POSTTIMUR.COM, TERNATE-Di atas lahan marginal yang keras dan berbatu, seorang petani lanjut usia, Rasyid Samsudin (69), membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih hasil panen yang memuaskan. Dengan ketekunan dan semangat yang tak surut, ia mengolah tanah yang awalnya minim unsur hara menjadi lahan subur yang produktif.
Rasyid, yang juga Ketua Kelompok Tani (Poktan) Bumi Hijau, Kelurahan Kalumata, Kecamatan Ternate Selatan, menjalani proses panjang dalam mengelola lahannya. Mulai dari persiapan lahan, pembuatan bedengan, pemberian kapur dolomit, pemasangan mulsa, hingga aplikasi pupuk Biokonversi dan pupuk Biogranul, serta pengendalian hama dan penyakit tanaman.
Upaya tersebut tidak berjalan sendiri. Ia mendapat pendampingan dari Penyuluh Pertanian Kalumata, Wahana Visi Indonesia, serta PT Biokonversi Indonesia. Kolaborasi ini menghadirkan harapan baru bagi pengembangan pertanian organik di lahan marginal.
Tepat hari ini, panen kedua terong organik di lahan Rasyid kembali digelar. Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh BPP Ternate Selatan, perwakilan Wahana Visi Indonesia, PT Biokonversi Indonesia, akademisi Fakultas Pertanian Universitas Khairun, serta para petani setempat.
Menurut Rasyid, hasil panen kali ini merupakan yang terbesar selama tiga tahun ia menanam terong. Dari total 700 pohon, panen hari ini mencapai 60 kilogram dengan harga jual Rp15.000 per kilogram.
“Saya sangat kaget dengan hasilnya. Ini pertama kalinya panen sebesar ini,” ungkap Rasyid.
Ia berharap program pendampingan terus berlanjut agar semakin banyak petani yang mampu mengoptimalkan lahan marginal menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan. Rasyid juga mengajak petani lain untuk tidak ragu mencoba metode budidaya yang telah ia terapkan.
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa dengan pendampingan yang tepat dan penggunaan pupuk yang sesuai, lahan marginal pun dapat disulap menjadi lahan produktif yang memberikan nilai ekonomi bagi petani.(*)











