BoP (Battle of Personality); Puasa dan Kekuatan Penghancur Kesombongan

Keagamaan, Nasional, Opini155 Dilihat

Oleh: Ibnu Furqan, S.Hum

Puasa, sebagaimana dipahami secara umum, adalah tindakan menahan diri dari makan dan minum sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun, puasa bukanlah ajaran yang eksklusif milik Islam semata. Dalam rentang sejarah peradaban manusia, hampir setiap tradisi keagamaan mengenal praktik serupa sebagai bentuk laku spiritual.

Dalam tradisi Kristen, misalnya, puasa dipahami sebagai latihan pengendalian diri dan pengelolaan emosi. Dalam Katolik, terdapat aturan khusus seperti pantang daging serta kewajiban berpuasa pada Rabu Abu dan Jumat Agung. Dalam tradisi Yahudi, dikenal hari suci Yom Kippur atau “Hari Penebusan”, di mana umatnya berpuasa selama kurang lebih 25 jam. Mereka tidak hanya menahan makan dan minum, tetapi juga tidak mandi, tidak memakai wewangian, serta tidak melakukan hubungan suami-istri. Semua itu menjadi bentuk refleksi diri dan penyucian dosa. Inilah makna dari firman Tuhan dalam Surah Al-Baqarah ayat 183: “sebagaimana telah diwajibkan atas umat sebelum kamu…”

Jika ditinjau secara rasional, perintah berpuasa bukanlah tanpa alasan. Ia merupakan instrumen radikal untuk mendekonstruksi dominasi ego dan merekonstruksi spiritualitas manusia. Dalam Islam, puasa (shiyam) bertujuan membentuk karakter takwa—sebuah kualitas kepatuhan transendental kepada Tuhan. Karena itu, siapa pun yang bersungguh-sungguh dalam berpuasa akan mengalami transformasi menyeluruh dalam dirinya.

Frasa la’allakum tattaqun (agar kamu bertakwa) dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 menggunakan kata la’alla, yang dalam kaidah bahasa Arab bermakna harapan yang harus diupayakan (li al-tarajji). Artinya, takwa bukanlah status otomatis yang diperoleh hanya dengan menahan lapar dan dahaga, melainkan hasil dari proses internalisasi nilai.

Para musafir seperti Imam Al-Qurtubi dan Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan bahwa puasa berfungsi sebagai al-imsak (menahan diri). Menahan diri berarti kemampuan mengontrol dorongan keburukan. Bahkan dalam perspektif psikologi modern, tokoh seperti Sigmund Freud melihat kontrol diri sebagai mekanisme psikologis agar manusia tidak menjadi budak insting biologisnya. Di sinilah puasa menemukan relevansinya: ia mendidik manusia untuk berdaulat atas dirinya sendiri.

Dalam perspektif tasawuf, Imam Al-Ghazali dalam karya monumentalnya Ihya’ Ulum al-Din membagi puasa ke dalam tiga tingkatan: puasa orang awam, puasa khusus (khawash), dan puasa paling khusus (khawash al-khawash). Bagi seorang sufi, menahan makan, minum, dan syahwat hanyalah lapisan luar. Inti puasa adalah menjaga hati dari segala sesuatu selain Allah. Puasa menjadi proses takhalli (pengosongan diri) dari residu duniawi agar jiwa dapat dipenuhi nilai-nilai ketuhanan.

Implikasinya nyata: orang yang mencapai derajat puasa tinggi memiliki stabilitas emosional yang kuat. Pusat kebahagiaannya tidak lagi bertumpu pada asupan eksternal, melainkan pada ketenangan batin yang bersumber dari kedekatan dengan Tuhan.

Dalam dimensi sosial-etik, puasa memaksa ego untuk tunduk. Lapar menjadi medium penghancur kesombongan. Para sufi bahkan menyebut lapar sebagai “cahaya” yang menerangi kegelapan hati. Puasa adalah ibadah yang bersifat sirr (rahasia); tidak ada manusia yang benar-benar mengetahui kualitas puasa orang lain. Dalam hadis qudsi disebutkan: “Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” Pesan ini menegaskan bahwa puasa melatih manusia untuk tidak bergantung kepada makhluk, melainkan hanya kepada Sang Pencipta.

Namun, tidak sedikit orang yang berpuasa tetapi hanya memperoleh lapar dan haus. Mengapa? Karena puasanya terjebak pada formalitas ritual tanpa menyentuh hakikat. Puasa sejatinya bersifat transformatif: ia mengelola nafsu amarah agar bertransformasi menjadi nafsu mutma’innah. Menurut Ibnu Katsir, puasa adalah cara menyempitkan jalan setan. Dalam bahasa sufistik, lapar mempersempit ruang gerak setan dalam aliran darah manusia.

Secara logis, ketika asupan fisik dikurangi, ruang bagi kejernihan spiritual terbuka lebih luas. Manusia menjadi lebih reflektif, lebih jernih berpikir, dan lebih bijak bertindak. Karena itu, puasa adalah medium tarbiyah, pendidikan iman, Islam, dan ihsan.

Akhirnya, keberhasilan puasa tidak terletak pada formalitas ibadahnya, melainkan pada sejauh mana seseorang mampu mengendalikan diri dalam kehidupan duniawi serta melakukan takhalli—pengosongan jiwa—untuk mencapai stabilitas emosional dan kedekatan transendental dengan Tuhan.

Di situlah puasa menjadi BoP sesungguhnya: Battle of Personality, pertempuran melawan ego, dan kemenangan atas kesombongan diri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *