Oleh: Siti Andriani Abdullah
Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Khairun Ternate
Kehadiran layanan transportasi berbasis aplikasi atau ojek online (ojol) di Kota Ternate belakangan ini menghadirkan dinamika sosial yang cukup kompleks. Kehadirannya yang di banyak daerah dianggap sebagai solusi transportasi modern dan praktis, justru memunculkan penolakan dari para pelaku transportasi konvensional, khususnya ojek pangkalan (opang). Situasi ini bukan sekadar persoalan perebutan penumpang atau persaingan mencari nafkah, melainkan gambaran nyata dari benturan antara modernisasi berbasis teknologi dengan sistem ekonomi tradisional yang telah lama hidup di tengah masyarakat Ternate.
Bagi para pengemudi ojek pangkalan, keberadaan pangkalan bukan sekadar tempat menunggu penumpang. Pangkalan memiliki makna yang lebih luas; ia menjadi ruang sosial tempat solidaritas antar-pengemudi tumbuh dan berkembang. Di sana terdapat hubungan kekeluargaan, sistem kerja yang telah dibangun bertahun-tahun, serta sumber penghidupan yang menopang kebutuhan keluarga mereka. Karena itu, ketika ojek online hadir dengan sistem digital yang menawarkan kemudahan akses, tarif yang jelas, dan mekanisme kerja yang lebih efisien, sebagian pengemudi ojek pangkalan melihatnya sebagai ancaman terhadap keberlangsungan hidup mereka.
Kekhawatiran tersebut tentu tidak muncul tanpa alasan. Sistem algoritma yang digunakan oleh aplikasi transportasi memungkinkan distribusi penumpang berlangsung lebih cepat dan terorganisasi. Sementara itu, pola kerja ojek pangkalan selama ini masih berjalan secara konvensional dengan mengandalkan sistem antrean dan wilayah pangkalan tertentu. Perbedaan sistem inilah yang kemudian memunculkan kecemasan akan berkurangnya pendapatan hingga ancaman kehilangan mata pencaharian. Tidak heran jika berbagai bentuk penolakan, seperti spanduk pelarangan ojol di beberapa titik kota, mulai bermunculan sebagai bentuk perlawanan terhadap perubahan yang mereka anggap mengancam.
Namun di sisi lain, perkembangan teknologi juga tidak dapat dipandang sebagai sesuatu yang sepenuhnya negatif. Masyarakat saat ini hidup dalam era yang menuntut kecepatan, kemudahan, dan efisiensi. Di Ternate sendiri, terutama di kalangan mahasiswa, generasi muda, dan pekerja, layanan berbasis aplikasi dianggap mampu menjawab kebutuhan mobilitas yang lebih praktis. Kemudahan memesan kendaraan melalui telepon genggam, kepastian tarif, hingga aspek keamanan menjadi alasan mengapa masyarakat mulai beralih pada layanan tersebut.
Digitalisasi transportasi pada dasarnya merupakan bagian dari konsekuensi perkembangan zaman yang sulit dihindari. Menolak kehadiran teknologi secara total tidak akan menghentikan perubahan itu sendiri. Ibarat menahan arus pasang laut, penolakan hanya akan memperlambat sementara, tetapi tidak dapat membendungnya sepenuhnya. Kebutuhan masyarakat terhadap layanan yang cepat dan efisien akan terus mendorong perubahan tersebut.
Persoalan utama yang sebenarnya perlu menjadi perhatian bukan terletak pada siapa yang harus menang atau kalah, melainkan bagaimana pemerintah dapat menghadirkan kebijakan yang mampu menjembatani kedua kepentingan tersebut. Pemerintah Kota Ternate memiliki peran penting sebagai mediator yang adil dalam mengelola dinamika ini. Kebijakan yang diambil tidak boleh hanya menguntungkan perusahaan digital besar, tetapi juga tidak boleh membiarkan pelaku usaha kecil seperti ojek pangkalan kehilangan ruang hidupnya.
Diperlukan regulasi yang jelas, seperti pengaturan zonasi atau titik-titik penjemputan tertentu untuk meminimalkan gesekan di lapangan. Lebih dari itu, langkah yang paling penting adalah mendorong inklusi digital bagi para pengemudi ojek pangkalan. Mereka perlu diberikan pendampingan, pelatihan, serta kesempatan untuk beradaptasi dengan teknologi agar tidak hanya menjadi penonton di tengah perubahan yang terus bergerak.
Pada akhirnya, konflik antara ojek online dan ojek pangkalan di Ternate tidak akan selesai hanya melalui aksi penolakan atau pelarangan sepihak. Penyelesaian persoalan ini membutuhkan kerja sama antara pemerintah, penyedia layanan aplikasi, dan para pengemudi ojek pangkalan. Ternate harus mampu menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak harus mengorbankan masyarakat kecil. Sebab kemajuan sejati bukan hanya tentang seberapa cepat sebuah daerah mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga tentang bagaimana tidak ada kelompok yang ditinggalkan di belakang.

















