Oleh: Andiansyah
Mantan Ketua BEM Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun
Sebagai mantan Ketua BEM Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun, saya mengecam keras tindakan oknum konten kreator dan musisi yang dengan sadar maupun tidak sadar telah melecehkan tarian Cakalele, salah satu simbol kebanggaan masyarakat adat Tobelo-Galela. Apa yang mereka lakukan bukanlah kreativitas, bukan pula karya seni. Itu adalah bentuk kemalasan intelektual yang dibungkus dengan dalih hiburan. Ketika seseorang tidak mampu menciptakan karya yang bernilai, lalu menjadikan budaya leluhur sebagai bahan olok-olokan untuk mendapatkan perhatian publik, maka yang dipertontonkan sesungguhnya bukan kreativitas, melainkan kebodohan budaya.
Sangat memalukan ketika orang yang mengaku seniman justru gagal memahami makna dasar dari kebudayaan yang mereka eksploitasi. Mereka menikmati identitas Maluku Utara ketika menguntungkan, tetapi pada saat yang sama tidak memiliki penghormatan terhadap simbol-simbol budaya yang menjadi fondasi identitas daerah ini. Mereka ingin dikenal sebagai putra daerah, tetapi tidak mampu menunjukkan penghormatan kepada warisan leluhur daerahnya sendiri. Ini adalah kontradiksi yang memperlihatkan krisis moral dan krisis kesadaran budaya.
Cakalele bagi masyarakat Tobelo-Galela bukan sekadar rangkaian gerakan tubuh yang bisa diparodikan sesuka hati. Ia adalah simbol keberanian, penghormatan terhadap leluhur, sejarah perjuangan, dan harga diri masyarakat adat. Ketika Cakalele dipelesetkan menjadi bahan tertawaan, maka yang sedang ditertawakan bukan hanya para penari, tetapi juga sejarah panjang masyarakat Tobelo-Galela. Tindakan seperti ini menunjukkan betapa dangkalnya pemahaman pelaku terhadap kebudayaan. Mereka mungkin mampu memainkan alat musik, membuat lagu, atau menghasilkan konten, tetapi gagal memahami satu hal yang paling mendasar: etika menghormati budaya yang mereka pijak.
Lebih parah lagi, penghinaan seperti ini menciptakan ruang normalisasi terhadap pelecehan budaya. Ketika publik dibiarkan menertawakan simbol adat tanpa kritik, maka perlahan generasi muda akan tumbuh dengan anggapan bahwa budaya leluhur hanyalah bahan hiburan murahan. Inilah bahaya terbesar dari tindakan pelaku. Mereka bukan sekadar membuat konten yang buruk, tetapi ikut berkontribusi dalam proses degradasi kesadaran budaya masyarakat.
Para pelaku tidak boleh berlindung di balik alasan “hanya bercanda”. Alasan itu terlalu dangkal dan tidak menunjukkan kedewasaan berpikir. Orang yang benar-benar memahami seni akan tahu bahwa humor memiliki batas, dan batas itu adalah penghormatan terhadap martabat manusia serta identitas budaya suatu komunitas. Tidak semua hal bisa dijadikan lelucon, apalagi jika yang dijadikan bahan candaan adalah simbol budaya yang dihormati oleh masyarakat adat.
Saya menilai tindakan tersebut sebagai bentuk ketidakbertanggungjawaban sosial dari figur publik yang memiliki pengaruh di tengah masyarakat. Semakin besar pengaruh seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moralnya. Namun dalam kasus ini, pengaruh tersebut justru digunakan untuk menyebarkan ketidaktahuan dan meremehkan nilai-nilai budaya. Ini bukan sekadar kesalahan teknis dalam berkarya, melainkan kegagalan memahami posisi dan tanggung jawabnya sebagai figur publik.
Karena itu, masyarakat adat Tobelo-Galela berhak merasa marah dan tersinggung. Kemarahan ini bukan bentuk anti-kritik atau anti-kebebasan berekspresi, melainkan bentuk perlawanan terhadap upaya merendahkan martabat budaya mereka. Tidak boleh ada toleransi terhadap tindakan yang menjadikan adat sebagai objek ejekan. Sebab jika hari ini Cakalele dibiarkan dihina, besok mungkin simbol budaya lain akan menerima perlakuan yang sama.
Saya mengajak seluruh akademisi, pegiat budaya, tokoh adat, mahasiswa, dan masyarakat Maluku Utara untuk berdiri bersama membela kehormatan budaya daerah. Pelaku harus diberikan kritik yang tegas agar memahami bahwa budaya bukan panggung sensasi untuk mencari popularitas. Popularitas yang dibangun di atas penghinaan terhadap adat adalah popularitas yang miskin nilai, miskin etika, dan tidak layak dibanggakan.
Sebab pada akhirnya, orang yang menghina budaya leluhurnya sendiri bukan sedang menunjukkan keberanian atau kreativitas. Ia hanya sedang mempertontonkan betapa miskinnya pemahaman dirinya terhadap sejarah, identitas, dan martabat bangsanya sendiri.










