Paradigma Manusia Sebagai Suatu Fenomena

Opini289 Dilihat

Foto : Ismawan Din

Oleh : Ismawan Din

(Kader HMI Komisariat Ibnu Sina Cabang Ternate)

Manusia sebagai suatu fenomena, dapat dikatakan sama dengan mahluk lain sebagai fenomena, khususnya sama dengan sesama makhluk hidup. Manusia tunduk kepada hukum alam (sunatullah), mengalami kelahiran, pertumbuhan, perkembangan, mati, dan seterusnya. Namun demikian, manusia disebut manusia karena memiliki kelainan hakiki yang berbeda dengan mahkluk hidup lain, khususnya dengan mahkluk hidup. Al akli yang dikaruniakan Al Khalik kepada manusia, menjadi kunci utama perbedaan manusia dengan mahkluk hidup non manusia. Meskipun menurut sejarah kehidupan, manusia itu merupakan mahkluk hidup yang termuda, ia telah membawa perubahan ruang muka bumi yang sangat berbeda dengan keadaan sebelum mahkluk yang disebut manusia lahir.

Manusia sebagai ciptaan Al Khalik, tidak dapat ditelaah hanya sebagai fenomena alam semata-mata dan sebagai mahkluk yang berakal juga tidak dapat ditelaah hanya sebagai fenomena budaya. Dalam diri manusia selaku mahkluk, melekat pada fenomena alam dan juga fenomena budaya. Hal inilah yang menjadi keunikan manusia.

Sebagai individu, manusia merupakan kesatuan jasmani dan rohani yang mencirikan otonomi dirinya. Dalam proses pertumbuhan jasmani dan perkembangan rohani, manfaat kemampuanya secara alamiah bagi kepentingan individu sendiri. Namun dalam konteks social selaku mahkluk social, pertubuhan dan perkembangan individu tersebut pemanfaatanya tidak hanya kepentingan pribadi, melainkan juga untuk kepentingan bersama atau kepentingan masyarakat. Bahkan pertanggungjawaban perilaku dirinya, juga tidak hanya tertuju kepada individu yang bersangkutan, melainkan juga tertuju kepada masyarakat.

Manusia sebagai mahkluk hidup yang dikaruniai akal-pikiran yang berkembang dan dapat dikembangkan, juga julukan sebagai mahkluk budaya. Keunikan ini telah membawa pertumbuhan dan perkembangan manusia yang berbeda dengan mahkluk hidup lainnya, bahkan juga perkembangan ruang muka bumi yang menjadi tempat hidup serta sumberdaya yang menjaminnya. Oleh karena itu, perilaku manusia ini menuntut tanggung jawab terhadap budaya yang menjadi bagian dari kehidupan manusia sendiri.

Dalam sistem alam, manusia merupakan bagian dari alam yang berinteraksi dengan alam sebagai lingkungannya. Yang artinya, pada system alam ini manusia ada dan hidup dalam “lingkungan alam”. Maka manusia dituntut tanggung jawabnya terhadap lingkungan alam tadi.

Selanjutnya, dalam system budaya, selain manusia berkreasi dalam mengembangkan akal-pikirannya yang menghasilkan kebudayaan, manusia juga berinteraksi dengan sesama. Oleh karena itu, manusia sebagai mahkluk budaya tidak dapat melepaskan diri dari konteks budaya yang mempengaruhi, membatasi, dan bahkan mengembangkan kehidupannya sendiri. Manusia selain hidup dalam “lingkungan budaya”, juga berinteraksi dengan lingkungan tersebut. Dari hasil interaksi ini, membawa dampak keruangan dan tata ruang muka bumi seperti yang kita alami dewasa ini.

Pada proses social dalam bentuk interaksi social, manusia tidak terlepas dari konteks social yang disebut “lingkungan social”. Lingkungan social ini besar sekali pengaruhnya terhadap pembentukan pribadi individu. Ungkapan vonis sehari-hari di masyarakat, semisalnya seperti istilah “salah lingkungan”, jelas ditujukan pada lingkungan social. Ke dalam lingkungan social ini termasuk keluarga, teman, para tetangga, dan demikian seterusnya.

Terakhir dari saya, untuk memahami manusia selaku individu, selaku pribadi, dan selaku anggota masyarakat, kita dituntut memahami serta menelaah  latar belakang kehidupan manusia melalui dari lingkungan social, lingkungan budaya, sampai lingkungan alamnya. Berkaitan dengan hal tersebut, kita dituntut pula memahami dan menelaah proses yang terjadi pada diri manusia dalam konteks social, budaya, dan lingkungan hidupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *