Spirit Manusia Paripurna

Opini1715 Dilihat

Foto : Bambang Rano

Oleh : Bambang Rano
(Pegiat Literasi Loga-Loga)

Menapaki kehidupan dengan perjalanan suluk yang terus meningkat kualitas diri manusia. Kualitas diri manusia ada pada kerohaniannya dengan pengalaman spiritual dan pada aspek ilmu pengetahuannya.

Dengan sendirinya, pergulutan kehidupan manusia menjadi makhluk rohani dalam pengalaman eksistensi manusia yang mengalir dari kedirian. Manusia pada hakikatnya memiliki daya potensi akal dan hati yang aktual, serta merealisasikan dirinya dengan intelektual, emosional, dan spiritual.

Sachiko Morata dalam bukunya “The Tao of Islam (1992), tentang manusia sebagai poros dan sumbu kosmos. Oleh karenanya, sebelum manusia layak mengemban identitas sebagai wakil Tuhan, manusia harus melakukan berbagai upaya menjalankan misi yang diberikan kepadanya.

Misi yang diberikan kepada manusia harus hidup sebagaimana seharusnya adalah manusia dalam kondisi spiritual, intelektual, dan tanggujawab sosial. Serta hidup sebagai semestinya harus sesuai dengan fitra kemanusiaan dan keadilan. Sehingga manusia tidak kehilangan fitra kemanusiaannya dan tanggungjawab sosialnya.

Dengan demikian, manusia akan hidup dengan zuhud yang terpancar dari sikap perbuatannya. Serta sikap terbuka dengan pemikiran yang tercerahkan dan kebenaran. Karena itu, manusia tidak bisa diabaikan dan tidak bisa ditindas, sebab itu bertentangan dengan fitra kemanusiaan yang universal.

Ulil Abshar Abdalla dalam bukunya “menjadi manusia rohani” pendekatan perubahan sosial dalam pandangan kaum sufi biasanya adalah “memulai dari diri sendiri”, tak ada gunanya kita mengubah struktur, sistem, dan aturan, jika batin dan hati orang-orang masi sakit, (kutipan di halaman 200).

Maka memulai dari diri sendiri, untuk merubah diri sendiri, seperti merubah dunia,  denga sendirinya tidak mengikari kebenaran. Sebab perubahan itu berawal dari diri sendiri. Oleh karena itu, diri yang terpancar dari batin memiliki spirit pencerahan.  

Itulah mengapa, kehidupan harus direfleksikan, direnungkan, dipikirkan dan dilakoni dengan kesadaran spiritual dan intelektual. Bahwa kehidupan ini tidak sia-sia, melainkan memiliki makna dan tujuan. Seperti ungkapan Anthony Giddens, tidak seorangpun dari kita dapat menemukan makna dalam hidupnya, jika tidak memiliki sesuatu yang bernilai untuk diperjuangkan mati-matian.

Manusia berhadapan dengan dirinya sendiri dalam hidup, dan mengelola akal budinya dengan kemerdekaan dan kebebasan berpikir. Hingga menemukan sesuatu yang bernilai dan bermakna yang terus dihayati secara intensitas dalam pergulatan kehidupan. Tanpa itu, begimana kehidupan itu bermakna, jika orientasi manusia hanya mengejar hasrat pada dirinya.

Tanpa disadari manusia terpenjara dengan hasrat dan egoisnya yang menghabat pada tanggujawab fitra kemanusiaannya. Oleh sebab itu, manusia akan retak dan kehilangan pegangan dan pijakan. Namun manusia terayun dalam ketegangan masa depan yang mengalami dis-orientasi.

Hidup manusia harus berarti dan berguna bagi siapa saja dalam kehidupan kesehariannya. Dalam perkembangan refleksi kehidupan keseharian manusia mengenai pengetahuannya, kebersamaan dan kedermawan dengan kesadaran aktualisasi diri. Saat bersamaan, dinamika kehidupan harus diaktualisasi dengan kesadaran diri.

Namun aktualisasi kesadaran diri lahir dari pancaran kebenaran yang disertai dengan perkataan dan perbuatan. Kesadaran profetik seperti ini menjadi komitmen dan konsistensi perjuangan manusia paripurna yang tak pernah usai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *