MANIFESTO KEJAYAAN BANDAR KOSMOPOLITAN 

Opini131 Dilihat

MANIFESTO KEJAYAAN BANDAR KOSMOPOLITAN

(Kado HAJAT Ke 775 Tahun)

Oleh : Muhammad Fajri, S. SOS, MM, ME (Direktur Studi Pembangunan Desa – SIBUA MALUT)

Membangun Ternate sebagai rumah humanis bagi seluruh bangsa. Cara berpikir generasi hari ini adalah warisan bagi generasi akan datang.”

​Menelusuri jejak sejarah Ternate adalah perjalanan menembus lorong waktu yang membawa kita pada abad ke-13, di mana pulau kecil ini mulai menancapkan pengaruhnya sebagai episentrum perdagangan dunia yang tak tertandingi. Sejak masa Kolano hingga transformasi menjadi Kesultanan yang agung, Ternate tidak pernah dirancang untuk menjadi wilayah yang tertutup atau eksklusif. Sebaliknya, Ternate tumbuh sebagai laboratorium kosmopolitan tertua di Nusantara Timur, sebuah pelabuhan bebas di mana aroma cengkih menjadi magnet yang mempertemukan berbagai peradaban besar dunia.

Latar belakang historis ini membuktikan bahwa Ternate sejak awal adalah sebuah “Bandar Rumah” sebuah titik temu di mana suku-suku di Maluku Utara dan etnis Arab, Tionghoa, Melayu, Jawa, hingga bangsa-bangsa Eropa berinteraksi bukan hanya sebagai mitra dagang, tetapi sebagai penghuni yang saling memengaruhi struktur sosial, arsitektur, dan bahasa. Keberhasilan Ternate dalam mempertahankan kedaulatannya selama berabad-abad bukan karena isolasi, melainkan karena kemampuannya mengelola keberagaman di bawah payung hukum adat Se Atorang yang inklusif, menjadikan perbedaan etnis sebagai energi untuk berdiri tegak di tengah persimpangan kepentingan dunia.

​Dalam usianya yang kini menyentuh 775 tahun, esensi Ternate sebagai “Bandar Rumah yang Humanis” perlu dibangkitkan kembali sebagai antitesis dari sekat-sekat sektarian modern. Humanisme di Ternate bukanlah sekadar konsep teoretis, melainkan praktik hidup sehari-hari yang tercermin dalam semangat Marimoi Ngone Futuru. Kota ini harus dirasakan sebagai rumah yang ramah bagi setiap individu, di mana setiap orang yang menetap di kaki Gunung Gamalama, apapun latar belakang etnisnya dan bangsanya telah menyumbangkan warna berharga pada mosaik budaya Ternate.

Namun, predikat sebagai penghuni rumah ini membawa konsekuensi moral yang besar bagi target jangka panjang kita. Kita harus menyadari sepenuhnya bahwa masa depan dan keberlanjutan generasi Ternate yang baik dan berbudaya di masa yang akan datang, ditentukan secara mutlak oleh cara berpikir dan cara bertindak kita, generasi di hari ini. Kita adalah arsitek yang sedang menggambar garis nasib peradaban. Jika cara berpikir kita hari ini terjebak dalam pragmatisme sempit, maka kita sedang mewariskan kerapuhan bagi masa depan sejarah. Sebaliknya, jika kita bertindak dengan integritas dan visi budaya yang kuat, kita sedang membangun fondasi bagi lahirnya generasi penerus yang tangguh dan bermartabat.

​Sebagai simbol kemajuan bagi seluruh wilayah Maluku Kie Raha, Ternate mengemban amanah sebagai pusat gravitasi pembangunan di Maluku Utara. Keberhasilan Ternate dalam mengintegrasikan nilai-nilai luhur masa lalu dengan tuntutan zaman adalah barometer bagi daerah-daerah lain di sekitarnya. Ternate harus tampil sebagai kota depan yang cerdas (Smart City) namun tetap memiliki karakter budaya yang kuat, menjadi tempat di mana inovasi digital bertemu dengan tradisi bahari yang agung. Partisipasi aktif dari seluruh warga, baik yang lahir di tanah ini maupun yang datang untuk berkarya adalah menjadi kunci utama agar pembangunan tidak berjalan di tempat.

Sebagai wajah dari Kie Raha, Ternate menjadi mercusuar yang memancarkan cahaya, memandu arah dan jalan masa depan untuk Maluku Utara dalam kemandirian. Ini adalah harapan sekaligus panggilan bagi seluruh entitas yang tinggal di Ternate untuk menyatukan visi, bahwa keberlanjutan pembangunan hanya bisa dicapai jika kita berhenti menjadi penonton sejarah dan mulai menjadi aktor utama dalam merawat keberlanjutan lingkungan, stabilitas ekonomi, dan kelestarian budaya yang humanis demi menjamin kualitas hidup generasi mendatang.

​Sebagai kado istimewa bagi Hari Jadi Ternate (HJT) yang ke-775, diperlukan langkah nyata yang melampaui seremoni tahunan, yakni melalui kebijakan strategis yang memperkuat kohesi sosial dan kemandirian kota sebagai rumah bersama bagi seluruh etnis.

Harapan sekaligus pekerjaan rumah dan cita-cita kita semua adalah Semoga Ternate dikukuhkan sebagai Kota Warisan Budaya Dunia (UNESCO World Heritage), dan lahirnya penguatan infrastruktur digital pelabuhan yang terintegrasi akan semakin mengukuhkan kembali status Ternate sebagai Bandar Rumah yang modern, karena akan memudahkan konektivitas seluruh warga Maluku Utara, dan memastikan bahwa setelah hampir delapan abad, Ternate tetap menjadi tempat bagi semua orang untuk “pulang”, berkarya, dan menjaga martabat peradaban Kie Raha di mata dunia.

775 tahun telah berlalu, namun harum cengkih dan semangat keterbukaan masih mengalir di nadi kota ini. Ternate bukan sekadar pulau, ia adalah Bandar Rumah, sebuah titik temu peradaban dunia di mana keberagaman etnis hidup berdampingan di bawah naungan Gunung Gamalama.

​Hari ini, di ambang perayaan Hari Jadi Ternate (HJT) ke-775, kita diingatkan satu kebenaran besar, bahwa masa depan generasi Ternate yang berbudaya ditentukan oleh cara berpikir dan cara bertindak kita, generasi hari ini.

​Ternate yang maju, humanis, dan menjadi simbol kejayaan Maluku Kie Raha tidak akan lahir dari kebetulan. Ia akan lahir dari kontribusi konstruktif setiap kita yang berdiam di sini. Entah kamu lahir di tanah ini atau datang untuk berkarya, Ternate adalah milikmu. Tanggung jawab menjaganya adalah milik kita bersama.

​Ayo jadikan momentum ini untuk berpikir inklusif, merangkul setiap perbedaan, bertindak nyata menjaga kelestarian budaya & lingkungan, dan membangun masa depan yang berkelanjutan bagi anak cucu kita.

​Satu langkah kecil hari ini adalah warisan abadi bagi masa depan peradaban kita.

Selamat Hari Jadi Kota Ternate ke-775. Mari rawat rumah ini dengan hati dan karya nyata.

The Jenderal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *