Komunitas Speedboat Dan Ancaman Yang Terabaikan

Opini761 Dilihat

Oleh: Balgis Sofyan

Mahasiswa Universitas Khairun Ternate, Prodi Manajemen 

Speedboat adalah urat nadi Pelabuhan Rum, tapi ancamannya selalu diabaikan. Kecelakaan, mesin rusak, harga BBM naik – komunitas pelaut lokal terus bergulat dengan risiko mematikan ini. Tanpa dukungan nyata, bisakah mereka bertahan?

Faktanya, 103 speedboat di Pelabuhan Rum menjadi tulang punggung transportasi warga Tidore-Ternate, dengan rata-rata 500-800 penumpang/hari. Namun, 72 persen operator speedboat bekerja tanpa jaminan asuransi yang memadai, sementara pendapatan mereka (Rp2,4-2,8 juta/bulan) harus dibagi untuk 2-3 awak kapal—angka yang belum mencukupi kebutuhan dasar (Yetty et al. 2022). Ini bukan hanya soal keselamatan, melainkan kegagalan sistem dalam melindungi pelaku usaha lokal (Franata, 2015).

Dampaknya terlihat nyata: setiap kali terjadi kecelakaan atau mesin rusak, seluruh penghidupan para operator dan awak kapal langsung terancam. Mereka terpaksa berhutang atau mengandalkan bantuan sesama pelaut, karena tidak ada jaring pengaman resmi. Padahal, solusi sederhana sebenarnya bisa diterapkan – seperti pembentukan kelompok asuransi bersama antar pemilik speedboat, atau pelatihan dasar perawatan mesin untuk mengurangi biaya perbaikan. Sayangnya, inisiatif seperti ini sering mentok di tengah jalan akibat kurangnya dukungan dan koordinasi antara komunitas pelaut, pemerintah lokal, dan pihak terkait lainnya.

Memutus lingkaran kerentanan ini, diperlukan kolaborasi nyata antara tiga pihak kunci. Pertama, komunitas pelaut bisa memulai dengan membentuk koperasi speedboat yang mengelola dana darurat bersama. Kedua, pemerintah daerah perlu hadir dengan program pelatihan keselamatan pelayaran dan akses kredit ringan untuk perawatan kapal. Ketiga, pihak pelabuhan harus menyediakan posko darurat dan sistem pemantauan cuaca real-time. Dengan pembagian peran yang jelas, mitigasi risiko tidak lagi menjadi beban individu, tetapi tanggung jawab kolektif yang berkelanjutan.

Potensi transportasi laut di Pelabuhan Rum terlalu besar untuk dibiarkan tenggelam oleh masalah yang sebenarnya bisa diantisipasi. Kisah para pelaut speedboat ini adalah cerminan ketahanan masyarakat pesisir yang terus berjuang di tengah sistem yang belum sepenuhnya berpihak. Saatnya semua pihak duduk bersama – bukan hanya untuk membicarakan masalah, tetapi untuk segera menerapkan solusi konkret. Karena ketika satu speedboat berhenti beroperasi, bukan hanya satu keluarga yang menderita, tetapi seluruh rantai ekonomi masyarakat pesisir yang terganggu.

Dinas Perhubungan sebagai regulator perlu mengambil peran lebih proaktif dalam menjamin keselamatan transportasi laut. Langkah konkret yang dapat dilakukan antara lain: (1) melakukan inspeksi rutin terhadap kondisi teknis speedboat, khususnya mesin dan kelayakan kapal; (2) menciptakan mekanisme pendataan dan sertifikasi yang ketat untuk memastikan hanya armada yang memenuhi standar keselamatan yang beroperasi; serta (3) menyediakan program bantuan penggantian kapal bagi operator yang memenuhi kriteria. Kebijakan ini tidak hanya akan meningkatkan keselamatan penumpang, tetapi juga mendorong modernisasi armada transportasi laut lokal secara bertahap. Dengan pendekatan yang lebih visioner, Dinas Perhubungan dapat bertransformasi dari sekadar pengawas menjadi mitra pengembangan bagi para pelaku usaha transportasi laut tradisional.

Tidak ada lagi waktu untuk menunda. Pelabuhan Rum dan para pelaut speedboat-nya telah membuktikan ketangguhannya sebagai urat nadi transportasi dan ekonomi masyarakat. Kini, tanggung jawab kita bersama untuk memastikan bahwa ketangguhan ini tidak hanya mengandalkan semangat gotong royong semata, tetapi juga didukung oleh sistem yang benar-benar bekerja. Dengan kolaborasi nyata antara pemerintah, komunitas pelaut, dan seluruh pemangku kepentingan, transformasi menuju transportasi laut yang lebih aman, terjamin, dan berkelanjutan bukanlah mimpi belaka.

Inilah saatnya menulis babak baru di mana setiap kapal yang berlayar tidak hanya membawa penumpang dan barang, tetapi juga membawa harapan akan masa depan yang lebih baik untuk seluruh masyarakat pesisir Tidore.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *