POSTTIMUT.COM, Haltim_ Turnamen Alfatar Cup II memasuki babak yang kian panas. Salah satu duel yang paling ditunggu akhirnya tersaji pada Senin, 10 November 2025, ketika Organda, tim bertabur bintang hasil transfer dari berbagai liga profesional, berhadapan dengan The Foxsis, tim muda yang digawangi pemain-pemain lokal penuh semangat dan determinasi tinggi.
Pertandingan yang sejak awal dijuluki “final dini” itu benar-benar menghadirkan drama di atas lapangan. Organda datang dengan kepercayaan diri berlebih, mengusung nama besar dan deretan pemain bayaran yang konon siap “menyapu bersih” turnamen. Tapi kenyataan di lapangan berkata lain: mereka harus menelan pil pahit dari skuad muda The Foxsis yang bermain dengan hati dan energi tanpa kompromi.
Sejak peluit awal, jual beli serangan berlangsung sengit. Organda menekan lewat permainan cepat dan rapi, namun The Foxsis tampil disiplin dengan pressing ketat yang membuat tim bertabur bintang itu frustrasi.
Menjelang akhir babak pertama, striker muda Ardi dijatuhkan di kotak penalti oleh bek Organda yang tampak kehilangan kendali. Wasit tanpa ragu menunjuk titik putih. Mate, sang talenta muda The Foxsis, maju sebagai eksekutor. Dengan ketenangan seorang veteran, ia menaklukkan kiper Organda dan mengubah skor menjadi 1-0.
Sorak-sorai penonton bergema The Foxsis unggul hingga turun minum, sementara wajah-wajah tegang mulai tampak di kubu Organda.
Tertinggal satu gol, Organda mencoba bangkit dengan permainan terbuka. Tapi justru di sinilah petaka dimulai. The Foxsis semakin beringas di babak kedua, bermain penuh percaya diri tanpa rasa takut menghadapi nama-nama besar di hadapan mereka.
Melalui skema bola mati, Suprianto, sang kapten dengan nomor punggung 9, mengirim umpan pojok tajam ke jantung pertahanan Organda. Mate lagi-lagi muncul sebagai pembeda sundulannya yang “manja tapi mematikan” bersarang di gawang lawan. Skor 2-0! Eforia pendukung The Foxsis meledak di lapangan baturaja.
Organda tampak kehilangan arah. Serangan mereka monoton, koordinasi buyar, dan sorotan mata para penonton berubah menjadi sindiran tim mahal itu kini hanya jadi bayangan dari reputasinya sendiri.
Peluit panjang berbunyi. The Foxsis berpesta. Sementara itu, pelatih Organda, Ibrahim, hanya bisa berdiri terpaku di pinggir lapangan. Wajahnya menyiratkan kecewa mendalam ambisi besar menjuarai Alfatar Cup II harus berakhir tragis di tangan skuad muda yang bermain dengan semangat tanpa pamrih.
Organda boleh bermegah dengan deretan pemain profesional, namun mereka diajarkan satu hal sederhana oleh The Foxsis: mental juara tidak bisa dibeli.(*)










