Buruh Serukan Penguatan Serikat dalam Diskusi BAKU DAPA #6

POSTTIMUR.COM, HALTENG- Dalam struktur industri yang dinilai lebih berpihak pada kepentingan pemodal, posisi buruh kerap dianggap lemah dan minim daya tawar. Ketimpangan ini muncul karena pemilik modal menguasai alat produksi, sementara buruh hanya mengandalkan tenaga kerja yang harus dijual demi memenuhi kebutuhan hidup.

Situasi tersebut, menurut sejumlah aktivis buruh, berdampak pada berbagai persoalan klasik di dunia kerja, seperti upah yang stagnan, jam kerja panjang, kondisi kerja yang kurang aman, hingga jaminan sosial yang belum memadai. Secara individual, buruh dinilai sulit menghadapi kekuatan modal yang terpusat pada segelintir pihak.

Sebagai respons atas kondisi tersebut, penguatan organisasi dan persatuan buruh dinilai menjadi langkah strategis untuk meningkatkan posisi tawar. Melalui wadah serikat, buruh yang sebelumnya terpisah-pisah dapat membangun kekuatan kolektif yang lebih terorganisir.

Isu ini akan menjadi pembahasan utama dalam diskusi bertajuk “Majikan Punya Modal, Kita Punya Massa dan Cita-cita: Strategi Pengorganisasian dan Perluasan Serikat Buruh” yang dikemas dalam agenda BAKU DAPA #6.

Diskusi tersebut dijadwalkan berlangsung pada:

  • Selasa, 24 Februari 2026
  • Pukul 14.00 WIB / 15.00 WITA / 16.00 WIT
  • Secara daring melalui Zoom Meeting ([https://bit.ly/bakudapaenam](https://bit.ly/bakudapaenam))
  • Live streaming YouTube: Forum Buruh Tambang Lintas Pulau

Sejumlah tokoh pergerakan buruh dijadwalkan menjadi pemantik diskusi, di antaranya Abdul Kadir Jailani (Jay) dari FSPIM KPBI, Nining Elitos dari Konfederasi KASBI, serta Akbar Rewako dari Konfederasi SGBN. Diskusi akan dipandu oleh Azhar Irfansyah dari Sembada Bersama.

Panitia menyebutkan, diskusi ini juga menjadi ruang refleksi atas sejarah perjuangan buruh. Berbagai capaian kesejahteraan dan perbaikan kondisi kerja dinilai bukan lahir dari kemurahan hati pemodal maupun penguasa, melainkan hasil perjuangan yang terorganisir.

Melalui forum ini, peserta diajak untuk memperkuat kembali peran organisasi sebagai instrumen perjuangan. Serikat buruh yang kuat dan meluas diyakini menjadi kunci untuk mengubah posisi tawar buruh dari yang sebelumnya lemah menjadi kekuatan kolektif yang diperhitungkan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *