Oleh: Sitti Nurulbayti, SE., MH
Pengembang Teknologi Pembelajaran, Ahli Muda IAIN Ternate
Transformasi digital di perguruan tinggi bukan sekadar soal membeli software mahal atau mengganti papan tulis dengan layar interaktif. Di balik setiap platform yang berjalan lancar, setiap materi kuliah yang mudah diakses secara daring, ada manusia yang merancang, membangun, dan terus merawatnya. Mereka adalah pengembang teknologi pembelajaran.
Tulisan ini membahas siapa sebenarnya pengembang teknologi pembelajaran, mengapa peran mereka semakin krusial dalam dunia pendidikan tinggi Indonesia saat ini, dan bagaimana perguruan tinggi dapat memanfaatkan keahlian mereka secara optimal. Bukan sekadar wacana, melainkan langkah konkret menuju kampus yang benar-benar siap menghadapi tantangan abad ke-21.
Pandemi sebagai Titik Balik
Ketika COVID-19 melanda pada 2020, jutaan mahasiswa dan dosen di seluruh dunia terpaksa beralih ke pembelajaran daring dalam waktu singkat. Banyak kampus yang berhasil beradaptasi cepat bukan karena memiliki anggaran teknologi terbesar, melainkan karena mereka sudah memiliki infrastruktur digital yang matang dan, yang lebih penting, tim pengembang teknologi pembelajaran yang kompeten.
Penelitian Scholkmann, Olsen, dan Wollscheid (2024) menunjukkan bahwa perguruan tinggi yang paling tangguh menghadapi krisis adalah mereka yang telah membangun kapasitas internal untuk pengembangan pembelajaran digital jauh sebelum pandemi datang. Pengembang teknologi pembelajaran menjadi jembatan penting antara tuntutan pedagogi yang baik dan kemampuan teknologi yang tersedia.
Siapa Pengembang Teknologi Pembelajaran?
Istilah ini mencakup beragam sebutan: instructional designer, learning experience designer, e-learning developer, atau educational technologist. Mereka bukan sekadar teknisi yang memasang aplikasi. Mereka adalah profesional yang merancang pengalaman belajar secara utuh.
Menurut Ritzhaupt, Kumar, dan Martin (2021), instructional designer di perguruan tinggi bertindak sebagai agen perubahan. Mereka bekerja sama dengan dosen untuk mengembangkan materi kuliah daring, mengevaluasi kualitas kursus, melatih rekan kerja, dan bahkan mendukung mahasiswa secara langsung.
Pollard dan Kumar (2022) dalam tinjauan literatur mereka menemukan bahwa peran ini telah berkembang pesat. Selain membangun konten, pengembang teknologi pembelajaran juga mengelola proyek, memfasilitasi kolaborasi, dan memastikan bahwa teknologi benar-benar mendukung proses belajar, bukan sekadar menjadi pajangan digital.
Kompetensi yang Dibutuhkan
Analisis Martin dkk. (2022) terhadap ratusan lowongan kerja di perguruan tinggi Amerika Serikat mengungkap kompetensi utama yang dicari: kemampuan berkolaborasi, komunikasi yang efektif, pengembangan konten, manajemen proyek, serta kemampuan melakukan asesmen dan evaluasi.
Pengembang teknologi pembelajaran harus mampu berbicara dalam bahasa yang berbeda dengan berbagai pihak. Mereka menerjemahkan ide dosen yang kompleks menjadi desain pembelajaran yang jelas dan mudah diikuti mahasiswa. Mereka juga harus paham bagaimana manusia belajar, bukan hanya bagaimana cara mengoperasikan software.
Kerangka TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge) yang dikembangkan Mishra dan Koehler (2006) menjadi landasan utama profesi ini. Pengembang teknologi pembelajaran tidak harus menguasai ketiga bidang secara sempurna, tetapi mereka harus mampu menghubungkan pengetahuan konten, pedagogi, dan teknologi dengan baik.
Lebih dari Sekadar Infrastruktur
EDUCAUSE (2022) mendefinisikan transformasi digital sebagai perubahan mendalam dalam budaya, tenaga kerja, dan teknologi yang memungkinkan model pendidikan baru. Investasi besar pada perangkat keras dan perangkat lunak saja tidak cukup jika tidak disertai investasi pada sumber daya manusia.
Banyak kampus di Indonesia masih melihat Learning Management System (LMS) sebagai gudang dokumen digital semata. Padahal, dengan bantuan pengembang teknologi pembelajaran, LMS dapat berubah menjadi lingkungan belajar yang aktif. Mereka dapat merancang lintasan pembelajaran yang terstruktur, forum diskusi yang bermakna, kuis formatif dengan umpan balik otomatis, dan memanfaatkan data untuk membantu dosen memahami pola belajar mahasiswa.
Peran dalam Era Kecerdasan Buatan
Perkembangan kecerdasan buatan generatif seperti ChatGPT membawa peluang sekaligus tantangan baru. Kumar, Ritzhaupt, dan rekan-rekannya (2024) menunjukkan bahwa instructional designer yang sukses bukan hanya mengadopsi teknologi AI, melainkan mempertanyakan dampak pedagogisnya: bagaimana AI mengubah cara mahasiswa belajar, dan bagaimana kita memaksimalkan manfaat sambil meminimalkan risiko.
Pengembang teknologi pembelajaran menjadi pemikir etis yang membantu perguruan tinggi merancang penggunaan AI yang bertanggung jawab, bukan sekadar mengikuti tren.
Tantangan di Indonesia
Di tanah air, posisi pengembang teknologi pembelajaran sering kali belum diakui secara formal dalam struktur organisasi kampus. Banyak yang bekerja sebagai tugas tambahan atau berada di bawah unit IT tanpa kewenangan yang memadai. Padahal, Taufiqurrochman dkk. (2020) telah menunjukkan bahwa keberhasilan implementasi sistem pembelajaran daring sangat bergantung pada keberadaan personel pendukung yang kompeten.
Kesenjangan digital antara kampus besar di kota dengan perguruan tinggi di daerah juga menjadi perhatian serius. Pengembang teknologi pembelajaran dapat membantu merancang solusi yang realistis, seperti konten yang tetap dapat diakses meski koneksi internet terbatas.
Langkah Konkret ke Depan
Pertama, perguruan tinggi perlu memberikan pengakuan formal terhadap profesi ini dalam bagan organisasi. Jabatan yang jelas, jalur karier yang transparan, dan dukungan anggaran yang memadai akan mencegah talenta terbaik berpindah ke sektor swasta.
Kedua, bangun model kolaborasi yang setara antara dosen dan pengembang teknologi pembelajaran. Bukan hubungan pemberi perintah dan pelaksana, melainkan kemitraan yang saling menghargai keahlian masing-masing.
Ketiga, investasikan pada pengembangan kompetensi berkelanjutan. Bidang ini berubah sangat cepat. Micro-credential dan program pelatihan rutin menjadi kebutuhan, bukan kemewahan.
Keempat, libatkan pengembang teknologi pembelajaran sejak tahap perencanaan strategis, bukan hanya saat pelaksanaan. Mereka memahami kebutuhan riil dosen dan mahasiswa yang sering kali berbeda dari asumsi administrator atau tawaran vendor.
Transformasi kampus digital yang sesungguhnya adalah transformasi manusia, bukan hanya teknologi. Ia berhasil ketika pengalaman belajar mahasiswa menjadi lebih baik, ketika dosen merasa didukung dalam mengembangkan cara mengajar baru, dan ketika seluruh sivitas akademika tumbuh bersama kemajuan teknologi.
Pengembang teknologi pembelajaran adalah arsitek diam yang membangun fondasi itu. Mereka menerjemahkan visi pendidikan masa depan menjadi pengalaman belajar yang nyata, inklusif, dan bermakna.
Kampus digital yang kita impikan bukan sekadar kampus yang penuh perangkat canggih. Ia adalah kampus di mana setiap dosen, mahasiswa, dan staf pendukung merasa teknologi membantu mereka menjadi versi terbaik dari diri mereka. Untuk mewujudkannya, perguruan tinggi harus mulai menghargai dan memberdayakan para pengembang teknologi pembelajaran yang berada di garis depan perubahan ini.












![IMG_20211028_164734[1]](https://www.posttimur.com/wp-content/uploads/2021/10/IMG_20211028_1647341-scaled-e1635507299319-1024x473.jpg)



