POSTTIMUR.COM, HALTIM- Perayaan Hari Ulang Tahun Kabupaten Halmahera Timur tahun ini berlangsung meriah. Berbagai kegiatan hiburan digelar, mulai dari panggung rakyat hingga turnamen sepak bola yang menyedot antusiasme masyarakat. Salah satu pertandingan yang paling ramai diperbincangkan adalah laga Persip Peteley melawan Reall Jellome.
Namun di tengah gemuruh sorak suporter, muncul suara protes yang mencuri perhatian publik. Sejumlah pendukung membentangkan spanduk berisi kritik terhadap kondisi Tower Waci–Peteley yang hingga kini dinilai tidak berfungsi optimal. Dalam spanduk tersebut, warga menyoroti layanan 4G yang disebut “mandul total” meski tower telah dibangun menggunakan anggaran dari kementerian.
Menurut keterangan pemuda Halmahera Timur, Ilyas Addin, kritik tersebut muncul karena masyarakat melihat adanya kontras tajam antara kemeriahan perayaan daerah dan persoalan infrastruktur dasar yang belum terselesaikan. Di saat pemerintah daerah mengalokasikan anggaran besar, seperti Rp15 miliar untuk pengadaan meja dan lemari kantor serta Rp40 miliar untuk pemeliharaan kanal, warga Waci–Peteley justru masih kesulitan menikmati akses internet yang layak.
“Di tengah perayaan yang mewah dan meriah, masyarakat justru masih menghadapi persoalan dasar seperti sinyal 4G yang tidak berfungsi. Ini menjadi ironi pembangunan,” ujar Ilyas Addin.
Ia menegaskan bahwa akses jaringan internet saat ini bukan lagi kebutuhan tambahan, melainkan kebutuhan pokok di era digital. Aktivitas pendidikan, layanan administrasi, komunikasi keluarga, hingga aktivitas ekonomi kini sangat bergantung pada koneksi internet. Karena itu, lumpuhnya jaringan 4G dinilai sebagai bentuk ketertinggalan pembangunan yang nyata.
Ilyas juga menyoroti minimnya langkah konkret dari Pemerintah Daerah Halmahera Timur untuk memperbaiki tower tersebut sejak awal dibangun. Berdasarkan informasi yang berkembang di masyarakat dan disuarakan dalam aksi suporter, anggaran pembangunan tower dinilai tidak dikelola secara transparan sehingga fasilitas itu terkesan dibiarkan terbengkalai tanpa kepastian perbaikan.
“Kami melihat tidak ada keseriusan untuk menyelesaikan masalah ini. Padahal tower tersebut dibangun untuk kepentingan masyarakat,” katanya.
Menurut Ilyas, kondisi tersebut berdampak langsung terhadap kehidupan sosial masyarakat. Banyak pemuda dan mahasiswa asal Waci–Peteley yang menempuh pendidikan maupun bekerja di luar daerah. Ketika jaringan internet tidak berfungsi, komunikasi dengan keluarga menjadi terhambat, biaya komunikasi meningkat, bahkan informasi penting dan keadaan darurat sering terlambat diterima.
Tidak hanya itu, sektor ekonomi lokal juga ikut terdampak. Pelaku UMKM, petani, dan nelayan kesulitan mengakses informasi harga pasar serta memanfaatkan platform digital untuk pemasaran produk. Mahasiswa pun mengalami kendala mengikuti perkuliahan daring dan mengurus administrasi akademik yang kini serba online.
Karena itu, Ilyas Addin mendesak Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur segera mengambil langkah nyata untuk memperbaiki Tower Waci–Peteley tanpa harus menunggu momentum politik.
“Jangan sampai masyarakat hanya dibutuhkan suaranya ketika Pilkada, sementara kebutuhan dasar seperti sinyal 4G terus diabaikan. Transparansi, audit anggaran, dan aksi nyata harus dilakukan agar kepercayaan publik tidak semakin hilang,” tegasnya.
Kini, di balik gemerlap perayaan HUT Haltim, suara dari Waci–Peteley menjadi pengingat bahwa pembangunan bukan hanya soal seremoni, tetapi juga tentang memastikan seluruh warga merasakan manfaat nyata dari kehadiran pemerintah.
















