Surat untuk Kita: Rumah Tembok, Papan dan Triplek

Oleh: M. Mija U. Al’gafar

Kepada kita yang masih setia melangkah. Kepada kita yang masih memilih berjuang demi mengangkat harkat dan martabat manusia. Kepada kita yang masih menyimpan mimpi tentang perubahan, meski berkali-kali realitas mencoba mematahkan keyakinan.

Surat ini kutulis dari sebuah rumah sederhana, rumah yang bertembok papan dan triplek. Rumah yang mungkin tidak megah, tidak kokoh seperti bangunan-bangunan yang berdiri di pusat kekuasaan. Namun, di tempat sederhana inilah kita pernah belajar sesuatu yang jauh lebih mahal daripada kemewahan sebuah bangunan: tentang pengetahuan, keberanian, persahabatan, dan perjuangan.

Di sinilah kita belajar bahwa pengetahuan tidak selalu lahir dari menara-menara tinggi.

Ia bisa tumbuh di sela-sela papan yang renggang, di balik dinding triplek yang dipaku seadanya, di antara suara hujan yang jatuh dari atap yang bocor, dan dalam percakapan-percakapan panjang yang kadang tidak menghasilkan apa-apa selain keyakinan baru untuk tetap berjalan.

Di rumah sederhana ini, kita membangun orientasi epistemologi untuk kekuatan literasi. Kita membaca dunia, membaca realitas, membaca luka, lalu mencoba memahami mengapa manusia masih harus berjuang agar dirinya tetap dimanusiakan.

Kepada kawan-kawan yang pernah duduk bersama di tempat ini, Kepada mereka yang kini memilih diam ketika kawan-kawannya masih memanggil untuk belajar dan berdiskusi.

Kepada mereka yang menjual percakapan-percakapan rapat demi jabatan. Kepada mereka yang meninggalkan percakapan tentang rakyat karena takut pada lapar.

Dan kepada mereka yang memilih menjadi penjilat di lingkaran kekuasaan daripada berdiri di samping mereka yang tertindas. Aku kecewa.

Bahkan, aku membenci pengkhianatan terhadap nilai-nilai yang dahulu kita perjuangkan bersama. Tetapi biarlah waktu yang mencatat semuanya.

Rumah papan dan triplek ini akan menjadi saksi: siapa yang tetap tinggal ketika hujan membocorkan atap dan panas meninggalkan keringat di tubuh; siapa yang tetap duduk ketika keadaan menjadi sulit; dan siapa yang memilih pergi ketika angin perjuangan mulai bertiup kencang.

Kalian tidak meninggalkan rumah ini karena rumahnya sempit. Mungkin yang menjadi sempit adalah ruang keberanian di dalam hati dan pikiran.

Kalian tidak meninggalkan perjuangan ini karena perjuangan ini salah. Bisa jadi, kalian hanya belum cukup kuat untuk menanggung konsekuensi dari keyakinan yang pernah kalian ucapkan sendiri.

Kalian meninggalkan epistemologi. Meninggalkan dasar filosofi. Meninggalkan percakapan tentang manusia dan kemanusiaan.

Bukan karena semuanya kehilangan makna, tetapi karena keberanian untuk mempertahankannya perlahan kalian lepaskan.

Dan aku kecewa terhadap itu. Namun, tidak apa-apa.

Biarlah epistemologi dan filosofi perjuangan ini tetap tumbuh di sela-sela papan dan triplek. Biarlah ia hidup dari buku-buku yang lusuh, dari diskusi yang sederhana, dari kegelisahan anak-anak muda yang belum selesai mencari kebenaran.

Sebab perjuangan tidak membutuhkan rumah yang megah. Perjuangan hanya membutuhkan manusia yang bersedia menjaga api keyakinannya.

Biarlah mereka yang masih setia tetap berada di sini. Merawat api kecil ini. Menjaga agar ia tidak padam.

Sebab sejarah tidak selalu ditulis oleh mereka yang paling banyak berbicara. Sejarah sering kali justru lahir dari mereka yang tetap tinggal ketika yang lain memilih pergi; dari mereka yang tetap menyalakan lilin ketika ruangan dipenuhi kegelapan.

Dan jika suatu hari nanti kawan-kawan pergi satu per satu, kepada kita yang masih tinggal, aku hanya ingin berkata:

Tetaplah melangkah. Tetaplah membaca.

Bacalah luka-luka masyarakat dengan jujur. Bacalah ketidakadilan tanpa rasa takut. Bacalah realitas bukan hanya dari apa yang dikatakan penguasa, tetapi juga dari suara mereka yang selama ini tidak didengar.

Dan setelah membaca luka itu, jangan biarkan ia menjadi sekadar bahan diskusi. Bersihkan ia dari kepengecutan. Jangan biarkan rumah papan ini kosong.

Sebab dari rumah yang sederhana—yang bertembok papan dan triplek inilah, kita sedang membangun sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah ruang berkumpul.

Kita sedang membangun keyakinan bahwa manusia harus tetap dimanusiakan. Bahwa ilmu pengetahuan harus berpihak pada kebenaran.

Bahwa literasi harus menjadi alat pembebasan, bukan sekadar hiasan intelektual.

Bahwa keberanian tidak selalu berbentuk suara yang keras, tetapi kesediaan untuk tetap berdiri ketika banyak orang memilih berlutut.

Dan barangkali, di sinilah kalimat Soe Hok Gie menemukan relevansinya: “Lebih baik diasingkan daripada menyerah kepada kemunafikan.”

Kalimat itu bukan sekadar kutipan yang indah untuk ditulis di halaman buku atau ditempel di dinding rumah sederhana.

Ia adalah pilihan. Pilihan untuk tetap menjadi diri sendiri ketika dunia meminta kita berpura-pura.

Pilihan untuk kehilangan tempat di lingkaran kekuasaan daripada kehilangan harga diri. Pilihan untuk berjalan sendirian daripada ramai-ramai tetapi kehilangan arah. Karena pada akhirnya, yang paling menakutkan bukanlah diasingkan.

Yang lebih menakutkan adalah ketika kita masih berada di tengah kerumunan, tetapi telah kehilangan keberanian untuk mengatakan yang benar.

Maka biarlah rumah kecil ini menjadi saksi. Jika suatu hari nanti nama-nama kita telah dilupakan, biarlah gagasan-gagasan kita tetap hidup.

Jika suatu hari nanti papan-papan ini lapuk dan triplek-triplek ini hancur, biarlah api yang pernah kita nyalakan tetap berpindah dari satu kepala ke kepala lainnya, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sebab rumah boleh roboh. Buku boleh usang. Orang-orang boleh pergi. Tetapi keyakinan tentang kemanusiaan tidak boleh mati.

Semoga tulisan ini menjadi salah satu catatan kecil dari begitu banyak persoalan yang kadang terasa tidak masuk akal.

Biarlah realitas yang berbicara.

Biarlah fakta yang menguji.

Dan biarlah kebenaran menemukan jalannya sendiri.

Sebab pada akhirnya, bukan kita yang menentukan bagaimana sejarah akan mengingat kita.

Sejarahlah yang kelak menguji: siapa yang benar-benar tinggal, siapa yang memilih pergi, dan siapa yang tetap menyalakan api ketika yang lain memilih memadamkannya.

Ternate, 8 Oktober 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top