Ketahanan Ekonomi di Tengah Ketidakpastian: Realitas Petani dalam Bayang-Bayang Isu OTK

Oleh: Rani Pardi

Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Khairun

Ketahanan ekonomi lokal sering dipandang hanya sebagai hasil dari ketersediaan sumber daya alam dan kemampuan produksi masyarakat. Padahal, dalam praktiknya, faktor non-ekonomi seperti stabilitas keamanan memiliki pengaruh yang sangat besar, bahkan menjadi penentu utama keberlangsungan aktivitas ekonomi masyarakat. Di Patani, munculnya isu Orang Tak Dikenal (OTK) telah menghadirkan bentuk ketidakpastian baru yang secara langsung memengaruhi kehidupan para petani sebagai aktor utama sektor riil di wilayah tersebut.

Dalam perspektif ekonomi pembangunan, ketahanan ekonomi dimaknai sebagai kemampuan masyarakat untuk bertahan, beradaptasi, dan pulih dari berbagai guncangan, baik yang bersifat ekonomi maupun non-ekonomi. Isu keamanan seperti OTK dapat dikategorikan sebagai shock eksternal yang mengganggu stabilitas aktivitas produksi dan distribusi. Ketika rasa aman masyarakat mulai menurun, maka fungsi dasar ekonomi—produksi, distribusi, hingga konsumsi—ikut mengalami gangguan.

Realitas di lapangan menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam pola aktivitas petani di Patani. Sebelumnya, aktivitas pertanian berjalan rutin dan terjadwal. Namun, dalam situasi yang dipenuhi ketidakpastian, sebagian petani mulai membatasi waktu kerja, menghindari lokasi tertentu, bahkan menunda aktivitas berkebun. Fenomena ini menunjukkan menurunnya intensitas produksi yang secara langsung berdampak pada hasil pertanian dan pendapatan masyarakat.

Dari perspektif behavioral economics atau ekonomi perilaku, kondisi tersebut dapat dijelaskan melalui meningkatnya persepsi risiko (risk perception). Ketika individu merasa berada dalam situasi yang tidak aman, keputusan ekonomi yang diambil cenderung lebih konservatif. Dalam konteks petani, hal ini berarti mengurangi aktivitas yang dianggap berisiko, meskipun aktivitas tersebut sebenarnya produktif secara ekonomi. Akibatnya, efisiensi dan produktivitas pertanian mengalami penurunan.

Tidak hanya pada sektor produksi, aspek distribusi pun turut mengalami tekanan. Ketidakpastian keamanan dapat menghambat akses petani menuju pasar, baik karena keterbatasan mobilitas maupun meningkatnya biaya transportasi akibat risiko yang harus ditanggung. Dalam jangka pendek, kondisi ini menyebabkan penurunan pendapatan petani. Sementara dalam jangka panjang, situasi tersebut berpotensi mengganggu stabilitas harga dan ketersediaan komoditas di tingkat lokal.

Ketahanan ekonomi petani juga diuji dari sisi kemampuan adaptasi. Sebagian petani mungkin masih mampu bertahan melalui pemanfaatan jaringan sosial atau diversifikasi sumber pendapatan. Namun, bagi petani yang memiliki keterbatasan akses terhadap modal, teknologi, dan informasi, kondisi ini justru memperbesar tingkat kerentanan ekonomi mereka. Dalam konteks ini, ketahanan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh dukungan sistem sosial dan kelembagaan yang ada di sekitarnya.

Selain dampak ekonomi, aspek psikologis juga tidak dapat diabaikan. Rasa cemas dan ketakutan yang berlangsung secara terus-menerus dapat memengaruhi kualitas pengambilan keputusan ekonomi masyarakat. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi menurunkan motivasi kerja, melemahkan produktivitas, serta mengurangi daya tahan ekonomi rumah tangga petani.

Oleh karena itu, pendekatan manajemen risiko menjadi sangat penting untuk diterapkan. Pertama, diperlukan upaya sistematis dalam mengidentifikasi dan memetakan tingkat risiko keamanan di wilayah pertanian. Kedua, penguatan sistem keamanan berbasis masyarakat dapat menjadi solusi jangka pendek yang efektif. Ketiga, diversifikasi ekonomi perlu didorong agar masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada satu sumber pendapatan. Keempat, peran pemerintah menjadi sangat krusial dalam memastikan stabilitas keamanan sekaligus menghadirkan intervensi ekonomi yang tepat, seperti subsidi, akses pembiayaan, hingga stabilisasi harga hasil pertanian.

Di sisi lain, modal sosial masyarakat Patani merupakan kekuatan yang tidak boleh diabaikan. Solidaritas komunitas, nilai-nilai lokal, dan kerja sama antarwarga dapat menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan kolektif. Ketahanan ekonomi sejatinya bukan hanya soal angka dan produksi, tetapi juga tentang kemampuan masyarakat untuk saling menopang dalam menghadapi ketidakpastian.

Sebagai penutup, realitas petani Patani di tengah isu OTK menunjukkan bahwa ketahanan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari stabilitas keamanan. Tanpa rasa aman, aktivitas ekonomi akan selalu berada dalam bayang-bayang risiko. Karena itu, diperlukan sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan aparat keamanan untuk menciptakan kondisi yang kondusif, sehingga ketahanan ekonomi lokal dapat terjaga dan berkembang secara berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed