Oleh: Juliati Ramang
Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Khairun
Di balik toga yang dikenakan dan ijazah yang digenggam, tersimpan perjalanan panjang yang tidak selalu berjalan lurus. Di ruang kuliah, lorong kampus, hingga kantin yang penuh hiruk-pikuk, mahasiswa sering dihadapkan pada satu pertanyaan yang terasa sederhana tetapi penuh tekanan: “Kapan selesai?” Pertanyaan itu bukan hanya datang dari diri sendiri, melainkan juga dari orang tua, keluarga, bahkan masyarakat yang kerap mengukur keberhasilan seseorang dari seberapa cepat ia menyelesaikan studi.
Lulus tepat waktu telah menjadi standar sosial yang dianggap ideal. Empat tahun untuk jenjang sarjana seolah menjadi ukuran mutlak keberhasilan mahasiswa. Mereka yang berhasil menyelesaikan studi sesuai target akan dipuji, sementara yang terlambat sering dipandang gagal atau kurang serius menjalani pendidikan. Padahal, kehidupan kampus jauh lebih kompleks daripada sekadar menghitung jumlah semester.
Di era persaingan global dan media sosial seperti sekarang, tekanan itu semakin besar. Media sosial dipenuhi gambaran tentang “mahasiswa sempurna” yang lulus cum laude dalam waktu singkat, meraih beasiswa, aktif organisasi, bahkan sudah bekerja sebelum wisuda. Realitas semacam ini tanpa sadar menciptakan standar yang tidak selalu realistis bagi semua orang. Akibatnya, banyak mahasiswa merasa tertinggal hanya karena perjalanan mereka tidak secepat orang lain. Tekanan tersebut bukan hal sepele, sebab berdampak langsung pada kesehatan mental dan rasa percaya diri mahasiswa.
Namun, apakah kecepatan lulus benar-benar menjadi satu-satunya tolok ukur kesuksesan? Apakah mereka yang wisuda lebih cepat otomatis lebih siap menghadapi dunia kerja dibandingkan mahasiswa yang memiliki banyak pengalaman selama kuliah? Pertanyaan ini penting untuk direnungkan bersama, agar pendidikan tinggi tidak hanya dipandang sebagai perlombaan mengejar waktu.
Menurut saya, lulus tepat waktu memang penting, tetapi bukan segalanya. Masa kuliah adalah fase kehidupan yang sangat berharga dan tidak akan terulang. Akan sangat disayangkan jika seluruh waktu di kampus hanya dihabiskan untuk mengejar nilai dan kelulusan, tanpa membangun pengalaman yang lebih luas. Mahasiswa yang aktif berorganisasi, mengikuti magang, membangun relasi profesional, terlibat dalam kegiatan sosial, atau bahkan merintis usaha kecil sebenarnya sedang membentuk fondasi kehidupan yang lebih kuat untuk masa depan mereka.
Keterlambatan lulus tidak selalu berarti kegagalan. Dalam banyak kasus, hal itu justru menunjukkan bahwa seseorang sedang belajar lebih banyak dari sekadar materi di ruang kelas. Pengalaman organisasi mengajarkan kepemimpinan dan kerja sama. Magang memperkenalkan realitas dunia kerja. Kegiatan sosial menumbuhkan empati dan kemampuan berkomunikasi. Semua itu adalah pelajaran hidup yang sering kali tidak ditemukan di dalam silabus perkuliahan.
Dunia kerja hari ini juga semakin menuntut kemampuan yang lebih luas daripada sekadar nilai akademik. Banyak perusahaan kini mencari individu yang adaptif, komunikatif, kreatif, dan mampu bekerja dalam tim. Rekruter tidak lagi hanya melihat IPK atau lama studi, tetapi juga pengalaman yang dimiliki pelamar—pernah magang di mana, proyek apa yang pernah dikerjakan, organisasi apa yang pernah dipimpin, dan kontribusi apa yang pernah diberikan. Dengan kata lain, nilai sebuah ijazah hari ini tidak hanya ditentukan oleh tanggal kelulusan, tetapi juga oleh cerita dan pengalaman di baliknya.
Fakta-fakta yang ada turut memperkuat pandangan tersebut. Survei LinkedIn Global Talent Trends menunjukkan bahwa lebih dari 92 persen manajer perekrutan menilai soft skills dan pengalaman nyata sama pentingnya, bahkan lebih penting, dibandingkan gelar akademik semata. Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 mencatat tingkat pengangguran terbuka di kalangan sarjana masih berada di angka 5,18 persen. Ini menunjukkan bahwa memiliki gelar saja belum cukup untuk menjamin kesiapan menghadapi dunia kerja. Di sisi lain, sejumlah penelitian juga menemukan bahwa mahasiswa yang aktif berorganisasi cenderung memiliki waktu tunggu kerja yang lebih singkat setelah lulus.
Pada akhirnya, setiap mahasiswa memiliki jalan dan prosesnya masing-masing. Tidak semua orang memiliki kondisi, kesempatan, dan tantangan yang sama. Karena itu, membandingkan perjalanan seseorang hanya dari cepat atau lambatnya lulus adalah cara pandang yang terlalu sempit. Pendidikan seharusnya tidak hanya melahirkan lulusan yang cepat selesai, tetapi juga pribadi yang matang, berpengalaman, dan siap menghadapi kehidupan nyata.
Lulus tepat waktu memang sebuah impian, tetapi lulus dengan pengalaman adalah kenyataan yang jauh lebih berharga. Sebab masa depan bukan milik mereka yang selesai paling cepat, melainkan milik mereka yang paling siap melangkah.









