Oleh: Dr. Nurul Hidayah, SE, M.SI
Di tengah wajah politik yang sering dipenuhi janji, masyarakat biasanya lebih mudah mengingat pemimpin yang meninggalkan jejak nyata dibanding sekadar pidato. Kota Ternate pernah memiliki sosok seperti itu, yakni almarhum Haji Burhan Abdurahman atau yang akrab dikenal sebagai Haji Bur. Bagi sebagian masyarakat Maluku Utara, Haji Bur bukan hanya mantan wali kota dua periode, melainkan simbol kepedulian sosial yang lahir langsung dari denyut kehidupan rakyat kecil.
Nama Haji Bur kembali menjadi perbincangan masyarakat ketika jenazahnya dipulangkan dari Makassar ke Ternate pada tahun 2026. Ribuan warga menyambut kepulangannya dengan haru. Momen itu menunjukkan bahwa penghormatan masyarakat terhadap seorang pemimpin tidak selalu lahir karena kekuasaan, melainkan karena kedekatan emosional yang dibangun selama hidupnya. Haji Bur meninggalkan sesuatu yang lebih besar dari jabatan, yakni keteladanan sosial melalui gerakan Barifola.
Barifola bukan sekadar program bantuan rumah. Ia adalah simbol budaya gotong royong masyarakat Maluku Utara. Kata “Barifola” sendiri berasal dari tradisi Tidore yang bermakna membangun rumah secara bersama-sama. Dalam praktiknya, gerakan ini membantu masyarakat miskin yang rumahnya tidak layak huni. Menariknya, program tersebut tidak bergantung penuh pada anggaran pemerintah daerah. Barifola lahir dari semangat solidaritas sosial masyarakat.
Banyak orang mengenal adanya dana “calamoi” atau sumbangan kecil dari anggota Ikatan Keluarga Tidore (IKT). Namun dalam berbagai kesaksian keluarga dan penelitian akademik, disebutkan bahwa pada tahap awal pembangunan, Haji Bur justru lebih banyak menggunakan dana pribadinya sendiri untuk membangun rumah pertama Barifola. Di sinilah letak nilai moral yang jarang ditemukan dalam politik modern. Ketika sebagian orang memanfaatkan jabatan untuk memperkaya diri, Haji Bur menggunakan hartanya untuk membantu masyarakat.
Tentu saja, Barifola bukan solusi tunggal mengatasi kemiskinan. Pemerintah tetap memiliki tanggung jawab besar menyediakan lapangan kerja, pendidikan, dan pelayanan kesehatan yang baik. Akan tetapi, Barifola memperlihatkan bahwa kepedulian sosial tidak harus selalu menunggu birokrasi panjang. Kadang, perubahan besar justru lahir dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Keberhasilan Barifola juga menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sebenarnya masih memiliki budaya gotong royong yang kuat. Selama ini, banyak orang beranggapan bahwa semangat kebersamaan mulai hilang akibat perkembangan zaman dan individualisme. Namun gerakan Barifola membuktikan sebaliknya. Ketika ada tokoh yang dipercaya dan memiliki ketulusan, masyarakat akan ikut bergerak membantu.
Haji Bur memahami bahwa menjadi pemimpin bukan hanya soal mengatur pemerintahan, tetapi juga hadir di tengah kesulitan rakyat. Karena itu, warisan terbesar yang ia tinggalkan bukanlah bangunan fisik atau proyek besar kota, melainkan rasa kemanusiaan yang terus hidup di masyarakat. Tidak semua pemimpin mampu dikenang dengan cinta oleh rakyatnya setelah wafat. Banyak yang justru cepat dilupakan begitu masa jabatan selesai. Namun Haji Bur tampaknya berhasil meninggalkan kesan berbeda.
Kisah pemindahan makamnya dari Makassar ke Ternate juga memperlihatkan betapa kuatnya penghormatan masyarakat kepada beliau. Bahkan muncul berbagai cerita yang berkembang di tengah masyarakat mengenai kondisi jasad beliau saat pemindahan makam. Terlepas dari benar atau tidaknya cerita tersebut, hal yang paling penting adalah bagaimana masyarakat memandang Haji Bur sebagai sosok yang berjasa dan memiliki nilai kebaikan selama hidupnya.
Dalam konteks hari ini, Indonesia sebenarnya membutuhkan lebih banyak pemimpin seperti Haji Bur, yakni pemimpin yang tidak menjaga jarak dengan rakyat kecil. Masyarakat sudah terlalu sering menyaksikan pejabat yang sibuk membangun citra, tetapi minim empati sosial. Padahal ukuran keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya dilihat dari angka pertumbuhan ekonomi atau pembangunan infrastruktur, melainkan juga dari seberapa besar manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat bawah.
Barifola memberikan pelajaran bahwa pembangunan sosial bisa dimulai dari hati nurani. Program itu lahir bukan karena kepentingan politik nasional, melainkan karena kegelisahan melihat rakyat yang hidup dalam rumah tidak layak huni. Kepedulian seperti inilah yang perlahan mulai langka dalam kehidupan publik kita.
Kini Haji Bur memang telah tiada. Namun semangatnya seharusnya tidak ikut terkubur bersama waktu. Barifola semestinya terus dijaga sebagai gerakan sosial masyarakat Maluku Utara. Sebab sebuah daerah tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik, tetapi juga membutuhkan manusia-manusia yang saling peduli satu sama lain.
Pada akhirnya, masyarakat akan selalu mengingat pemimpin yang menghadirkan manfaat nyata dalam kehidupan mereka. Jabatan bisa berakhir, kekuasaan bisa hilang, tetapi kebaikan akan terus hidup dalam ingatan rakyat. Dan itulah yang tampaknya berhasil diwariskan oleh Haji Bur kepada Ternate dan Maluku Utara.










