Opini

Bertumpah Darah Satu, Menjaga Tanah yang Satu: Sebuah Refleksi Hari Sumpah Pemuda dari Timur Halmahera, 28 Oktober 2026

Oleh admin - 27 Okt 2026 WIT

Oleh: Riswan Rais Syarif (Pemuda Desa Dodaga)

Moyang saya tidak pernah menyebut Halmahera sebagai pulau nikel. Bagi mereka, Halmahera adalah pulau yang memberi ikan ketika laut sedang baik dan memberi rusa ketika hutan sedang rimbun. Dua puluh tahun kemudian, saya tumbuh dengan sebutan baru, yaitu Halmahera adalah pulau nikel, pulau smelter, pulau harapan.

Di antara dua sebutan itu, saya sebagai pemuda Halmahera Timur belajar arti baru dari sumpah yang diucapkan 98 tahun lalu. Ketika para pemuda 1928 berkata, “Bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia,” mereka tidak hanya menyatukan manusia, mereka menyatukan janji untuk menjaga tanahnya. Pertanyaannya, masihkah kami menjaga tanah itu hari ini?

1. Sumpah yang Lahir dari Tanah

Kita sering lupa bahwa Sumpah Pemuda tidak lahir di ruang kosong. Ia lahir dari keresahan anak-anak muda yang tanahnya dijajah, hutannya diambil, dan suaranya dibungkam. Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, mereka datang dari tanah yang berbeda-beda, tapi merasakan luka yang sama: tanah air mereka bukan milik mereka.

Oleh karena itu, kalimat pertama sumpah itu bukan tentang bangsa atau bahasa, melainkan tentang tanah, yakni “Bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia”.

Bagi pemuda 1928, tanah adalah identitas. Tanah adalah tempat menaruh harapan. Mereka bersumpah untuk tanah sebelum bersumpah untuk menjadi bangsa.

Saya mencoba menarik benang itu ke Halmahera Timur hari ini. Apa arti tanah bagi pemuda Halmahera Timur saat ini? Tanah bukan lagi sekadar tempat lahir dalam KTP. Tanah adalah ladang sagu yang mulai menyempit, sawah yang mulai tercemar, laut tempat bagang yang bergeser karena aktivitas tongkang, dan bukit-bukit yang dulu hijau kini terbuka.

Jika para pemuda dulu bersumpah untuk merebut tanah air dari penjajah, maka pemuda hari ini bersumpah untuk memastikan tanah air itu tidak hilang oleh keserakahan kita sendiri.

2. Dilema Pemuda Lingkar Tambang

Menjadi pemuda di lingkar tambang tidak sesederhana memilih menjadi pro atau kontra. Kami hidup di tengah dilema.

Di satu sisi, saya tidak bisa memungkiri harapan itu nyata. Saya melihat ada sebagian kecil pemuda yang dulu menganggur setelah tamat SMA, kini sudah bisa pakai seragam safety, punya gaji harian hingga bulanan, dan bisa mengirim uang untuk orang tua tanpa harus merantau jauh sampai ke Morowali, bahkan Papua.

Saya melihat warung-warung yang dulu sepi kini ramai, kos-kosan penuh, dan jalan yang dulu gelap kini terang karena ekonomi bergerak. Untuk daerah seperti Halmahera Timur, kedatangan industri adalah cerita tentang mobilitas sosial yang selama ini kami tunggu.

Namun, di sisi lain, kecemasan itu juga tidak kalah nyata, dan kecemasan itu tidak bisa dijawab dengan slip gaji. Saya mendengar keluhan bapak-bapak nelayan, hasil tangkapan tidak seperti dulu. Saya melihat air sungai yang dulu jernih untuk mandi kini agak kekuningan setelah hujan. Debu dari jalan hauling masuk sampai ke perkebunan warga.

Dan yang paling sering kami diskusikan sesama pemuda di warung-warung kopi adalah harga sembako naik, tanah mulai mahal, tapi skill kami hanya dihargai sebagai buruh.

Jika demikian, apa yang akan terjadi 15 atau 20 tahun lagi ketika cadangan itu menipis?

Inilah dilema kami. Kami bersyukur karena tanah kami bernilai, tapi kami juga takut karena nilai itu membuat kami lupa cara merawatnya.

Kami tidak anti-tambang. Kami hanya pemuda yang tidak ingin bernasib seperti tamu di tanah sendiri, yang hanya menonton kekayaan diangkut keluar, lalu ditinggalkan dengan lubang dan cerita.

Persatuan dalam Sumpah Pemuda mengajarkan kami untuk bersatu bukan hanya saat senang, tapi juga saat harus jujur mengatakan bahwa tanah air sedang tidak baik-baik saja.

3. Dari Penonton Menjadi Penjaga

Lalu, apa peran pemuda Halmahera Timur saat ini? Jika pada 1928 pemuda berperan dengan cara berkumpul dan berikrar, maka hari ini pemuda Halmahera Timur harus berperan dengan cara menjaga.

Pertama, menjaga dengan data.

Pemuda hari ini punya senjata yang tidak dimiliki pemuda 1928, yaitu handphone. Ketika laut berubah warna, ketika sawah tercemar, ketika hutan ditebang di luar izin, ketika debu melebihi batas, kita bisa merekam, mencatat tanggal, dan menyebarkannya. Penjaga yang baik adalah penjaga yang punya bukti, bukan hanya emosi.

Kedua, menjaga dengan suara.

Selama ini, banyak dari kami yang memilih diam dalam berbagai macam kesempatan karena merasa kecil. Padahal, Sumpah Pemuda lahir karena pemuda berani bersuara.

Kami harus berani bertanya: bagaimana reklamasi pascatambang? Bagaimana dana CSR untuk beasiswa anak Halmahera Timur? Bagaimana nasib lahan sagu, sawah, dan kebun kelapa kami?

Ketiga, menjaga masa depan dengan skill.

Nikel itu ada habisnya. Halmahera Timur tidak boleh hanya menyiapkan diri sebagai wilayah nikel. Pemuda harus juga belajar skill hijau: budi daya rumput laut yang berkelanjutan, pertanian tumpang sari, pengolahan hasil perikanan, hingga ekowisata.

Agar kelak ketika tambang sudah tidak seramai hari ini, kita tidak menjadi pulau yang kosong.

Akhirnya, bagi saya, memaknai Sumpah Pemuda di Halmahera Timur bukanlah dengan upacara dan baju adat saja. Maknanya adalah keputusan harian untuk tetap peduli.

“Bertumpah darah satu, tanah air Indonesia.”

Kalimat itu akan terus ada artinya selama masih ada pemuda di ujung Halmahera Timur yang menolak menjadi penonton di tanahnya sendiri dan memilih menjadi penjaganya.

Meski kecil, meski dari pulau paling timur, penjagaan itu adalah bentuk cinta kami yang paling nyata untuk Halmahera Timur dan Indonesia.

Back To Top