POSTTIMUR.COM, TIDORE- Bawang Topo dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi produk unggulan yang mampu menggerakkan perekonomian masyarakat Kelurahan Topo. Namun, potensi tersebut membutuhkan sinergi lintas sektor agar tidak hanya menjadi wacana, melainkan benar-benar berkembang menjadi komoditas yang berdaya saing dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Hal itu mengemuka dalam Dialog Publik bertajuk “Sinergi Pertanian dan Perencanaan Pembangunan dalam Mewujudkan Bawang Topo sebagai Produk Unggulan Berdaya Saing” yang mempertemukan pemerintah, akademisi, kelompok tani, dan masyarakat. Forum ini menjadi ruang untuk menyusun langkah strategis dalam menjawab berbagai tantangan yang selama ini dihadapi petani bawang Topo.
Selama bertahun-tahun, petani masih bergelut dengan persoalan pemasaran yang terbatas, produktivitas yang belum optimal, minimnya inovasi budidaya, keterbatasan lahan, hingga belum kuatnya identitas bawang Topo sebagai produk khas daerah. Kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan utama yang harus segera diatasi melalui kebijakan yang terarah dan kolaborasi berkelanjutan.
Melalui dialog tersebut, pemerintah daerah didorong untuk memasukkan pengembangan bawang Topo ke dalam agenda pembangunan jangka panjang. Dukungan berupa pendampingan teknis, penguatan kelembagaan petani, hingga alokasi anggaran yang memadai dianggap menjadi faktor penting dalam mendorong peningkatan kualitas dan daya saing komoditas tersebut.
Di sisi lain, peran akademisi juga dinilai strategis melalui riset, inovasi teknologi pertanian, serta pendampingan yang berkesinambungan guna meningkatkan produktivitas dan mutu hasil panen. Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan petani diyakini menjadi fondasi utama dalam mewujudkan bawang Topo sebagai komoditas unggulan daerah.
Koordinator Lapangan KKN Kelurahan Topo, Syahran Sahupala, mengatakan bahwa kegiatan yang digagas bersama pemerintah kelurahan merupakan bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung pengembangan potensi lokal.
“Kami berharap terlaksananya Dialog Publik ini menjadi batu loncatan bagi masyarakat dalam mengambil kebijakan untuk membentuk bawang Topo sebagai produk unggulan, sekaligus menjadikannya sebagai brand khas Kelurahan Topo,” ujar Syahran.
Selain penguatan sektor budidaya dan pemasaran, forum tersebut juga mendorong lahirnya langkah strategis berupa pengusulan Indikasi Geografis (IG) bagi bawang Topo. Dengan status tersebut, bawang Topo tidak hanya memperoleh perlindungan hukum sebagai produk khas daerah, tetapi juga memiliki nilai tambah ekonomi, memperkuat identitas lokal, serta meningkatkan daya saing di pasar yang lebih luas.
Keberhasilan pengembangan bawang Topo, menurut para peserta dialog, tidak semata diukur dari meningkatnya hasil produksi, melainkan dari sejauh mana komoditas tersebut mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Karena itu, hasil diskusi diharapkan segera diterjemahkan menjadi kebijakan, program nyata, dan kolaborasi berkelanjutan.
Dengan komitmen seluruh pemangku kepentingan, bawang Topo diharapkan tidak lagi hanya dikenal sebagai potensi lokal, tetapi mampu tumbuh menjadi ikon pertanian unggulan yang membanggakan Kelurahan Topo sekaligus menjadi penggerak ekonomi masyarakat. (*)











