POSTTIMUR.COM, TERNATE- Harga jual plastik di Kota Ternate mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Kenaikan mencapai 60 hingga 65 persen ini memicu kekhawatiran pelaku usaha dan masyarakat, terutama sektor UMKM yang sangat bergantung pada kemasan plastik.
Lonjakan harga mulai terasa sejak dua minggu menjelang Lebaran dan terjadi pada hampir seluruh jenis plastik di pasaran. Dampaknya tidak hanya dirasakan pedagang plastik, tetapi juga merembet ke berbagai produk turunan berbahan plastik yang ikut mengalami kenaikan harga.
Imron, pemilik Toko Plastik Putri Aulia di Kelurahan Gamalama, mengungkapkan bahwa kenaikan tidak hanya terjadi pada plastik mentah, tetapi juga produk berbahan plastik lainnya. Ia menyebut harga produk turunan naik sekitar 30 persen, sementara plastik mengalami kenaikan paling tinggi.
Menurut Imron, informasi dari pabrik dan distributor di Surabaya, Solo, dan Jakarta menyebutkan bahwa gangguan pasokan bahan baku menjadi pemicu utama. Penutupan jalur distribusi di Selat Hormuz akibat konflik geopolitik menyebabkan pasokan biji plastik ke Indonesia terbatas.
Keterbatasan pasokan membuat permintaan meningkat, sementara stok di pasaran terus menipis. Kondisi ini mendorong harga plastik melonjak tajam, mengingat bahan baku plastik berasal dari turunan minyak mentah yang distribusinya sangat bergantung pada jalur internasional.
Imron mengaku hampir 90 persen pelanggannya mengeluhkan kenaikan tersebut. Ia khawatir kondisi ini akan menekan pelaku usaha kecil, terutama UMKM makanan dan minuman yang sangat bergantung pada plastik sebagai kemasan.
Sebagai contoh, plastik ukuran 15 kategori orisinil yang sebelumnya dijual Rp7.000 kini melonjak menjadi Rp13.000. Selain itu, kenaikan biaya ekspedisi sebesar 25 hingga 30 persen turut memperparah harga di tingkat pengecer.
Dampak kenaikan juga dirasakan pelaku UMKM. Cindar Muntaha, pedagang gorengan di Ternate, menyebut plastik kemasan yang biasanya Rp9.000 per paket kini naik menjadi Rp13.000. Ia berharap harga segera kembali normal agar tidak membebani usahanya.
Hal serupa diungkapkan Dewi, reseller plastik asal Pulau Obi yang rutin membeli dalam jumlah besar di Ternate. Harga satu karung plastik yang sebelumnya sekitar Rp1.050.000 kini melonjak menjadi Rp1.500.000, memaksanya menaikkan harga jual kepada pelanggan.
Akibatnya, Dewi bahkan mengurangi layanan bagi pembeli kecil. Ia mengaku tidak lagi menyediakan kantong kresek untuk pelanggan dengan belanja di bawah Rp10.000, sebagai langkah menghemat stok di tengah harga yang terus meningkat.(*)











