Oleh : Tri Yuyanti
Dalam beberapa dekade terakhir, komunikasi politik mengalami perubahan signifikan, khususnya dalam hal menjangkau generasi muda. Meskipun demikian, masih banyak generasi muda yang menunjukkan sikap apatis terhadap politik. Mereka sering merasa jauh dari isu-isu politik, memandangnya sebagai sesuatu yang rumit, koruptif, dan tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari. Ketidaktertarikan ini tidak lepas dari cara politik disajikan dan dikomunikasikan yang sering kali kaku, elitis, dan belum mampu menyentuh kebutuhan serta cara berpikir generasi muda.
Salah satu penyebab utama sikap apatis generasi muda terhadap poltik adalah komunikasi politik yang masih terpaku pada cara-cara lama. Banyak politisi atau partai menggunakan retorika yang kaku dan media konvensional seperti televisi atau baliho, tanpa memahami komunikasi digital yang akrab dengan anak muda. Di era media sosial, narasi yang tidak otentik dan terkesan menggurui justru membuat anak muda menjauh. Pesan-pesan politik yang tidak disesuaikan dengan konteks budaya dan bahasa generasi muda, akan membuat jarak antara mereka dan dunia politik melebar.
Meski begitu, tidak semua strategi komunikasi politik gagal. Beberapa tokoh dan gerakan politik berhasil menarik perhatian pemilih muda dengan pendekatan yang lebih segar dan partisipatif. Mereka menggunakan media sosial secara kreatif, memanfaatkan meme, video pendek, dan bahkan bekerja sama dengan influencer. Strategi ini bukan sekadar menjangkau secara teknis, tetapi juga menciptakan kedekatan emosional dan rasa memiliki terhadap isu-isu yang dibawa. Pendekatan seperti ini berhasil mengubah politik menjadi ruang dialog, bukan monolog.
Upaya menjangkau pemilih muda juga terjadi saat komunikasi politik mengedepankan isu-isu yang relevan bagi kehidupan mereka seperti pendidikan, lapangan kerja, lingkungan, dan keadilan sosial. Ketika anak muda merasa bahwa suara mereka didengar dan diperhitungkan, mereka lebih mungkin terlibat aktif. Oleh karena itu, keberhasilan komunikasi politik tidak cukup hanya mengandalkan media penyampaian, tapi juga bergantung pada isi pesan dan empati yang mendaasarinya.
Sering kali, politisi hanya tampil seolah-olah dekat dengan anak muda menjelang pemilu, tanpa niat membangun relasi yang berkelanjutan. Sikap ini memicu ketidakpercayaan dan pandangan skeptis dari generasi muda. Mereka melihat diri mereka lebih sebagai objek politisasi ketimbang sebagai mitra sejajar dalam proses politik. Fenomena ini memperlihatkan bahwa pendekatan komunikasi yang sementara dan tidak mendalam justru mempertebal jarak serta memperkuat apatisme politik. Agar generasi muda tidak semakin menjauh dari proses politik, dibutuhkan strategi komunikasi yang merangkul, terbuka untuk dialog, dan berlangsung secara konsisten. Politisi harus mulai mendengarkan, bukan hanya berbicara. Mereka harus hadir di ruang-ruang digital sebagai mitra diskusi, bukan sekadar pencitraan. Komunikasi politik yang berhasil bukan hanya soal menarik perhatian sesaat, tetapi membangun kepercayaan jangka panjang. Dengan demikian, keterlibatan politik generasi muda bisa tumbuh dari kesadaran, bukan sekadar kampanye.










