Oleh: Sahrun Imawan S. Kasim
Narasi yang menyebut Pulau Obi sebagai “pulau kosong tanpa warga lokal” bukan sekadar keliru, tetapi juga mencerminkan cara pandang yang menyederhanakan sejarah secara berlebihan. Klaim tersebut mengabaikan fakta historis, antropologis, dan sosial yang menunjukkan bahwa Pulau Obi telah dihuni oleh komunitas masyarakat jauh sebelum kolonialisme Eropa hadir, bahkan jauh sebelum masuknya investasi industri modern.
Pernyataan yang disampaikan dalam video Benix bahwa Obi adalah “pulau kosong” karena tidak memiliki “warga lokal” lahir dari pemahaman yang dangkal terhadap sejarah Maluku Utara. Jika suatu wilayah dianggap tidak memiliki penduduk asli hanya karena mengalami proses migrasi antarpulau selama berabad-abad, maka logika yang sama dapat digunakan untuk mempertanyakan status hampir seluruh wilayah kepulauan di Indonesia. Cara berpikir seperti ini tidak hanya bermasalah, tetapi juga menyesatkan.
Sejarah mencatat bahwa Pulau Obi merupakan bagian dari wilayah Kesultanan Bacan yang telah memiliki jaringan permukiman, perdagangan, serta hubungan sosial yang mapan sejak lama. Desa-desa seperti Akelamo, Soligi, Kawasi, Anggai, Sambiki, Jikotamo, Laiwui, dan sejumlah kampung lainnya bukanlah wilayah yang muncul setelah hadirnya industri pertambangan. Desa-desa tersebut telah menjadi ruang hidup masyarakat selama beberapa generasi. Keberadaan komunitas-komunitas ini menjadi bukti nyata bahwa Obi bukan wilayah kosong yang baru “ditemukan” oleh investasi modern.
Lebih jauh, penggunaan istilah “pulau kosong” berpotensi menghapus eksistensi masyarakat lokal dan komunitas adat yang selama ini menjaga, mengelola, serta menggantungkan kehidupannya pada sumber daya alam Obi. Narasi seperti ini berbahaya karena secara tidak langsung membangun legitimasi bahwa suatu wilayah dapat diperlakukan sebagai ruang tanpa pemilik, tanpa sejarah, dan tanpa hak-hak sosial yang harus dihormati. Dalam berbagai konflik agraria dan sumber daya alam di Indonesia, penghapusan identitas masyarakat lokal sering kali menjadi pintu masuk bagi marginalisasi yang lebih besar.
Menurut Sahrun Imawan S. Kasim, persoalan utama dalam narasi tersebut bukan hanya terletak pada kesalahan data, melainkan juga pada kegagalan memahami realitas sosial masyarakat kepulauan.
“Mengatakan Obi sebagai pulau kosong merupakan bentuk pengingkaran terhadap sejarah dan kehidupan masyarakat yang telah berabad-abad mendiami wilayah tersebut. Pernyataan seperti ini tidak hanya tidak akurat, tetapi juga berpotensi merendahkan identitas masyarakat yang memiliki hubungan historis dan kultural yang kuat dengan tanah kelahirannya.”
Investasi dan pembangunan tidak boleh dibangun di atas penghapusan sejarah. Kehadiran industri nikel memang membawa perubahan ekonomi yang signifikan bagi Pulau Obi, tetapi perubahan tersebut tidak menghapus fakta bahwa masyarakat Obi telah ada jauh sebelum perusahaan-perusahaan tambang beroperasi.
Ironisnya, narasi “pulau kosong” justru menunjukkan kecenderungan melihat wilayah timur Indonesia semata-mata dari perspektif ekonomi dan investasi. Ketika keberadaan manusia hanya diukur melalui catatan administrasi modern atau kepentingan pasar, maka sejarah masyarakat yang hidup secara turun-temurun menjadi tidak terlihat. Padahal, eksistensi sebuah komunitas tidak ditentukan oleh kapan investor datang, melainkan oleh jejak sosial, budaya, dan sejarah yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Karena itu, publik perlu berhati-hati dalam menerima klaim yang menyederhanakan sejarah demi membangun narasi tertentu. Fakta bahwa Pulau Obi mengalami kolonialisasi, migrasi penduduk, dan berbagai dinamika ekonomi tidak serta-merta menjadikannya wilayah kosong. Sebaliknya, sejarah menunjukkan bahwa Obi adalah ruang hidup yang terus dihuni, dibangun, dan dipertahankan oleh masyarakatnya.
Pada akhirnya, menyebut Obi sebagai “pulau kosong” bukanlah upaya menjelaskan sejarah, melainkan bentuk penyederhanaan yang mengabaikan fakta-fakta yang ada. Ketika fakta diabaikan, yang tersisa bukan lagi sejarah, melainkan narasi yang berisiko berubah menjadi propaganda yang dikemas seolah-olah sebagai pengetahuan.










