Sunyi di Terminal, Mahal di Lapak: Jerit Pedagang dan Keluhan Pembeli di Terminal Baru Gamalama

Oleh: Salsabila Kifly

Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Khairun

Di sudut-sudut Terminal Baru Gamalama, waktu seolah berjalan lebih lambat. Hiruk-pikuk pembeli yang dulu memenuhi lorong-lorong pasar kini nyaris tak terdengar lagi. Tak ada riuh tawar-menawar, tak ada keramaian yang menjadi tanda hidupnya aktivitas ekonomi rakyat. Yang tersisa hanyalah deretan lapak terbuka, pedagang yang duduk menunggu, dan harapan yang perlahan menipis.

Kondisi ini bukan sekadar cerita tentang pasar yang sepi, melainkan gambaran nyata tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat kecil. Para pedagang rombengan yang dulu menggantungkan hidup dari ramainya pembeli, kini harus menjalani hari-hari penuh ketidakpastian. Mereka datang pagi, membuka dagangan, lalu pulang dengan hasil yang kadang tak cukup menutup kebutuhan harian.

Namun di balik kesunyian itu, muncul persoalan lain yang tak kalah serius. Banyak warga mulai mengeluhkan harga barang rombengan yang dinilai semakin mahal. Bahkan, selisih harga dengan pakaian baru kini dianggap terlalu tipis. Dalam logika konsumen, pilihan tentu sederhana: mengapa membeli barang bekas jika dengan sedikit tambahan uang bisa mendapatkan barang baru?

Di titik inilah ironi itu terjadi. Pedagang merasa sedang berjuang keras untuk bertahan di tengah sulitnya ekonomi, sementara pembeli merasa tak lagi memperoleh keuntungan dari berbelanja di sana. Dua kepentingan yang sama-sama wajar, tetapi kini berjalan menjauh tanpa jalan tengah.

Perubahan pola konsumsi masyarakat juga menjadi faktor yang tak bisa diabaikan. Di era digital, belanja tak lagi harus datang ke pasar atau terminal. Dengan satu sentuhan di layar ponsel, barang bisa dipesan dan tiba di rumah. Lebih cepat, lebih praktis, bahkan sering kali lebih murah. Dalam situasi seperti ini, terminal yang sepi ditambah harga yang tidak kompetitif menjadi kombinasi yang memukul keras keberlangsungan usaha kecil.

Akibatnya, Terminal Baru Gamalama perlahan kehilangan rohnya. Ia bukan lagi pusat pertemuan ekonomi rakyat, bukan lagi ruang hidup yang mempertemukan penjual dan pembeli, melainkan bangunan yang berdiri tanpa denyut aktivitas yang kuat di dalamnya.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, yang hilang bukan hanya penghasilan pedagang. Lebih dari itu, masyarakat bisa kehilangan kepercayaan terhadap pasar lokal. Padahal, ketika kepercayaan publik sudah runtuh, memulihkannya membutuhkan waktu panjang dan kerja keras yang tidak sedikit.

Sudah saatnya ada keberanian untuk berubah. Pedagang perlu kembali melihat kekuatan utama mereka: harga terjangkau, fleksibilitas, dan kedekatan dengan pembeli. Sementara pemerintah harus hadir lebih nyata, bukan hanya membangun fisik pasar, tetapi memastikan ruang ekonomi di dalamnya tetap hidup, tertata, dan menarik bagi masyarakat.

Sebab pada akhirnya, sebuah kota tidak hanya diukur dari bangunan megah yang berdiri, tetapi dari seberapa hidup ruang-ruang kecil yang menjadi tempat rakyat mencari nafkah. Dan hari ini, di Terminal Baru Gamalama, kita sedang menyaksikan ruang itu perlahan kehilangan suaranya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *