Biasa yang Menyimpan Bahaya

Oleh: Kenia Putri Marhaeni

Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Khairun

Kehidupan di Ternate berjalan sebagaimana mestinya. Aktivitas masyarakat berdagang di pasar, melaut, hingga mobilitas harian terus berlangsung tanpa jeda. Di tengah denyut kehidupan itu, Gunung Gamalama berdiri kokoh, seolah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keseharian. Karena terbiasa melihatnya dalam kondisi tenang, banyak orang menganggap keberadaannya bukanlah ancaman.

Namun, justru di situlah letak persoalannya. Ketika sesuatu yang berpotensi berbahaya dianggap biasa, kewaspadaan perlahan memudar. Padahal, Gunung Gamalama adalah gunung api aktif yang sewaktu-waktu dapat menunjukkan peningkatan aktivitas. Gejala seperti kepulan asap atau getaran kecil kerap muncul, tetapi sering kali diabaikan atau tidak dimaknai sebagai sinyal peringatan. Ancaman tidak selalu datang dengan tanda yang dramatis; ia bisa hadir perlahan, nyaris tanpa disadari.

Pengalaman empiris telah membuktikan hal tersebut. Banjir bandang yang dipicu oleh material vulkanik yang terbawa air hujan menjadi salah satu contoh nyata. Aliran air yang membawa pasir, batu, dan lumpur mampu menerjang permukiman warga, merusak infrastruktur, bahkan mengancam keselamatan jiwa. Ini menunjukkan bahwa bahaya dari gunung api tidak selalu berupa letusan besar, tetapi juga dapat muncul dalam bentuk yang lebih “sunyi” namun tetap destruktif.

Ironisnya, sebagian masyarakat masih tinggal di wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi, seperti lereng gunung atau bantaran aliran air. Pilihan ini bukan tanpa sebab, melainkan karena keterbatasan ekonomi dan minimnya alternatif tempat tinggal. Di satu sisi, mereka menyadari risiko yang ada; di sisi lain, kebutuhan hidup memaksa mereka untuk tetap bertahan. Di sinilah negara dan pemerintah daerah seharusnya hadir lebih serius, bukan sekadar memberi peringatan, tetapi juga menyediakan solusi yang konkret dan berkelanjutan.

Selain ancaman dari daratan, risiko juga datang dari laut. Sebagai wilayah kepulauan, masyarakat Ternate sangat bergantung pada transportasi laut. Aktivitas pelayaran sering kali tetap dilakukan meskipun kondisi cuaca tidak bersahabat. Keputusan ini kerap didorong oleh tuntutan ekonomi dan kebutuhan mendesak, bukan karena situasi yang benar-benar aman. Lagi-lagi, “kebiasaan” mengalahkan pertimbangan keselamatan.

Pada akhirnya, realitas di Ternate memperlihatkan satu hal penting: tidak semua yang tampak biasa benar-benar aman. Ada bahaya yang bersembunyi di balik rutinitas, ada risiko yang tersembunyi di balik ketenangan. Kesadaran kolektif menjadi kunci untuk menghadapi situasi ini. Masyarakat perlu lebih peka terhadap tanda-tanda alam, sementara pemerintah harus lebih responsif dalam membangun sistem mitigasi yang efektif.

Kehidupan memang harus terus berjalan, tetapi bukan berarti kewaspadaan boleh ditinggalkan. Sebab, dalam banyak kasus, justru hal-hal yang dianggap biasa itulah yang paling sering menyimpan bahaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *