulan kesehatan bapak pada saat itu sudah mendingan. Berjalan 3 bulan bapak sakit parah kena jantung dan lambung terpaksa harus dilarikan ke RS dan dirujuk dari Morowali ke Kota Palopo semenjak saat itu mau tidak mau saya harus turun langsung di bekali ilmu selama berapa bulan jadi ada sedikit pengetahuan tambahan.

Karena saya juga bekerja di PT. IMIP maka usaha ini tidak begitu terlaluh aktif, tapi peminat kayu begtu banyak. Jika di Hitung pesanan bisa sampai 50 kubik/bulan padahal bisnis baru jalan 3 bulan.

Setelah berjalan satu tahun omset alhamdulilah meninggat setiap bulan nya. Dari situ akhirnya saya bisa beli mobil sendiri  bisa dipakai untuk keperluan bapak berobat ke kota Palopo dari harus nyewa mobil tiap Minggunya untuk keperluan berobat.

Saya pikir dri pada saya lanjut S2 tidak ada duit, adik juga baru masuk kuliah di UIN Makassar beruntungnya dia jalur beasiswa tapi kan tetap butuh uang keperluan sehari-hari. Moge memilih membeli mobil untuk keperluaan keluarga dan orang tua yang sakit.

Menjalankan bisnis kayu memang banyak lika-likunya, karena harus berurusan dengan petugas kepolisian. Maka dari situ saya banyak belajar, banyak kenalan dengan petugas polisi dan polisi khutanan. Karena tak jarang beberapa kali kita di tahan petugas karena tidak memiliki izin menjual, ijin menampung dan ijin-ijin lainnya.

Tepatnya 04 februari 2020 Moge mempersunting wanita idamannya yg sudah lama ia sukai Moge menikah 09.09.2020 “Saat menikah saya ambil cuti, berhubung karena cuti nikahnya di saat pandemi makanya saya tidak dipanggil bekerja lagi karena habis dari luar kota tidak diperbolehkan masuk ke perusahan, jadi selama 4 bulan saya tidak diperbolehkan masuk perusahan tapi gaji pokok tetap dibayar”

Foto : Bang Moge bersama Isteri Tercinta

Disini saya manfaatkan untuk bisnis yang saya rintis, saya punya cukup banyak waktu untuk bersilaturahmi dengan semua pengusaha kayu di morowali yang lebih dulu berkiprah.

Intinya dalam tahap belajar untuk melegalitaskan dokumen kayu jual beli nantinya

Kebetulan toko bangunan keluarga saya berkembang dengan pesat maka dia buka cabang lagi, sekarang sudah 4 cabang. Dari situlah ia berniat membuat perusahaan dalam bentuk CV. dan mempercayakan saya sebagai wakil direkturnya Nama nya CV. Rezky Sahira Morowali sekarang kerja sama dengan semua pengusaha Kayu dan membuat kontrak kerjasama dengan perusahan-perusahan kayu lainnya yg memiliki dokumen lengkap.

Bagaimana Moge bisa membagi waktu dengan memiliki banyak tanggungjawab?

“Saya kam alumni ekonomi manajemen, pastinya saya banyak belajar tentang POAC (Planning, Organizing, Aktuating Dan Contoling), masa anak Ekonomi gak bisa atur waktu kan Lucu, meskipun saya aktif bekerja di PT.IMIP , wakil direktur di CV. Rezky Sahira Morowali, kemudia memiliki Usaha Jual beli Kayu sendri saya Bisa atur waktu kok, meskipun kerja dari pagi sampai tengah malam. Tapi proses tidak menghianati Hasil kok” ungkapnya sambil tertawa

“Jadi strategi saya gunakan adalah dengan merangkul semua pengusaha Kayu dengan membentuk wadah yang di sebut Asosiasi Pengusaha Kayu (APEK) Morowali, di dalam APEK banyak perusahaan Kayu jadi saya belajar banyak dari situ”

Alhamdulillah sekarang sudah maksimal, sampai sekarang sudah mencapai 150 kubik/bulan. Dari 5 Juta keuntungan perbulan sekarang sudah hampir mencapai 40 juta dalam satu bulan dengan total 250jt transaksi dalam sebulan.

Sekarang sudah mempekerjakan 23 orang operator Chainsaw, 20 orang Helper. 2 orang Driver hartop, 1 orang Operator Kapal Laut, 1 orang driver khusus antar pesanan, 2 orang kernet dan 1 orang yang stanbay di penampungan Kayu. Dengan fasilitas mes, makan dan Wifi. Gaji karyawan diluar lembur.

Sekarang perusahan CV.Rezky Sahira Morowali membangun kerjasama sebagai penyuplai alat dan Bahan bangunan dengan beberapa perusahaan Kontraktor yang berada di kawasan PT. IMIP.

Apa capaian Moge selama ini dan tujuam capaian kedepan ?

“Sebagai anak petani yang dulunya di sekolahkan dengan sdikit uang pinjaman, maka kedepan saya pelan-pelan membayar Hutang orang tua yang membiayai saya sewaktu sekolah sampai kuliah, kemudian menyekolahkan adik sampai s2 sesuai harapan orang tua, memberikan pelayan kesehatan yang baik buat orang tua agar cept sembuh dan bisa beraktifitas kembali, kalau untuk anak dan istri aman saja soalnya gaji sama istri semua. Kalau soal rumah pribadi kami semntara nabung buat beli tanah Dulu. jadi kalau orang lihat pendapatan mungkin besar tapi orang tidak tau tanggungjawab dan kebutuhannya banyak”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *