Kejujuran, Paradoks, Serta Mental Feodalisme

Opini199 Dilihat

Oleh: Riski Tarabubun

Kejujuran ialah mungkin sebuah representasi dari tindakan yang sakral dan Bijaksana. Kita acap kali disuguhkan mengenai apa itu Kejujuran serta Manfaatnya kepada Kita semua. Kejujuran Barangkali membentangkan sebuah sikap keterbukaan yang besar. (Baca Cak Nun: Sedang Tuhan Pun Cemburu).

Dalil-dalil tersebut seringkali di wejangani melalui perantara Kitab Suci. Dan pada kehidupan Demokrasi kejujuran artinya Demokratisasi (Membuka diri utk dikritik dan kebebasan menyampaikan kritik) Dengan membuka diri utk dikritik artinya kita siap berbenah terhadap diri sendiri serta siap menyerap Pendapat orang lain.

Kemudian Kebebasan menyampaikan kritik artinya kita Memiliki kepekaan tuk menyampaikan Apa yang selama ini perlu dievaluasi. Dengan cara itu kita turut andil dan memperkenankan nilai-nilai Kejujuran serta Demokratisasi bisa Bekerja secara Luas.

Setidaknya kaum terpelajar harus belajar jujur sejak dalam pikiran dan tindakan (Pramoedya Ananta Toer).

Redefinisi Makna, Kejujuran.

Membaca Relasi Kekuasaan.

Bersama Michael Foucault.

Namun kini, Di Tengah hiruk-pikuk Era millenium Ketiga dan perkembangan Mutakhir Ilmu Pengetahuan. Terminologi “KEJUJURAN” Mengalami Degradasi secara semantik.

Orang Cenderung membuat Padanan Makna/Kesebandingan Makna antara terminologi “KEJUJURAN vis a vis AMORAL (Kekurang ajaran)”. Alhasil orang Sukar Memahami Distingsi Makna antara Kejujuran dan tindakan Amoral (Kekurangajaran).

Reproduksi Makna Demikian cenderung lahir tuk memperkokoh Otoritas dan Keabsolutan Seseorang. Inilah yang dianalisis Michael Foucault Bahwasannya Kekuasaan tidak selamanya beroperasi Secara Despotic (intimidasi dan represif), namun ia juga bisa beroperasi secara Disipliner (Melalui Perangkat Ilmu Pengetahuan) Demi Memperkokoh Otoritas dan Keabsolutan. (Baca Arkeologi Pengetahuan M.Focualt)

Sehingga Kejujuran dalam Mengkritik seseorang sama halnya Melakukan tindakan Amoral (Kekurangajaran) terhadap orang Yang dikritik tersebut. Pola pergeseran dan Redefinisi makna tersebut terbaca melalui Potret kejadian sehari-hari dalam semua sendi-sendi Kehidupan Manusia. Baik pada ranah Pendidikan, Kebudayaan, Pemerintahan, dan lain-lain.

Dari De Saussere, Althusser sampai Gramsci.

Analisa Feodalisme Kebudayaan, Pendidikan.

Kita bukanlah Pencetus Bahasa, Namun Hasil dari Pembahasaan (Ferdinand De Saussere ) Itulah Esensi dari kerangka Sintagmatik dan Paradigmatik de saussere.

Berangkat dari analisa tersebut, maka ada yang palsu ketika kita membahasakan “Kritik” Secara Gramatikal. Sebab Pembahasaan tersebut kita warisi dari waktu ke waktu demi Menanamkan Mentalitas Feodalisme, tuk menghalau Kejujuran dan Kritisisme.

Padahal Menurut Gramsci: Melihat Kebudayaan Sebagai Sesuatu Yang Netral secara moral adalah sebuah kesalahan. (Baca:Marxisme Utk Pemula).

Alhasil Pemaknaan Terkait Kejujuran atau Demokratisasi yang disepadankan/disebandingkan dengan tindakan Amoral (Kekurangajaran). Sengaja dirawat demi Menanamkan Mentalitas Feodalisme.

Alhasil Kita tiba pada gejala Interpelasi dalam analisis Louis Althusser Yaitu sebuah keterpaksaan melihat dunia melalui kesadaran semu/palsu. Dalam hal ini melalui penyebaran budaya dan Mentalitas Feodalisme yang menghambat nilai-nilai Kejujuran.

Selanjutnya Kepalsuan terletak pada Eufisme (Kesopan Santunan Pembahasaan) ketika Mengkritik.

Kesopan-Santunan hanyalah Omong kosong Belaka, Sebab semakin kritikan mengalami Eufisme (Penyopanan Bahasa), maka itu semakin Mengaburkan Substansi atau point dari Kritikan.

Di ranah-ranah kampus Mental Feodalisme Dosen-dosen dan Guru-guru Besar Juga demikian kendati mereka Dibekali oleh ribuan Titelnya. Mereka Menghambat Suburnya Dalil-dalil Kejujuran Yang Disakralkan oleh Teologi dan kehidupan Demokrasi.

Mengkritisi Mereka secara Jujur Artinya Melakukan tindakan “Amoral (Kekurangajaran)” terhadap Mereka. Begitu pula pada ranah-ranah Sekolah, Guru-gurunya juga Mereproduksi hal yang sama.

Padahal menurut Sok Hoek Gie “Guru bukanlah Dewa yang selalu Benar, Dan Murid Bukanlah Kerbau yang selalu salah”.

Pada kalangan mahasiswa Pun Demikian Potretnya.

Sebagian dari mahasiswa yang katanya terpelajar itu pun sengaja Merawat dan mengedarkan Mental Feodalisme serta sifat Keabsolutan.

Kejujuran Dan Demokratisasi

(Kritik Oto kritik, Kebebasan tuk Mengkritik ) sengaja Dijegal atau dihilangkan dalam tradisi Kemahasiswaan. Jikalau terlalu jujur dan Lantang menyampaikan Kritikan maka siap-siap anda akan disidangkan melalui aspek Moralitas.

Kendati Di dalam Aksiologi Benar Salah itu Persidangan Rasionalitas (Kemasuk-akalan). Pada level Pemerintahan pun pemaknaan “Kejujuran” seringkali disepadankan dengan tindakan “Amoral (Kekurangajaran)”.

Jikalau terlalu jujur dalam Mengkritik pemerintah pun dianggap sebagai tindakan Amoral ( Kekurangajaran ) serta menyimpang.

Mental Feodalisme Memang-lah penghambat utama Proses Kejujuran Dan Demokratisasi, Saya teringat Pada era Sebelum Revolusi Prancis . Dulu di prancis pada era Feodalisme Louis 16.

Jikalau anda terlalu lantang dan jujur dalam Mengkritisi pemerintah, maka itu sama halnya dengan anda melakukan tindakan ”Amoral (Kekurangajaran)”

Terhadap Pemerintah dan juga Kekurangajaran Terhadap Tuhan. Pengetahuan tersebut dikerangkeng dalam adagium French : ” L’ Etat C’ Est Moi ” (Raja adalah Perpanjangan Tangan Tuhan). Baca: Para Penggerak Revolusi. L.Santoso A.Z.

Namun rakyat pada akhirnya muak dan mencetuskan Revolusi. Lalu melahirkan anti-tesa pengetahuan baru Yaitu:” Vox Populi Vox Day ” (Suara Rakyat ialah suara Tuhan).

Melalui Garis Besar Track-Record (Rekam Jejak) Tiap-tiap Peristiwa lintas zaman dari Era Feodalisme Prancis Hingga Kini di Era millenium Ketiga, telah kita lihat Bagaimana Secara Gramatikal Terminologi “KEJUJURAN” (DEMOKRATISASI) selalu di sepadankan/disamakan dengan tindakan “Amoral (Kekurangajaran)”.

Dan Mentalitas Feodalisme Masih subur sampai kini, Menjangkiti Ranah Pemerintahan, Pendidikan dan Seluruh Sendi-sendi kehidupan sosial lainnya.

Untuk melawan mental Feodalisme yang menggerogoti dan Menghambat Kemajuan Kejujuran, dan kebebasan Manusia. Maka kita bisa memulainya dari diri kita sendiri dan lingkungan disekitar kita. Caranya Dengan membuka diri untuk dikritik, demi melucuti sifat Keabsolutan.

Lalu mulai membangun kritik-oto-kritik sebagai langkah untuk melawan Mentalitas Feodal, yang selama ini memaksa kita hanya untuk Menganggukkan kepala, patuh, serta diam tidak berani bersuara keras.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *