Hilirisasi Nikel Mengubah Wajah Maluku Utara, Masyarakat Obi Tuntut Keadilan Pembangunan

Breaking News1000 Dilihat

POSTTIMUR.com, MALUT- Provinsi Maluku Utara kini menjadi sorotan nasional berkat lonjakan pertumbuhan ekonominya yang luar biasa dalam beberapa tahun terakhir. Terbentuk secara resmi pada 4 Oktober 1999 melalui Undang-Undang RI Nomor 46 Tahun 1999 dan Nomor 6 Tahun 2003, provinsi yang beribu kota di Sofifi, Pulau Halmahera ini dulunya merupakan bagian dari Provinsi Maluku, yaitu Kabupaten Maluku Utara dan Halmahera Tengah.

Maluku Utara kini diprediksi menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia. Prediksi ini tidak lepas dari geliat hilirisasi industri nikel yang berkembang pesat di wilayah tersebut.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Maluku Utara pada tahun 2022 tercatat sebesar 22,94%, jauh melampaui rata-rata nasional yang hanya 4,87%. Bahkan saat dihantam pandemi COVID-19 pada 2020, pertumbuhan ekonomi provinsi ini tetap tumbuh sebesar 4,92%. Angka itu meningkat menjadi 16,79% pada 2021 dan melonjak drastis hingga 34,58% pada 2025. Lonjakan ini menjadikan Maluku Utara sebagai salah satu provinsi dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia, bahkan dijuluki sebagai provinsi “paling bahagia”.

Sahrun Imawan, Sekretaris Menteri Luar Negeri di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Khairun, menjelaskan bahwa kemajuan ini sangat dipengaruhi oleh keberhasilan program hilirisasi nikel.

“Ada dua komponen utama yang mendorong pertumbuhan ekonomi Maluku Utara, yakni investasi dan ekspor. Keduanya selaras dengan kebijakan pemerintah pusat yang melarang ekspor nikel mentah,” ujar Imawan.

Ia menambahkan bahwa investasi besar-besaran yang masuk ke Maluku Utara juga berkontribusi pada peningkatan lapangan kerja. Data BPS menunjukkan jumlah tenaga kerja di provinsi ini meningkat dari sekitar 520 ribu orang pada 2019 menjadi hampir 670 ribu pada akhir 2024.

“Jika hilirisasi ini bisa mendorong hingga tahap end product, maka tingkat kesejahteraan masyarakat akan meningkat secara signifikan,” pungkas Imawan.

Salah satu pusat hilirisasi terbesar di Maluku Utara terletak di Pulau Obi, Halmahera Selatan. Di wilayah ini, perusahaan-perusahaan seperti PT Trimegah Bangun Persada Tbk dan Harita Nickel beserta afiliasinya menjalankan aktivitas penambangan, pengolahan, dan pemurnian nikel.

Reinhard Siar, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Kawasi, menyatakan bahwa kehadiran perusahaan-perusahaan nikel telah membawa banyak perubahan bagi masyarakat lokal. Sebelum adanya industri, masyarakat hidup sebagai petani dan nelayan dengan hasil yang hanya cukup untuk kebutuhan sendiri.

“Hasil pertanian dan laut tidak punya pasar. Setelah perusahaan masuk, hasil itu bisa dijual dan menghasilkan uang. Bahkan perusahaan juga membuka lapangan kerja bagi warga,” ungkap Reinhard.

Salah satu warga Desa Kawasi, Mama Ambon (Cing Ollong), yang berprofesi sebagai penjual ikan, juga merasakan manfaat langsung. Sebelum ada perusahaan, ia hanya menjual sekitar 40 kg ikan per hari. Kini, dengan meningkatnya permintaan dari perusahaan, ia mampu menjual hingga 200 kg per hari.

Baca Juga:

POKDARKAMTIBMAS Apresiasi Keseriusan Polda Maluku Utara Berkantor di Sofifi

Pengukuhan Siswa Baru MTs Muhammadiyah Soasio 2025: Menanam Nilai, Membangun Karakter

Meski pertumbuhan ekonomi meningkat, masyarakat Pulau Obi berharap pemerintah tidak menutup mata terhadap kebutuhan dasar mereka, khususnya pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

“Masyarakat Obi tidak menolak investasi dan pembangunan. Tapi kami menuntut pembangunan yang adil dan merata,” ujar tokoh masyarakat setempat.

Masyarakat berharap agar kehadiran industri besar ini dibarengi dengan perhatian serius dari pemerintah, terutama dalam mempercepat pembangunan infrastruktur dasar yang selama ini masih tertinggal.

Editor: Ikhy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *