POSTTIMUR.COM, HALTENG- Masyarakat Desa Lelilef melakukan aksi pemblokadean jalan utama menuju kawasan industri Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Senin (30/03/2026). Aksi tersebut merupakan bentuk protes atas sejumlah persoalan yang dinilai belum mendapat penyelesaian serius dari pihak perusahaan.
Sejak pagi, massa memadati badan jalan dan menghentikan sementara aktivitas lalu lintas kendaraan perusahaan. Dalam aksi itu, warga menyuarakan lima tuntutan utama yang dianggap menyangkut langsung kebutuhan dasar serta kepentingan ekonomi masyarakat.
Kelima tuntutan tersebut meliputi ketersediaan air bersih, perbaikan seng rumah warga yang bocor, dampak kebijakan akomodasi perusahaan terhadap usaha kos-kosan milik masyarakat, transparansi penyaluran dana Corporate Social Responsibility (CSR), serta penyediaan dump truck untuk penyiraman jalan guna mengurangi debu.
Warga menilai persoalan air bersih masih menjadi kebutuhan mendesak yang belum ditangani secara maksimal. Selain itu, meningkatnya aktivitas kendaraan perusahaan disebut memicu debu berlebih yang mengganggu kenyamanan, berdampak pada kesehatan, hingga memperparah kondisi rumah warga.
Massa juga menyoroti kebijakan akomodasi perusahaan yang dinilai berdampak langsung terhadap usaha kos-kosan milik masyarakat. Sejumlah warga mengaku kehilangan sumber pendapatan karena banyak pekerja difasilitasi tempat tinggal oleh perusahaan.
Di sisi lain, masyarakat mendesak keterbukaan terkait program CSR agar alokasi dan manfaatnya dapat diketahui publik dan dirasakan secara adil oleh warga sebagai wilayah terdampak langsung aktivitas industri. Mereka juga meminta penyiraman jalan secara rutin untuk menekan polusi debu akibat lalu lalang kendaraan berat.
Aksi pemblokadean ini disebut sebagai puncak kekecewaan masyarakat atas lambannya respons terhadap berbagai aspirasi yang sebelumnya telah berulang kali disampaikan.
Dalam aksi tersebut, warga memberikan ultimatum 2×24 jam kepada pihak perusahaan untuk segera memberikan kejelasan serta langkah konkret atas lima tuntutan yang diajukan.
Apabila dalam batas waktu tersebut tidak ada respons, masyarakat menegaskan akan kembali menggelar aksi lanjutan dengan skala yang lebih besar. Warga berharap perusahaan segera membuka ruang dialog dan mengambil langkah nyata demi meredam ketegangan serta memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak.(*)
















