Oleh: Pinky Sapulette
(Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Maluku Utara)
Organisasi mahasiswa tidak mati ketika pengurusnya dilantik, tetapi ketika gagasan berhenti bergerak. Di Kota Ternate, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) justru menghadapi situasi yang lebih mengkhawatirkan : kepengurusan berjalan, struktur lengkap, namun denyut gerakan nyaris tak terdengar di ruang publik mahasiswa.
Sebagai bagian dari Cipayung Plus, IMM sejak awal diposisikan bukan sekadar organisasi administratif, melainkan pilar moral dan intelektual gerakan mahasiswa. Tujuannya jelas, melahirkan akademisi Islam yang berakhlak mulia melalui trilogi gerakan : keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan. Trilogi ini bukan jargon seremonial, melainkan mandat ideologis yang seharusnya hidup dalam agenda nyata dan berkelanjutan.
Kritik ini penting ditegaskan sebagai kritik organisatoris, bukan personal. Sebab, organisasi tidak diukur dari khidmatnya prosesi pelantikan atau lengkapnya struktur kepengurusan, melainkan dari sejauh mana program kerja dijalankan dan dirasakan dampaknya. Dalam kajian organisasi kemahasiswaan, aktivitas intelektual dan kaderisasi merupakan indikator utama berfungsinya organisasi sebagai ruang pembelajaran kritis. Ketika agenda-agenda tersebut minim atau bahkan absen, organisasi berada pada kondisi stagnasi dan berisiko kehilangan relevansinya di mata kader dan publik.
Secara normatif, rapat kerja merupakan jantung perencanaan organisasi. Di sanalah visi diterjemahkan menjadi program, target, dan agenda yang terukur. Namun, ketika rapat kerja tidak diikuti oleh rangkaian kegiatan yang konsisten, persoalan yang muncul bukan semata teknis pelaksanaan, melainkan keseriusan kepemimpinan dalam menghidupkan organisasi. Dalam situasi demikian, pelantikan dan rapat kerja berpotensi berhenti sebagai seremoni administratif, bukan sebagai awal konsolidasi gerakan.
Jika menengok periode kepengurusan sebelumnya, IMM Kota Ternate pernah menunjukkan ritme gerakan yang relatif lebih hidup. Diskusi, FGD, peringatan Milad Muhammadiyah, serta kegiatan kaderisasi ideologis berjalan lebih intensif. Perbandingan ini bukan untuk mengultuskan masa lalu, melainkan untuk menegaskan bahwa IMM Kota Ternate memiliki modal pengalaman dan tradisi gerakan yang kuat. Ketika modal tersebut tidak dimanfaatkan, stagnasi bukan lagi soal keterbatasan, melainkan soal pilihan.
Absennya IMM Kota Ternate dalam diskursus publik lokal juga patut menjadi perhatian serius. Kota Ternate tengah dihadapkan pada berbagai isu strategis, mulai dari persoalan pendidikan tinggi, kebijakan publik daerah, hingga problem sosial kemasyarakatan. Dalam konteks Cipayung Plus, organisasi mahasiswa semestinya hadir sebagai mitra kritis dan agen perubahan. Ketika peran tersebut tidak dijalankan, IMM kehilangan salah satu fungsi historisnya sebagai kekuatan penyeimbang.
Dari sudut pandang manajemen organisasi, kondisi ini mencerminkan lemahnya tata kelola program. Tidak adanya kalender gerakan yang jelas, minimnya publikasi aktivitas intelektual, serta absennya evaluasi program menunjukkan bahwa mesin organisasi belum digerakkan secara optimal. Padahal, agenda sederhana namun konsisten seperti diskusi bulanan, kajian ideologis kader, atau forum respons isu lokal sudah cukup untuk menjaga denyut organisasi tetap hidup.
Karena itu, kritik ini harus dibaca sebagai peringatan dini. PC IMM Kota Ternate berada di persimpangan : terus bertahan dalam sunyi aktivitas, atau segera melakukan pembenahan serius. Langkah minimal yang perlu ditempuh adalah menyusun kalender gerakan yang realistis, mengaktifkan ruang diskursus intelektual, memperkuat kaderisasi ideologis, serta hadir secara aktif dalam isu-isu lokal yang relevan.
Pada akhirnya, IMM tidak diukur dari siapa ketua umumnya, melainkan dari sejauh mana kepengurusan mampu menghidupkan nilai, gagasan, dan gerakan. Sebab, dalam sejarah gerakan mahasiswa, organisasi yang berhenti bergerak pada hakikatnya sedang berjalan menuju kemunduran.










