Oleh : Bambang Rano
(Penulis Adalah Penggiat Literasi Loga-Loga)
Gaya hidup modern, disamping itu menawarkan berbagaikenikmatan dan kemuduhan hidup dalam pergaulan sosialdengan sesama manusia. Dapat dikatakan bahwa masyarakatsaat ini hidup dalam budaya kosumerisme. Perkembangaanmasyarakat kapitalisme mendorong sosiologi seperti Storey(2017:1) mencari jawaban atas pertanyaan: mengapa manusiabegitu banyak mengkonsumsi dalam masyarakat kapitalisme? Pertanyaan ini penting untuk diselami karena mengajak kitamasuk dalam ranah pembahasan konsumerisme yang jauh lebihluas dan refleksi dari pada istilah konsumsi.
Konsumerisme adalah ‘’atribut masyarakat’’ (Bauman, 2007: 28), lebih dari sebuah tindakan mengkonsumsi barangdan jasa, bahkan seringkali tindakan konsumsi yang dilakukantidak dimaksud untuk memenuhui kebutuhan (Lodziak, 2002:2).Hal ini karena kosumerisme sudah menjadi cara hidup (Mileu, 2006: 3-4). Karl Marx menjelaskan bahwa komoditas hanyamemiliki dua aspek, yaitu: pertama, Nilai guna tidak lain merupakan kegunaan suatu objek dalam pemenuhan kebutuhantertentu. Kedua, nilai tukar yang terkait dengan nilai produk itudipasar, atau objek yang bersangkutan.
Namun apa yang dinyatakan oleh Marx berbeda denganBaudrillard bahwa objek tidak hanya nilai pakai dan nilai tukar. Tetapi juga memiliki simbolik nilai dan tanda nilai, maksud dariperyataan tersebut orang tidak lagi mengkonsumsi sebuah objekberdasarkan kegunaan dan nilai tukar, dan juga adanya nilaisimbolik dan nilai tanda yang abstrak. Bahwa konsumsilah yang menjadi inti dari ekonomi bukan lagi produksi, melainkankonsumsi membuat manusia tidak mencari kebahagiaan.
Namun acuan dalam gaya hidup dalam konsumerismesebagai cara hidup yang tak lagi bermutu dari bentukkomoditas, karena kita lebih memandang kemasannya dari padakualitas kebutuhan konsumsi. Hal inilah terjadi di masyarakatIndonesia yang cenderung pada manipulasi diri dengan citrahidup. Inilah yang disebut Baudrllard sebagai masyarakatkonsumeris (consumer society) dalam relasinya dengan sistemtanda nilai. Tanda menjadi salah satu elemen penting dalammasyarakat konsumeris saat ini, tindakan konsumsi suatubarang dan jasa tidak lagi berdasarkan pada kegunaannya.
Melainkan lebih mengutamakan pada tanda dan simbolyang melakat pada barang itu sendiri. Pada akhirnya masyarakathanya mengkonsumsi citra yang melekat pada barang tersebut.Kecenderungan masyarakat mengkonsumsi barang melalui lebelyang tidak pernah merasa puas dan memicu terjadi konsumsisecara terus-menerus. Melalui berbagai label yang menggiurkandan mendesak gaya hidup mewah dengan kenikmatan ke dalambenak bawah-sadar konsumen.
Bahwa konsumsi bukan hanya soal psikologis atau gejalasosial, melainkan gejala budaya yang sengaja dirancang untukmemungkinkan mesin industri gaya hidup terus berputar. Seperti mahluk rakus yang tidak pernah kenyang, konsumsi melahap lahan hijau untuk pembangunan sentral-sentral bisnisdan mencampur aduk ruang-ruang kultural dengan ruang-ruangekonomi.
Tanpa disadari, masyarakat terayun dalam ketegangankonsumerisme melalui gaya hidup yang menggairahkan(stimulating), bahwa konsumsi komoditas yang produksi secaramassal yang membentuk dimensi vital bagi ekonomi kapitalis. Pendek kata, orientasi masyarakat di didik untuk mengejarhasrat dalam konsumsi sebagai ‘’ideologi pasar’’ yang telahmelahirkan identitas kultur.
Dewasa ini, gaya kehidupan masyarakat mulai dari polamakan dan berpaikan menjadi objek konsumsi yang berubahdari nilai-guna dan makna simbol dari pengalaman hidup.Kebutuhan yang baru dihasilakan itu sebagai elemen vital yangdiproduski oleh media iklan untuk memenuhi hasrat. Di samping itu menawarkan berbagai kenikmatan dan kemewahanhidup yang memiliki daya imaji dan simbol untuk menandaiidentitas sosial.
Sehingga mampu memperoleh beragam makna dansignifikasi menurut konteks pemakaian dan kompetensi kulturalpemakainya. Cara pemakaian barang-barang secara simbolsebagai sarana untuk memproduksi tatanan sosial yang berhubungan dengan kelas yang mapan melalui kebudayaan.Dengan demikian, budaya iklan mendominasi segala aspekkehidupan.
Walapun manusia, atau subjek agen memiliki unsur nilaikebudayaan, tapi jika manusia atau subjek itu tak sadar denganhasrat yang dikejar. Maka objek hasrat manusia tak pernahselesai dalam kerumunan massa dengan hegomoni kapital yang mengeksplotasi kesadaran kita. Tapi kita tak punya tempatdalam kesadaran dan kebebasan yang ril melainkan kesadaranpalsu.
Ciri demikian, kapitalisme memahami pola gaya hidupyang kompleks dan membawa berbagai konsekuensi kehidupan.Saat bersamaan, kesadaran diri maupun tata peradaban yang dibangun dengan gempuran “budaya konsumerisme” yang meledak secara global, sekaligus mengiringi lenyapnyakepekaan terhadap kearifan lokal. Serta berbagai kontradiksilainnya yang tumpang-tindih, susul-menyusul, mewarnai wajahperadaban manusia hari ini.
Alhasil manusia dalam kebingungan karena kehilangan jatidiri kemanusiaannya secara mental banyak diwarnai olehdislokasi kejiwaan. Dan disorientasi kehilangan pegangankarena runtuhnya nilai-nilai lama, dan juga deprivatisasi relatifperasaan tersingkir dan terasing dalam bidang kehidupantertentu.
Menurut Erich Fromm, karakter umum masyarakat masakini itu adalah “alienasi” (keterasingan). Hampir dalam setiapdimensi kehidupannya manusia terasing, baik dalamhubungannya dengan pekerjaannya, dengan komoditas yang iakonsumsi, dengan negara, dengan sesama manusia, dan bahkandengan dirinya sendiri. Manusia pun selanjutnya seakanmenjadi budak dari mesin besar yang ia ciptakan sendiri.
Semakin besar dan berkembang ciptaannya itu, semakinmanusia tidak berdaya untuk mengendalikannya lagi. Dengannada yang prihatin Seyyed Hossein Nasr meratapi manusia hariini yang terjebak dalam perangkap-perangkap ciptaan sendiri, baik itu dalam nama teknologi, kritisisme, subjektivisme, relativisme, psikologisme, maupun biologisme.
Manusia tidak mampu mengembangkan kemanusiaannyasendiri, karena pendiriannya lenyap ditelan oleh sistem dangaya hidup yang mereka bangun sendiri. Dengan akal-budi yang dimilikinya, harusnya manusia hidup dalam paradigmaphilosophia (cinta kepada kebijaksanaan), namun dalamkenyataannya, manusia lebih banyak menghindari pertemuandengan sang kebijaksanaan tersebut.
Dan lebih sibuk dalam pemenuhan hasrat dan ambisinyauntuk mengksplotasi sumber daya alam dan memuaskankesenangan sesaatnya. Sehingga alih-alih menggalikebijaksanaan, manusia justru mengembangkan paradigmakebalikannya: miso-sophia kebencian terhadap kebijaksanaan.

















